Adilkah Penegakan Hukum dalam Sistem Demokrasi?


Oleh : Tri Sundari, A.KS


Berita yang sedang hangat beberapa hari ini terkait dengan orang nomor satu di FPI, yang disinyalir oleh penegak hukum telah melakukan pelanggaran. 

Nasir Djamil, anggota Komisi II DPR RI fraksi PKS, mengharapkan agar aparat kepolisian dapat berlaku adil dan transparan, dalam memproses hukum Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS). 

Karena itu, PKS berharap agar HRS tidak ditahan, dalam rangka menjaga keseimbangan penegakan hukum, karena HRS pun punya hak untuk diperlakukan setara di depan hukum.

Nasir menilai, bahwa kedatangan Habib Rizieq ke Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan status tersangka, dalam kasus kerumunan di Jakarta dan Megamendung Bogor, menunjukkan bahwa HRS kooperatif. (Rmol.id, 12/12/2020)

Setiap orang sejatinya mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum. Penerapan hukum tidak boleh tebang pilih hanya untuk kalangan tertentu saja. Akan tetapi, terkadang hukum akan tajam ke bawah dan tumpul ke atas. 

Sebagai masyarakat tentunya kita ingin penegakan hukum yang adil. Siapapun yang melakukan pelanggaran hukum, agar dikenakan sanksi, tanpa pandang bulu.

Islam sudah mengatur tentang masalah uqubat. Dalam Islam penegakan hukum diterapkan secara adil. 

Dikisahkan pada masa Rasulullah saw., ada seorang wanita dari Bani Makhzumiyyah yang kedapatan mencuri. Mereka merasa khawatir dengan sanksi yang akan diterimanya, kemudian diutuslah Usamah bin Zaid yang dicintai Rasulullah saw. untuk melobi beliau.

Akan tetapi, Rasulullah saw. bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari No. 6788 dan Muslim No. 1688)

Dari kisah tersebut, Rasulullah saw. sendiri akan tetap menerapkan hukum secara adil, meskipun seandainya dilakukan oleh orang yang sangat dicintainya. 

Rasulullah saw. mengajarkan tauladan kepada kita, bagaimana aturan Islam ditegakkan untuk menyikapi sebuah pelanggaran dan penegakan hukum secara adil terhadap pelaku pelanggaran.

Wallahu a'lam bishshawab.