Oleh : Hany Handayani P, S.P

Aktivis Muslimah Tangerang


Semua negara di belahan dunia berpacu dan berlomba agar bisa menyelamatkan rakyatnya dan mempertahankan kondisi negaranya demi keberlangsungan negara tersebut. Naluriahnya memang seperti itu sebab negara mana yang tak mengharapkan keberhasilan dalam menangani pandemi saat ini. Virus Covid-19 yang entah disengaja atau tidak penyebarannya di seluruh dunia, membuat goncang semua negara tak terkecuali Indonesia sebagai negara berkembang. Mulai dari sektor kesehatan, pendidikan bahkan sektor ekonomi pun akhirnya kena imbas resesi dari penyebaran virus ini. 


Ditengah semua kegaduhan yang terjadi akibat virus, kabar baik justru datang dari WHO untuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengundang Menkes Terawan Agus Putranto untuk mengikuti konferensi pers bersama secara virtual pada Jumat, 6 November 2020. Hal itu pun mendapat tanggapan dari Anggota Komisi IX DPR, Rahmat Handoyo. Menurutnya, itu adalah bentuk penghargaan yang luar biasa, tanpa rekayasa, dan tanpa settingan. Karena yang memberi penghargaan adalah WHO, badan kesehatan dunia yang berada dalam wadah PBB. Dilansir dari gardaindonews. 


Hal ini pun disambut hangat oleh pemerintah pusat lainnya tak terkecuali Presiden Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia dinilai berhasil dalam menangani pandemi Covid-19 oleh WHO. Sebuah pencapaian luar biasa jika hal ini memang benar. Di tengah kondisi korban yang semakin hari semakin bertambah sebab virus Corona, Indonesia justru mendapatkan apresiasi dari pihak lain berkaitan sepak terjangnya Tangani c

Covid-19. 


Sempat tergelitik dengan sebuah penghargaan tersebut, lantaran keberhasilan mana yang dimaksudkan oleh WHO. Apakah dari sisi pencegahan virus, pasca virus menyebar atau keberhasilan menekan angka korban dari sisi data. Sebab jika di tinjau dari sisi pencegahan, Indonesia justru tergolong negara yang terbuka dan loss control. 


Hal ini bisa kita lihat dari respon pemerintah saat awal-awal virus ini muncul ke permukaan. Di saat negara-negara maju menutup akses jalur transportasi dan melakukan aksi lockdown. Indonesia justru mengiklankan diri sebagai negara yang welcome terhadap para turis guna meningkatkan pariwisata. Padahal hal tersebut merupakan penyebab utama awal terjadinya bencana besar itu. Tanpa ada aturan ketat mengenai jalur keluar masuknya orang yang transit justru menjadi peluang besar penyebaran virus covid-19 di Indonesia. 


Epidemiolog dari Griffith University di Australia Dicky Budiman pun tak yakin undangan Badan Kesehatan Dunia (WHO) kepada Menkes Terawan Agus Putranto terkait keberhasilan penanganan Covid-19 di Indonesia. Menurutnya dari isi surat undangan yang didapatnya, tidak ada pernyataan keberhasilan Indonesia dalam pengendalian pandemi. 


Undangan tersebut hanya mengakui keberhasilan indonesia dalam menerapkan kegiatan intra-aksi (intra action review/IAR) Covid-19. IAR merupakan kegiatan perencanaan Indonesia dalam menganggulangi Pandemi Covid-19. Tujuannya agar setiap negara bisa mawas diri terhadap capaian dan kekurangan dalam pengendalian pandeminya.


"Jadi undangan konferensi pers itu bukan dalam arti mengakui keberhasilan Indonesia dalam pengendalian pandeminya, tapi apresiasi karena telah melaksanakan kegiatan review IAR yang dianggap 'sukses'," ujar Dicky. Dikutip dari kompas.com.


Nampak jelas dari pernyataan Dicky, bahwa peristiwa undangan dari WHO justru diplintir oleh penguasa demi kepentingan politiknya. Dari apresiasi yang telah diberikan WHO, penguasa berkilah bahwa ini semua adalah buah dari kerja keras selama menangani pandemi. Seakan sudah seirama mulai dari menteri hingga pucuk pimpinan tertinggi Indonesia, semua sibuk mengklaim keberhasilan penanganan virus Corona di Tanah Air. Semua sibuk mengolah kata, data, dan informasi sehingga akhirnya memberikan ilusi fakta. Ilusi bahwa Indonesia Berhasil tangani pandemi dan diberi sebuah penghargaan. (bisnis.com)


Wajar jika hal tersebut terjadi di sistem demokrasi. Lantaran watak dari pelaku sistem ini tak jauh dari tipu muslihat demi mempertahankan kursi kekuasaannya. Mereka tak sungguh-sungguh dalam mewujudkan kemaslahatan rakyat. Segala upaya dipoles hingga apik agar tersaji data dan informasi yang menggambarkan keberhasilan pemerintah saat ini atasi pandemi. 


Namun rakyat saat ini sudah cerdas, mereka sudah mampu berfikir kritis. Mereka mampu merasakan keganjilan yang ada demi menutupi kebohongan. Mereka sendiri yang merasakan dan menilai berhasil atau tidaknya pemerintah dalam hal ini. Maka demi wibawa pemerintah agar kepercayaan rakyat meningkat, sebaiknya pemerintah beralih dari sistem saat ini kepada sistem Illahi yang mampu menuntun negeri ini sesuai dengan nalurinya, yakni melindungi dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya yang sudah lama dirindukan. 


“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Surat Al Ahzab ayat 36)


Wallahu a'lam bishawab.

 
Top