Oleh : Neny Nuraeny 

Ibu Rumah tangga  dan Pendidik Generasi 


RUU Larangan minuman beralkohol kembali menjadi perbincangan di dunia maya dalam sepekan terakhir. Maraknya keadaan tersebut disebabkan oleh Badan Legislasi (Baleg) DPR RI memulai lagi proses pembahasan RUU tersebut dengan mendengar penjelasan dari pengusul pada 10 November 2020 lalu. 

Draf RUU Larangan Minol adalah larangan kepada siapa saja untuk memproduksi, memasukkan, menyimpan, mengedarkan dan/atau menjual serta mengonsumsi minuman beralkohol (minuman keras). Kecuali untuk ‘kepentingan terbatas’, seperti kepentingan adat, ritual keagamaan, wisatawan, farmasi dan tempat-tempat yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan.

Para pelanggar larangan-larangan tersebut akan dipidana penjara minimal dua tahun. Paling lama sepuluh tahun. Sedangkan masyarakat yang mengonsumsi minol akan dipidana penjara minimal tiga bulan dan paling lama dua tahun.

Dikutip dari draft RUU Larangan Minol (dpr.go.id) disebutkan tujuan dari RUU tersebut adalah melindungi masyarakat dari dampak negatif yang dipengaruhi oleh minuman beralkohol; menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya minuman beralkohol; serta menciptakan ketertiban dan ketenteraman di masyarakat dari gangguan yang ditimbulkan oleh peminum minuman beralkohol.

Dengan demikian tampak sekali betapa pemerintah sangat memperhatikan keuntungan bisnis para kapitalis dibanding kepentingan penjagaan moralitas rakyatnya.

Secara lahiriah manusia pada umumnya menilai sesuatu dari dampaknya, akan mendapatkan manfaat atau madarat/dharar (bahaya). Jika dirasakan manfaatnya, ia akan menyebutkan baik (khayr). Sebaliknya, jika sesuatu dinilai mendatangkan madarat, ia akan disebut buruk (syarr).

Standar itulah yang saat ini dianggap penting sehingga akan digunakan untuk membedakan mana yang baik dan buruk. 

Hal di atas terjadi disebabkan kini kita hidup di alam kapitalis demokrasi sekuler. Cermin dari penguasanya cenderung mementingkan keuntungan kelompok atau pribadi.

Paham sekularisme sangat meracuni pikiran manusia. Ia menitik beratkan pada nafsu manusia. Sementara hawa nafsu manusia jika dijadikan sebagai patokan akan sangat berpengaruh buruk bagi kelangsungan hidup manusia. Ketika hawa nafsu menjadi acuan, yang disukai akan dicari dan yang tidak disukai akan dihindari.

Kelompok sekuler yang mengedepankan keuntungan, selalu menganggap baik selama itu terlihat bermanfaat bagi pendapatan negara. Memproduksi, mengedarkan, menjual dan mengonsumsi dijadikan salah satu solusi untuk meningkatkan perekonomian negara. Namun para kaum sekuler tidak memperhatikan dampak buruk dari miras tersebut yang akan menghancurkan generasi muda khususnya dan masyarakat umum. Dengan beredarnya miras dan sebagainya tentu akan mengacu pada meningkatnya persentase kriminalitas. Bahkan tidak hanya itu rusaknya moralitas dan kehidupan sosial pun akan semakin kacau.

Hal yang paling membahayakan jika paham sekularisme disahkan melalui sistem demokrasi, maka yang akan terjadi adalah kerusakan yang bersifat sistemik di kalangan masyarakat.

Dengan demikian penilaian baik dan buruk tentu tidak bisa mengacu pada hawa nafsu manusia. Manusia tidak akan bisa menilai dampak manfaat maupun madarat sesuatu. Dimana pada akhirnya akan berdampak buruk untuk kehidupan manusia. 

Demikian berbanding terbalik dengan Islam. Dimana memiliki standar penilaian baik-buruknya sesuatu menggunakan prinsip halal dan haram. Halal berarti itu baik dan harap berarti itu buruk tanpa melihat dari segi manfaatnya dalam pandangan manusia.

Allah Swt. berfirman: 

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

"Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui." (TQS. al-Baqarah [2]: 216)

Penilain syariah bahwa miras itu jelas haram hukumnya. Standar haram tersebut sesuai dengan firman Allah Swt.:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

"Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas suatu syariah (peraturan) dari urusan (agama itu). Karena itulah ikutilah syariah itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak tahu." (TQS al-Jatsiyah [45]: 18)

Memproduksi, mengedarkan, menjual dan mengkonsumsi minuman keras atau minuman beralkohol jelas haram. Karena itu miras/minol harus dijauhi. Inilah yang Allah Swt. tegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, sungguh (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah semua itu agar kalian mendapat keberuntungan." (TQS. al-Maidah [5]: 90)

Menentukan baik dan buruk dalam sistem Islam, pemerintah dan seluruh rakyat wajib mengacu pada syariah. Jika sesuatu  dinyatakan haram menurut syariah Islam, maka pasti  akan menimbulkan bahaya (dharar) di tengah masyaraka termasuk miras/minol. Oleh karena itu miras/minol harus dilarang keras secara menyeluruh.

Menolak larangan miras/minol secara total dengan alasan apapun, termasuk alasan bisnis serta investasi, adalah perbuatan buruk dan pasti mendatangkan azab Allah Swt. 

Wallaahu a’lam bi ash-shawaab.

 
Top