Oleh : Cebiana Nur Andini


Pandemi Covid-19 sudah berjalan lebih dari delapan bulan, tetapi belum ada tanda-tanda penularan virus corona dapat dikendalikan. Data pemerintah memperlihatkan bahwa penularan virus corona masih terjadi, sehingga masih ada penambahan kasus Covid-19 hingga saat ini. (Kompas.com, 10/11/2020)

Epidemiolog menilai Indonesia belum berhasil menangani pandemi Covid-19, karena indikator penanganan Indonesia masih 16 persen. Menurut Dicky Budiman, epidemiolog dari Universitas Griffith, persentase itu merujuk pada Intra-Action Review (IAR). Ia membeberkan Indonesia baru memenuhi 12 indikator dari 72 indikator sebuah negara berhasil mengendalikan pandemi.

"Evaluasi dari Intra-Action Review terlihat bahwa Indonesia baru 16 persen melaksanakan apa yang direkomendasikan," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/11).

Seperti yang pernah disampaikan oleh orang nomor satu di Indonesia dalam pidatonya, beliau menyampaikan ukuran keberhasilan dari penanganan Covid-19 adalah banyaknya data  pasien yang sembuh di beberapa kota. Namun bertentangan dengan hal itu, menurut para pakar data tersebut bukanlah menjadi acuan, akan tetapi yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah adalah berupa pencegahan, yakni penjagaan protokol kesehatan dan meminimalisasi kesenjangan sosial di tengah masyarakat. 

Pandemi Covid-19 membuat pemerintah ibarat memakan buah simalakama, jika PSBB diberlakukan di seluruh daerah, maka PHK secara besar-besaran akan terjadi setiap waktunya, dan resesi ekonomi takkan terelakkan dalam waktu dekat. Inilah yang membuatnya mengumpulkan para pakar ekonomi dengan mengambil teori herd immunity dari tenaga medis yang sehati dengannya. 

Selain itu pembagian zona hijau, kuning dan merah untuk membagi tingkat penyebaran sampai saat ini belum dapat dilakukan karena pertimbangan dana yang dikeluarkan untuk penyediaan tes swab 200 juta rakyat Indonesia. Dana swab tak mampu diusahakan, tetapi dana 408 Miliar untuk mengatasi aksi unjuk rasa di tengah pandemi dalam memprotes kebijakan UU Cipta Kerja bisa digelontorkan secara cepat demi kepentingan pihak-pihak tertentu dan itu sungguh menyakiti hati rakyat. 

Dana yang minus untuk tes swab, membuat biaya swab yang dikeluarkan secara pribadi cukup menguras dompet rakyat. Alhasil fasilitas tes swab ini hanya dapat dinikmati oleh beberapa tingkatan masyarakat tertentu saja dan karyawan yang ditanggung kesehatannya oleh perusahaan-perusahaan besar.

Memang ada swab gratis dan hasilnya keluar tidak sampai sehari, seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan. Namun sayangnya tidak semua daerah memiliki keberuntungan demikian. Di Kota-kota besar lain hasil swab memakan waktu hingga 3 hari, itu pun harus memaksakan diri ke rumah sakit terdekat untuk menghemat biaya meskipun kondisi badan pasien Covid-19 cukup menderita. Akhirnya pemerintah mengambil jalan tengah tanpa menimbang saran yang yang diajukan oleh para tenaga medis yakni dengan tes rapid yang hasilnya diragukan. 

Dampak dari lambannya penanganan Covid-19 membuat masyarakat jengah dan menganggap remeh Covid-19 dengan berkumpul tanpa memperhatikan protokol keamanan yang telah disampaikan melalui media sosial. Keterpurukan ekonomi dengan prinsip lebih baik mati syahid dari pada anak istri kelaparan di rumah telah menjadi bagian dari mereka. Bahkan poster pengumuman yang dipasang di pinggir-pinggir jalan tentang pentingnya menggunakan masker tak membuat masyarakat bergerak dan sadar. Hal ini terjadi karena poster tersebut dianggap slogan saja tanpa disertai sanksi yang cukup tegas. Jikalau sanksi itu ada, ia hanya beredar di beberapa daerah saja. Pemberian bantuan sosial pun terkadang salah target karena data yang tidak terupdate, atau penerima bansos telah meninggal dunia atau pindah rumah.

Selain itu dengan adanya isu rumah sakit yang memalsukan riwayat penyakit pasien dan menyamaratakan semuanya dengan Covid-19, membuat masyarakat semakin yakin bahwa Covid-19 tidak ada dan hanya isu yang dibuat demi keuntungan rumah sakit dan para tenaga medis yang bekerja. Anggapan bahwa pandemik ini hanyalah sebuah konspirasi sesuai info yang beredar di media sosial menambah telak hancurnya kepercayaan yang mereka miliki selama ini terhadap Covid-19. Pihak yang paling dirugikan di sini adalah para tenaga medis yang bekerja siang dan malam sebagai pertahanan di garda terdepan dalam menghadapi pandemik yang tak kunjung berakhir ini. Kebijakan-kebijakan yang jauh dari harapan membuat posisi para tenaga medis menjadi semakin serba salah. Penghargaan atas kerja mereka seakan hilang di tengah hoax yang berhembus tanpa penghalang. 

Kemelut masalah yang berkecamuk tanpa ada ujungnya saat ini disebabkan sistem demokrasi buatan manusia. Sebuah aturan dimana manusia sebagai pemilik kedaulatannya, sedangkan manusia merupakan makhluk lemah dengan keterbatasan akal dalam menembus ruang dan waktu. Berbagai karakter yang menopang aturan tersebut takkan memberikan solusi tuntas dan tepat, logikanya tips pengasuhan anak oleh si fulan hanya cocok untuk segelintir keluarga saja tidak mencakup semua keluarga dengan perbedaan bahasa dan negara. 

Sistem demokrasi kapitalis dengan solusi yang digadang-gadang menjadi penyelamat dengan meningkatkan kualitas ekonomi dengan cara apa pun ini justru menomorduakan keselamatan manusia dengan mekanisme kerja yang memaksa untuk tetap beraktivitas di luar rumah meski di tengah pandemi yang tengah terjadi.

Solusi Islam

Islam dikatakan rahmatan lil’alamin, karena berlaku untuk seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi. Karena itu sudah seharusnya para pemimpin saat ini segera menyadari akar persoalan yang sesungguhnya. Tidak hanya melihat masalah di atas permukaannya saja akan tetapi juga mencari akar masalah yang selama ini menggerogoti,untuk diobati secara tuntas tanpa menambah bercak noda lainnya.  

Islam bukan hanya sekadar ibadah ritual yang mengurusi ranah spritual manusia secara privat di dalam kehidupannya. Namun, Islam merupakan sistem yang sempurna yang mencakup semua aspek di dalam kehidupan manusia.

Mengembalikan semua aturan yang saat ini dipegang oleh manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyelesaikan pandemi Covid-19 merupakan cara yang terbaik dan benar serta masuk akal. Mengapa? Solusi yang ditawarkan Islam tidak mengedepankan hawa nafsu manusia, tetapi solusi tersebut merupakan wahyu yang diberikan kepada Allah melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam yang termaktub dalam Al-Qur’anul Kariim. 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu …” (QS. al-Maa-idah : 3)

Resesi ekonomi sekaligus wabah penyakit pernah terjadi pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab, dimana ekonomi yang merujuk pada bidang pertanian dan perdagangan hancur karena musim kemarau yang cukup panjang di Madinah,  para ulama menyebutnya ‘am ramadha atau tahun kekeringan. Ujian lainnya yang dihadapi oleh beliau adalah wabah penyakit di negeri Syam yang memakan 30,000 korban jiwa termasuk para sahabat beliau. Oleh karena itu Khalifah Umar bin Khaththab melakukan tahapan penting dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada saat itu.

Beberapa hal yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab sebagai berikut:

1. Beliau menguatkan rakyatnya untuk menerima dan bersabar atas ketetapan Allah, melaksanakan salat tobat serta anjuran kepada rakyatnya untuk menghindari maksiat demi turunnya pertolongan Allah atas mereka.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, 

     وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِين

“Sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Karena itu gembirakanlah orang-orang yang sabar.” (TQS. al-Baqarah [2] : 155)

Khalifah Umar ketika menghadapi wabah, seperti seruan beliau kepada rakyatnya:

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dalam diri kalian, dan dalam urusan kalian yang tidak terlihat oleh manusia. Karena sesungguhnya aku diuji dengan kalian dan kalian diuji denganku. Aku tidak tahu apakah kemurkaan itu ditujukan kepada diriku dan bukan kepada kalian atau kemurkaan itu ditujukan kepada kalian dan bukan kepada diriku atau kemurkaan itu berlaku umum kepadaku dan juga kepada kalian. Karenanya, marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah agar Dia memperbaiki hati-hati kita, merahmati kita, dan mengangkat bencana ini dari kita.”

2. Mengumpulkan sumber daya manusia terbaik untuk memberikan masukan atas kondisi yang terjadi.

3. Setelah diputuskan jalan yang terbaik atas masalah ini, Khalifah Umar bin Khaththab mengarantina wilayah yang terkena wabah dan memusatkan serta mengumpulkan bahan pokok di Madinah dan mendistribusikannya ke seluruh daerah supaya tidak terjadi penimbunan.

4. Membuka ruas jalan perdagangan melalui laut tanpa melalui Syam yang saat ini sedang dilanda wabah penyakit mematikan.

5. Memangkas fasilitas para pejabat demi penghematan untuk melalui resesi ekonomi.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, 

«أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا»

Orang yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Amalan yang paling Allah cintai adalah membahagiakan orang muslim, mengangkat kesusahan dari dirinya, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku cintai daripada beritikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh. (HR. ath-Thabarani)

Jika diumpamakan zaman sekarang, kaum muslimin seharusnya lebih peka terhadap sesama bukan dengan membeli tanaman-tanaman mahal daripada membantu sesama yang kekurangan biaya dalam memenuhi kebutuhan perutnya. 

6. Menjadikan gandum sebagai bahan makanan pokok manusia bukan unta yang saat itu unta sangat ditinggikan karena berharga. Umar bin Khaththab menyampaikan nyawa manusia lebih penting, jikalau perlu unta pun bisa dikonsumsi demi berlangsungnya nyawa manusia. 

Artinya di sini, kesehatan dan daya tahan tubuh manusia dalam menghadapi pandemi lebih diutamakan. Kualitas makanan yang masuk lebih diperhatikan daripada banyaknya kuantitas tetapi tidak berkualitas. 

Demikian solusi yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan wahyu Allah Subhanahu wa ta'ala.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top