Demokrasi Kapitalisme Mematikan Nurani


Oleh : Yuli Ummu Raihan

Member AMK dan Pemerhati Kebijakan Publik


Nofeli Lahagu alias Ama Fina tidak pernah menyangka, saat dirinya kembali ke rumah usai memberikan hak suara dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Nias Utara, 9 Desember 2020 lalu, mendapati ketiga buah hatinya sudah terkapar tidak bernyawa.

Diduga mengalami stres karena kondisi ekonomi, istrinya MT tega menghabisi nyawa ketiga buah hati mereka yaitu, YL (5 tahun), SL (4 tahun), dan DL (2 tahun). Usai mengeksekusi ketiga buah hatinya, ML sempat beberapa kali mencoba bunuh diri. ML menyayat lehernya sendiri dengan menggunakan parang, kemudian dicegah oleh suaminya sehingga Nofeli Lahagu mengalami luka pada leher depan. Setelah kejadian ini, MT menolak setiap kali diberi makan, selalu muntah-muntah yang akhirnya ia dirujuk ke RSUD Gunungsitoli. MT sempat dirawat selama beberapa hari. Dokter umum piket RSUD Gunungsitoli menyatakan MT meninggal dunia pada Minggu pagi 13 Desember 2020, sekitar pukul 06.10 WIB. (Viva.co.id, 13/11/2020)

Miris, seorang ibu yang seharusnya menjadi tempat teraman dan ternyaman bagi anak-anaknya, justru mengekskusi darah dagingnya sendiri. Perbuatannya ini telah menyalahi fitrah seorang ibu dan tidak logis. Apa pun alasannya, menghilangkan nyawa manusia dengan sengaja adalah perbuatan yang terlarang dan tercela. Apalagi bagi seorang muslim, menghilangkan nyawa seseorang tanpa dibenarkan syara' adalah perbuatan yang termasuk dosa besar.

Namun, kita perlu mengkaji penyebab fenomena ini. Mengapa seorang ibu bisa kehilangan nurani? Dalam kasus ini, si ibu adalah pelaku sekaligus korban. Korban dari penerapan sistem kehidupan yang saat ini diterapkan di negeri ini. Sistem yang menjauhkan seorang ibu dari kodrat dan fitrahnya.

Seorang ibu dihadapkan pada berbagai masalah, seperti pekerjaan domestik rumah tangga yang tidak ada habisnya, berbagai tingkah pola anak-anaknya, pengaruh lingkungan, kurangnya ilmu agama, kurangnya perhatian orang terdekat terutama suami, ekonomi yang serba kekurangan, ditambah pandemi saat ini membuat ibu tidak siap menerima kondisi yang tidak ideal. Tekanan fisik dan psikis tidak sedikit membuat seorang ibu gelap mata melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan syara'.

Lebih miris lagi, kejadian ini bertepatan dengan gelaran pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 9 Desember lalu. Di saat sang suami sedang menyalurkan hak suaranya untuk memilih pemimpin baru yang diharapkan akan memberi harapan hidup baru yang lebih baik, justru di saat yang sama ia kehilangan permata hidupnya. 

Gelaran pilkada yang dipaksakan di tengah pandemi ini hanya sekadar seremonial. Pergantian pemimpin dari masa ke masa, nyatanya tidak membawa perubahan berarti. Slogan dari, oleh, dan untuk rakyat hanya pemanis saja.

Ibarat mobil yang rusak, agar bisa berjalan rakyat dirayu untuk mau mendorong supaya mobil terus berjalan. Pemimpin terpilih ibarat pergantian sopir tanpa ada perbaikan terhadap mobil yang rusak ini. Setelah mobil berjalan, rakyat hanya mendapat asap yang membuat perih kehidupan mereka. Perjalanan mobil pun tidak pernah mulus, apalagi sampai pada tujuan mulia untuk menyejahterakan rakyat. Karena untuk melaju mobil butuh bensin (modal) yang tidak sedikit. Bensin ini didapati dengan berbagai kesepakatan. Sehingga tidak heran saat melaju rakyat tidak lagi diperhatikan. Kalaupun ada sedikit perhatian hanya untuk pencitraaan.

Beginilah gambaran sistem demokrasi yang masih kita pertahankan. Sistem yang sudah bobrok dan tidak layak untuk dipertahankan.

Berbeda dengan sistem Islam, yang pemimpinnya adalah pelayan bagi rakyat. Melayani rakyat dengan sepenuh hati, tanpa ada hitung-hitungan untung rugi. Dalam sistem Islam, kebutuhan pokok seperti pangan, sandang dan papan diberikan secara tidak langsung. Setiap lelaki diwajibkan mencari nafkah untuk memenuhi semua kebutuhan orang-orang yang ada dalam tanggungannya. 

Negara akan menyediakan lapangan pekerjaan yang luas dan mudah. Lelaki yang tidak mau bekerja akan mendapat sanksi dari negara. Dengan begini kebutuhan rumah tangga akan terpenuhi. 

Untuk kebutuhan lainnya seperti kesehatan dan pendidikan, negara akan menyediakan fasilitas serta layanan kesehatan dan pendidikan yang mudah didapat, murah bahkan gratis. Sehingga seorang suami tidak perlu lagi khawatir penghasilannya tidak akan cukup, serta waktunya tidak akan habis hanya untuk mencari materi dan bisa dimanfaatkan untuk hal positif lainnya, seperti menuntut ilmu, berdakwah dan memberikan perhatian serta kasih sayang penuh pada keluarganya terutama istrinya.

Untuk kebutuhan sekunder dan tersier, negera akan membuka peluang bagi semua rakyat untuk mendapatkannya. Rakyat tidak perlu pusing dan takut jika qadarullah diuji sakit. Masa depan anak-anak akan terjamin karena mendapat pendidikan yang bagus.

Sumber pembiayaan semua pelayanan ini diambil dari baitul mal. Negara Islam memiliki pos-pos pemasukan yang sudah ditetapkan syara', di antaranya fa'i, ghanimah, kharaj, kepemilikan umum seperti sumber daya alam dan zakat.

Dalam sistem Islam, penguasa akan bekerja sungguh-sungguh  untuk mengurusi rakyatnya, karena ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. 

Dari Ibnu Umar ra, Nabi Muhammad saw. bersabda:

"Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan dimintai pertangungjawaban  atas rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya, dan akan dimintai pertangggungjawaban. Seorang pembantu bertugas memelihara milik majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban. Dan kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai atas kepemimpinannya." (HR. Muslim)

Mari kita pahami dan amalkan hadis ini, agar tidak ada lagi orang yang melalaikan tanggung jawabnya.

Wallahu a'lam bishshawab.