Covid Senjata Ampuh Menjegal Lawan

 


Oleh: Ummu Najla

(Komunitas Ibu Peduli Generasi)

Gegap gempita umat menyambut kedatangan sang Ulama tercinta, Habib Riziek Shihab (HRS), berbuah petaka. Kerumunan massa yang tumpah ruah di sepanjang jalan yang di lalui HRS ini, dituding sebagai biang keladi penularan cluster baru covid. Alhasil, tak puas Polisi sebagai kepanjang tanganan Pemerintah memberikan sanksi denda 50 juta kepada FPI, karena dianggap melanggar prosedur protokol kesehatan covid. Mereka pun berupaya menyeret HRS ke jeruji besi wujud tuntutan pidana, akibat penyelengaraan Maulid Nabi dan resepsi pernikahan anaknya.

Di sisi lain, dukungan umat yang semakin tak terbendung, membuat para cebong meradang. TNI yang selama ini terkesan pro rakyat kini dirangkul untuk melawan umat. Aksi pencopotan spanduk dan baliho sang Habib pun serentak dilakukan di berbagai penjuru Ibukota. Bahkan Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman menyatakan “perang” terhadap ormas yang dianggaop melanggar hukum. Bahkan mencetuskan wacaba pembubaran FPI.

Ironisnya, pilkada dan pelanggaran lain dibiarkan tanpa tersentuh hukum dan media. Komisioner Bawaslu, Mochammad Afifuddin, menemukan ada 243 pelanggaran protokol kesehatan saat pendaftatan bakal calon. Pelanggaran tersebut seperti arak-arakan atau kegiatan yang memicu berkumpulnya banyak orang. Bahkan salah satu calonnya adalah menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution dan pasangannya Aulia Rachman yang mendapatkan nomor urut 2. Senin (29/9/2020). Suara.com

Kapitalisme, Musang Berbulu Domba

Lagi-lagi, si covid dijadikan kambing hitam untuk menjegal lawan politiknya. Sungguh sangat ketara aroma permusuhan Pemerintah terhadap umat Islam, walaupun mereka selalu menampik tuduhan itu. Namun fakta menunjukkan sebaliknya. Kampanye pilkada yang jelas-jelas melanggar protokol kesehatan covid tak tersentuh hukum sama sekali. Apalagi pelakunya orang-orang yang berpengaruh seperti menantu Presiden, misalnya. Namun jika umat Islam yang turun ke jalan selalu mendapat serangan telak dan mematikan. Beginilah mata hukum demokrasi yang tumpul di atas dan tajam menghujam ke bawah.

Mirisnya lagi, TNI yang menjadi tumpuan rakyat, justru beralih fungsi menjadi tameng Pemerintah. Padahal jelas dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, menegaskan bahwa tugas utama TNI adalah operasi militer. Selain perang harus dilaksanakan sesuai kebijakan politik negara. TNI harus fokus dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). agar kegaduhan tidak terjadi. Pasalnya, beberapa pihak menyayangkan sikap TNI yang terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal sepele daripada mengurusi makar OPM di Papua, atau aksi teror lainnya yang mengancam integritas Bangsa. Bukankah seharusnya militer menjadi pelindung umat, bukan pelindung demokrasi.

Bak musang berbulu domba, begitulah nyatanya paradok Kapitalisme. Seakan manis dan lembut dipermukaan tapi kejam dalam pelaksanaan. Aksi sikut menyikut dan menjegal lawan tak terelakkan dalam setiap event perhelatan. Demi sebuah kemenangan, cara kotorpun tak dihiraukan, semua sah dalam standart kemanfaatan. Walhasil, Islam selalu menjadi common enemy dalam setiap pertarungan.

Ahlu Quwwah Ujung Tombak Thalabun Nusrah

Sungguh, amat disayangkan jika kini militer, justru menjadi pelindung sistem bukan pelindung umat. Padahal, jika berkaca pada shirah Rasul saw, terungkap bahwa militerlah yang menjadi salah satu ujung tombak pertolongan (Nusrah) dalam dakwah Islam. Karena aktifitas meminta pertolongan (Thalabun Nusrah) adalah aktifitas yang penting menuju kebangkitan dan tegaknya Daulah Islam.

Rasul saw. mulai mencari nushrah setelah Abu Thalib, paman sekaligus pelindung dakwah beliau meninggal. Ketika, masyarakat Makkah semakin jumud dan menentang keras dakwah beliau. Rasul saw mendatangi kabilah-kabilah Arab untuk meminta perlindungan dan nushrah mereka. Hingga Allah mempertemukan dengan suku Aus dan Khazraj dalam Baiat Aqabah yang menjadi ujung tombak tegaknya Daulah Islam di Madinah.

Terbukti bahwa suku Aus dan Khajrat tak hanya pandai bersyair. Namun terkenal piwai dalam peperangan. Semasa jahiliyah mereka terseret dalam peperangan yang sengit dan berkepanjangan. Perang Sumair dan Pertempuran Bu'ats di Yatsirb, adalah saksi keunggulan mereka dalam perang semasa Jahiliyah. Lantas setelah kedatangan Islam, keheroikan dan keunggulan mereka dalam perang dan jihad tertoreh indah di sepanjang sejarah. Seperti dalam perang Badar, perang Uhud, perang Hunain, Perang Mu’tah dll.

Sungguh, hanya dalam sistem Islamlah kekuatan militer diberdayakan dengan benar. Tupoksi tepat sasaran demi kemenangan Islam. Bukan sekedar menjadi alat Penguasa dan Rezim yang dzolim. Hingga beralih fungsi untuk menghadang laju kebangkitan dan memberangus dakwah Islam. Dengan landasan aqidah dan ketakwaan, militer akan menjadi kejayaan dan kekuatan Islam. Menjadikan setiap tetesan darahnya hanya untuk berjihad di jalan Allah membela kebenaran bukan sekedar uang dan kekuasaan. Semata-mata berdasarkan keyakinan akan janji dan firman Allah swt dalam Qs Muhammad : 7 berikut:

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”. Waallahua’lam bisshowab.