Oleh : Yani Rahmawati

(Ibu Generasi Peduli Umat)


Penderitaan yang menimpa kaum muslim Rohingya masih terjadi sampai saat ini. Tragedi yang berulang seakan tidak pernah berhenti menimpa mereka, perlakuan yang kejam terhadap warga etnis Rohingnya terjadi secara sistematis, seperti pemerkosaan dan pembunuhan terhadap wanitanya, anak-anak mati dengan kepala terpenggal, pengusiran, pembakaran dan pengeboman terhadap rumah mereka dilakukan oleh militer, dan berbagai kekejaman lain yang dilakukan pemerintah Myanmar yang didukung kelompok ekstrimis Budha, sehingga menyebabkan ribuan nyawa  melayang.  

Upaya genosida terhadap etnis Rohingnya oleh junta militer Myanmar ini adalah tragedi kemanusiaan yang amat besar, namun tidak ada satu negara pun yang bertindak nyata memberi solusi atas tragedi ini padahal PBB telah menyatakan bahwa muslim Rohingya sebagai entitas yang paling menderita di seluruh dunia. Tapi nyatanya PBB tak memberikan tindakan yang tegas terhadap pemerintahan Myanmar.  

Akibat berbagai kekerasan yang terjadi membuat kaum muslim Rohingya pergi meninggalkan Myanmar, mereka di antaranya pergi ke Indonesia, Malaysia, Bangladesh dan Arab Saudi.

Saat ini pengungsi Rohingnya di Bangladesh, telah dikirim ke sebuah pulau bernama Bhasar Chan oleh pemerintah Bangladesh, karena pemerintah Bangladesh tidak mau terbebani. Padahal menurut kelompok-kelompok pegiat HAM wilayah ini rawan bencana alam dan tidak cocok untuk pemukiman manusia. Dan lagi  pengungsi sendiri sebenarnya mereka tidak mau dipindahkan.

Nasionalisme Penyekat Kaum Muslim

Penderitaan kaum muslim saat ini adalah bukti kecacatan nasionalisme yang diagung-agungkan. Ikatan nasionalisme nyatanya tidak mampu menjaga rasa keamanan hidup manusia. Rasa nasionalisme telah mematikan ukhuwah Islamiyah kaum muslim.  Terbukti para pemimpin Islam menjadi tidak peka terhadap nasib saudaranya, mereka berlepas diri dari tanggung jawab sebagai pemimpin dengan berlindung pada "noninterperence policy", yaitu tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

Nasionalisme (bangsa-bangsa) adalah pangkal matinya ukhuwah Islamiyah kaum muslim, sehingga melahirkan para pemimpim Islam yang lemah dalam mewujudkan kedaulatan kaum muslim dan membebaskan pengungsi Rohingnya dari penderitaannya. Sekat nasionalisme membuat kaum muslim tidak dapat menjalankan salah satu apa yang yang diperintahkan Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Padahal Rasulullah saw. bersabda, "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur." (HR. Bukhari Muslim) 

Sesungguhnya sebagai seorang muslim kita harus memberi perhatian lebih pada kasus Rohingnya, karena peristiwa ini bukan hanya persoalan kemanusiaan tetapi karena persoalan agama. Etnis Rohingya adalah bagian kaum muslim. Bagian tubuh kaum muslim lainnya.

Nyatanya PBB, UNHCR, HRW, OKI adalah lembaga-lembaga dunia yang diberi mandat untuk melindungi, mengadvokasi dan menyelesaikan masalah-masalah HAM dan pengungsi seluruh dunia tidak berbuat apa-apa dalam masalah ini. Mereka setengah hati dalam menyelesaikan masalah Rohingya, tidak ada tindakan/solusi fundamental.

Karena sistem demokrasi kapitalisme yang dianut dunia saat ini landasannya adalah materi, dan untuk menyelesaikan Rohingnya dibutuhkan dana dan tenaga yang besar. Maka dunia hanya mengecam atas tragedi yang terjadi di Rohingya.  

Inilah potret nyata dunia yang didominasi sistem kapitalisme, segala sesuatu dilakukan ketika ada keuntungan semata, baik keuntungan politik atau ekonomi.

Sistem Islam Solusi Rohingya

Solusi satu-satunya yang dapat menyelesaikan masalah Rohingya dan kaum muslim di mana pun yang saat ini sedang mendapat tekanan karena sebagai warga minoritas adalah sistem yang sangat menghargai nyawa manusia, yaitu sistem Islam (khilafah).  Mengapa?

Karena landasan khilafah adalah akidah Islam, yang mengurusi urusan rakyat semata-mata menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, tidak memperhitungkan untung rugi tapi berdasarkan keimanan. Tidak seperti sistem demokrasi kapitalis saat ini ketika bertindak hanya berdasar untung rugi saja.

Mekanisme yang dilakukan khilafah dalam menangani persoalan Rohingya adalah,

Satu, Khilafah akan menyatukan negeri-negeri muslim dan menghapus garis perbatasan. Khilafah adalah negara kesatuan yang dipersatukan dengan penerapan syariat Islam. Keamanan ada di tangan kaum muslim dan tidak dibatasi garis-garis teritorial, maka kaum muslim Rohingya akan dipersatukan dengan kaum muslim lainnya.

Dua, Khilafah akan menggunakan seluruh perangkat negara termasuk mobilisasi militer untuk membela kaum muslim yang tertindas. Yang dapat menghadapi kekejaman militer Myanmar adalah pasukan kaum muslim.

Tiga, menerapkan paradigma kewarganegaraan Islam dalam masyarakat. Muslim Rohingya akan diberikan kewarganegaraan yaitu warga negara khilafah.

Khilafah tidak akan menerapkan diskriminasi berdasarkan etnis, bangsa, warna kulit, ataupun keyakinan dalam memberikan kewarganegaraan.  Dilarang membedakan antara warga negara dalam hal apa pun. Semua warga negara dalam khilafah diperlakukan setara tanpa memandang agama, ras atau lainnya. Mereka semua harus bisa menikmati keadilan Islam. Bencana kemanusiaan yang menimpa kaum muslim yang terjadi saat ini adalah karena tidak adanya junnah/perisai yang melindungi kaum muslim, yaitu Khilafah.

Wallahu a'lam Bishshawab.

 
Top