Derita Petani yang Belum Usai


Oleh : Annisa Mutiani


Sejak meluasnya wabah Covid-19 di Indonesia, sektor pertanian termasuk sektor yang terpukul cukup parah. Ketersediaan pangan yang menurun mendorong para petani untuk terus memproduksi kebutuhan pangan.

Dalam rangka mempermudah pengendalian distribusi khususnya untuk memonitor apa yang terjadi di lapangan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran mengeluarkan sebuah teknologi bagi para petani berupa Kartu Tani. (Dara.co.id, 25/11/2020)

Dengan adanya Kartu Tani dan pemasaran produk via online, para petani dipaksa untuk melek teknologi. Padahal, sebagian besar dari mereka adalah seorang paruh baya yang tidak mampu menguasai teknologi. Bahkan, gawai pun jarang mereka miliki. Sehingga, mustahil mereka dengan cepat dapat mengoperasikan Kartu Tani.

Derita petani bertambah kembali. Bagi mereka, hidup layak dan sejahtera saja bagaikan mimpi yang sulit untuk dijangkau. Lebih-lebih, banyak para petani yang akhirnya meninggalkan pekerjaannya lantaran kehidupan yang tidak menjanjikan.

Meski penguasa terus berganti, kemiskinan yang mendera petani belum juga teratasi. Pasalnya, kebijakan impor hanya menguntungkan korporasi saja, sedangkan para petani hanya memakan ampas. Korporasi membeli kepada petani dengan harga murah, namun mereka menjual kepada konsumen dengan harga yang cukup mahal.

Hal ini disebabkan karena penerapan sistem kapitalis neoliberal yang buruk. Sistem tata kelola inilah yang menyebabkan harga pangan dikendalikan oleh korporasi raksasa. Sementara itu, pemerintah acap kali berpihak kepada korporasi dibandingkan kepada petani.

Pengaturan pertanian kapitalis sangat berbeda dengan Islam. Islam bukan hanya agama yang mengatur habluminallah dan habluminannafs saja, akan tetapi Islam merupakan sebuah ideologi yang terpancar darinya aturan. Diinul Islam mengatur mulai dari hulu hingga hilir, tak terkecuali perihal pertanian.

Aturan Islam yang berpacu kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah mustahil memiliki kecacatan karena terbukti mampu menyejahterakan masyarakat selama berabad-abad lamanya.

Bila konsep pertanian Islam diterapkan, maka akan mampu mempertahankan ketahanan pangan dan mengatasi segala derita petani. Dengan demikian, tidak ada solusi lain untuk menyelesaikan problematik ini selain dengan menerapkan Islam secara kafah dalam naungan Khilafah Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.