Covid-19 dan Beban Perempuan di Saat Pandemi


Oleh : Ir. H. Izzah Istiqamah


Pandemi melanda negeri tercinta ini, wabil khusus Ponorogo sebagai kota tercinta. Pandemi memberi banyak dampak dan efek khusus bagi kehidupan. Bukan hanya memberi dampak bagi perekonomian semata, nyatanya peran seorang perempuan mendapat dampak. Pandemi telah menampakkan, betapa sistem sekuler demokrasi telah melahirkan pola hidup yang merusak anak generasi bangsa seperti pergaulan bebas, sehingga peran seorang ibu harus sangat ekstra dalam mendampingi pendidikan putra putrinya. 

Tiga orang yang merupakan satu keluarga di Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, terkonfirmasi positif Covid-19. Data terakhir di bulan Desember total kasus COVID-19 di Ponorogo meningkat drastis sebesar 789 orang. (Solopos.com)

Menurut data global terbaru lembaga yang menangani kesetaraan gender di bawah naungan PBB yaitu UN Women, pandemi virus corona dapat menghapus perjuangan selama 25 tahun dalam menciptakan kesetaraan gender. Beban dalam merawat dan mengasuh menimbulkan “risiko nyata untuk kembali ke stereotip gender era 1950-an”, kata Wakil Direktur Eksekutif UN Women Anita Bhatia. (BBC Indonesia.com, 26/11/2020)

Hal yang disorot UN Women adalah dampak Covid-19 bagi eksistensi perjuangan kaum gender yang selama ini mereka gaungkan. Kaum gender menuntut kesetaraan pekerjaan, dibukanya peluang perempuan berkarier dan bekerja sesuai keinginan mereka. Kaum gender juga menuntut kesetaraan dalam tugas domestik. Terjadilah ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Perempuan mulai meninggalkan tugas utama mereka sebagai ibu dan pengatur rumah bagi suaminya. Ide kesetaraan gender ini membayangi ketahanan keluarga. Angka perceraian meningkat seiring dengan masifnya penyebaran feminisme di ranah keluarga. Kaum ibu juga stres dengan adanya kebijakan belajar daring anak-anak. Pada akhirnya, anak-anak menjadi korban keculasan ide gender. Anak-anak kehilangan sosok panutan.

Dalam Islam, ibu adalah madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Ungkapan ibu adalah tiang negara sudah tepat. Sebab, di tangan ibulah peradaban itu dibangun. Yaitu mendidik generasi cemerlang dalam iman dan iptek. Islam membolehkan perempuan bekerja menjalankan peran publiknya. Hanya saja, hal itu tidak boleh melalaikan amanah utamanya sebagai ibu dan pendidik utama bagi anaknya. 

Kewajiban nafkah dibebankan kepada kaum lelaki. Oleh karenanya, dalam sistem Islam, lapangan pekerjaan lebih banyak porsinya untuk laki-laki. Dengan begitu, kaum perempuan bisa berfokus terhadap peran domestiknya. Perempuan juga diperbolehkan beraktivitas di masyarakat, seperti berdakwah, menjadi guru di sekolah, dokter, perawat, dan sebagainya. Islam memuliakan kaum perempuan dengan aturan pergaulan laki-laki dan perempuan. Larangan perempuan membuka aurat, berduaan tanpa mahram, campur baur, larangan safar tanpa mahram, bermuamalat dengan lawan jenis sesuai koridor Islam, yang bertujuan untuk menjaga kehormatan kaum perempuan.

Jika kaum perempuan memahami hakikat perannya dalam rumah tangga, ia tidak akan merasa terbebani dengan tugas domestik itu. Justru tugas sebagai ibu adalah medan ‘jihad’ baginya. Ia akan senang hati mendampingi putra-putrinya belajar di masa pandemi.

Tanpa pengaturan Islam, berbagai persoalan yang melanda perempuan akan terus  berulang. Jika negara menerapkan Islam, perempuan tidak membutuhkan ide kesetaraan. Perempuan juga tidak membutuhkan program pemberdayaan ekonomi. Sebab, Islam sudah mengatur sedemikian rinci bagaimana memberikan kemuliaan dan kesejahteraan bagi kaum perempuan.

Pandemi Covid-19 mestinya menyadarkan kita semua. Dunia membutuhkan imunitas Islam sebagai sistem yang mampu bertahan dan memberikan kesejahteraan selama 1.300 tahun lamanya. Dunia membutuhkan khilafah sebagai arah baru bagi perubahan sistem. Anak yang berakhlakul karimah terbentuk melalui bibit keturunan dan pendidikan yang baik. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:

“Tiada seorang anak pun yang lahir, kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu baragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a'lam bishshawab.