Oleh : Verawati S.Pd

(Pegiat Opini dan Praktisi Pendidikan)


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki

Penuh darah penuh nanah

Bait pertama lagu Ibu karya Iwan Fals tersebut seolah mewakili gambaran perjuangan Ibu saat ini. Kini tugas Ibu tidak hanya di dalam rumah, akan tetapi di luar rumah (bekerja) demi rupiah. Himpitan ekonomi adalah pendorong utama banyak ibu dan wanita untuk bekerja. Pengorbanannya lebih dari sekadar meninggalkan anak dan keluarga di rumah. Akan tetapi, hingga mengalami berbagai kesulitan dan kesakitan, bahkan nyawa yang ada dalam kandungannya melayang.  

Dilansir oleh media theconversation.com, 18 Maret 2020. Elitha, pekerja Aice berusia 25 tahun ini sudah berusaha mengajukan pemindahan divisi kerja karena penyakit endometriosisnya kambuh. Tapi apa daya, perusahaan justru mengancam akan menghentikannya dari pekerjaan. Elitha terdesak dan tidak punya pilihan lain selain terus bekerja. Akhirnya, dia pun mengalami pendarahan hebat akibat bobot pekerjaannya yang berlebihan. Elitha terpaksa melakukan operasi kuret pada Februari lalu, yang berarti jaringan dari dalam rahimnya diangkat. 

Pada media yang sama, Sarinah Juru Bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR), yang mewakili serikat buruh Aice, menyatakan bahwa sejak tahun 2019 hingga saat ini sudah terdapat 15 kasus keguguran dan enam kasus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tak bernyawa dialami oleh buruh perempuan Aice.

Sungguh miris. Ibu atau wanita dijadikan tulang punggung perekonomian keluarga tanpa perlindungan yang kuat. Meski ada lembaga serikat buruh, akan tetapi  posisi mereka hanya sekadar mengingatkan dan memberikan saran hingga kecaman. Adapun keputusannya kembali kepada perusahaan.

Terlebih-lebih kini sudah disahkannya Undang-Undang Cipta Kerja yang semakin menghilangkan perlindungan terhadap pekerja termasuk pekerja wanita. Misal peraturan tentang cuti haid, yang sebelumnya mendapatkan izin selama dua hari dan dibayar penuh oleh perusahaan. kini aturan tersebut dihapuskan. Aturan lain yang ada dalam UUD Ciptaker yang menurunkan perlindungan perempuan adalah penambahan jam kerja. Artinya wanita bisa lebih lama bekerja di pabrik atau sektor-sektor lainnya. Hal ini tentu akan berdampak pada kesehatan dan keamanan pada pekerja wanita.

Fakta ini menunjukkan bahwa negara berlepas tangan terhadap kesulitan ibu dan rakyat pada umumnya. Begitulah watak sistem demokrasi-kapitalisme yang saat ini diterapkan di negeri ini. Sumber-sumber kekayaan dan sumber daya manusia diserahkan pada swasta (kapital). Sudah barang tentu watak kapitalis, dengan slogannya yaitu dengan modal yang kecil bisa mendapatkan untung yang sebesar-besarnya akan berjalan. Dan yang paling bisa ditekan adalah para pekerjanya.

Berbeda dengan Islam. Islam menjadikan wanita pada posisinya yang mulia. Tugasnya adalah menjadi ibu dan pengatur urusan keluarga. Ibu adalah pendidik pertama dan utama yang akan menghantarkan anak-anaknya menjadi orang-orang yang berguna bagi agama dan negara. Maka dalam Islam seorang ibu atau wanita tidak dibebankan untuk mencari nafkah. Tugas ini hanya diwajibkan kepada para lelaki. Adapun jika ibu atau wanita ingin bekerja hukumnya mubah. Tujuannya utamanya bukan mencari upah, melainkan mengamalkan ilmu dan menjadikan amal saleh.

Tentu kebolehan ini juga diatur dan dijaga sedemikian rupa. Seperti wanita hanya dipekerjakan pada bagian-bagian yang bisa dilakukan oleh tenaga wanita dengan jam yang tidak terlalu lama. Sehingga seorang wanita yang bekerja masih bisa menjalankan fungsi utamanya yaitu ummu warobbatul bait di rumahnya. Saat wanita bekerja pun diwajibkan untuk tetap menutup aurat dengan penutup yang sempurna, interaksi sosialnya dijaga artinya tidak melakukan ikhtilat atau campur baur dengan pekerja pria. Sehingga akan aman dari kasus pelecehan terhadap wanita.

Selain itu, negara akan memberikan seluas-luasnya pekerjaan untuk para laki-laki dan menyediakan sandang pangan dan papan secara murah berkualitas bahkan gratis. Negara juga akan memberikan jaminan terhadap keamanan dan kesehatan serta pendidikan bagi warganya. 

Semua aturan di atas akan dapat diterapkan hanya dalam sistem Daulah Khilafah. Sistem yang menerapkan hukum Allah secara menyeluruh. Aturan ini akan menjamin kesejahteraan bagi seluruh manusia. Sebagaimana firman-Nya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (TQS. al-‘Araaf : 96) 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top