33 Tahun Diperingati Sudahkah HIV/AIDZ Tertangani?


Oleh : Azizah Nur Hidayah

(Homeschooler dan Member Akademi Menulis Kreatif)


01 Desember menjadi hari diperingatinya Hari HIV/AIDS Sedunia, atau disebut juga World AIDS Day. Peringatan ini digagas pertama kali pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua petugas informasi publik untuk Program Global AIDS Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss.

Setiap tahun Hari AIDS Sedunia mengusung tema yang berbeda-beda sesuai dengan tema yang ditentukan oleh WHO. Tahun 2020 ini, Solidaritas Global, menjadi tema yang diangkat oleh WHO. WHO menyerukan kepada para pemimpin global dan warga untuk menggalang “Solidaritas Global” demi mempertahankan layanan penting HIV selama pandemi Covid-19.[1]

HIV (human immunodeficiency virus) sendiri adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit.

Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.[2]

Pada tahun 2020 diperkirakan ada 38 juta orang di dunia yang positif terinfeksi HIV. Sedang di Indonesia sendiri tercatat 400 ribu orang terinfeksi HIV/AIDS.

Di tengah pandemi virus Corona hari ini pada faktanya tidak berhasil memutus rantai penyebaran HIV. Terdapat 92 temuan kasus baru HIV/AIDS, dimana 36 kasus di antaranya merupakan warga Kota Cimahi. Temuan tersebut didapat dari hasil tes HIV/AIDS yang dilakukan terhadap 10.086 orang. Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kota Cimahi, sejak tahun 2005 hingga 2020 di Kota Cimahi terdapat 855 orang pengidap HIV/AIDS. Sebanyak 517 orang di antaranya merupakan warga Kota Cimahi, sementara sisanya berasal dari luar Kota Cimahi.

"Sekarang ini cenderung temuan kasus HIV lewat hubungan seksual. Kalau lewat jarum suntik sudah tidak ditemukan lagi," ungkap Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Romi Abdurakhman.[2]

Miris melihat kondisi masyarakat hari ini. Di tengah kepungan Covid-19 yang belum terlihat tanda-tanda penurunannya, masalah HIV/AIDS ternyata tetap ada dan menginfeksi masyarakat. Padahal secara logika, di tengah himbauan menjaga jarak dan tidak bertemu orang lain, tidak menutup kemungkinan penularan HIV/AIDS.

Seperti yang diketahui, HIV/AIDS dapat menular dengan beberapa cara. Salah satunya adalah hubungan seksual. Kebiasaan berganti-ganti pasangan atau seks bebas berisiko lebih besar terinfeksi HIV. Ketika seseorang melakukan seks bebas dengan orang yang terinfeksi virus ini, secara otomatis pasangannya akan ikut tertular. Jika orang yang terinfeksi ini melakukan hubungan seksual dengan banyak orang, akibatnya pengidap HIV/AIDS akan semakin meningkat.

Namun hari ini, berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual secara bebas seakan menjadi gaya hidup tersendiri. Meskipun risiko yang akan diterima melalui aktivitas ini cukup besar, salah satunya penularan HIV/AIDS, tak menurunkan tingkat pergaulan bebas yang ada. Tahun ke tahun nyatanya pengidap penyakit ini semakin meningkat.

Gaya hidup bebas atau liberal yang kini dijadikan gaya hidup masyarakat secara umum merupakan salah satu akar masalah mengapa HIV/AIDS sampai hari ini belum tuntas tertangani. 33 tahun lamanya WHO dan penduduk bumi bersama “bergerak” melawan HIV/AIDS, faktanya penularan penyakit ini tidak ada tanda-tanda usai dan selesai.

Hal ini disebabkan lantaran gaya hidup liberal telah mendarah daging di kehidupan masyarakat hari ini. Gaya hidup bebas dengan prinsip melakukan apa saja sesuai keinginan, tak butuh aturan untuk mengatur kehidupannya ini, yang berhasil menumbuhsuburkan pergaulan bebas di kalangan masyarakat.

Gaya hidup liberal lahir dari sistem sekularisme, yakni sebuah sistem yang memisahkan agama dari urusan kehidupan. Agama tidak diperkenankan mengatur urusan-urusan publik, ia hanya ada sebatas ranah spiritual saja. Inilah penyebab utama sesungguhnya.

Meniadakan peran agama sebagai pengatur kehidupan merupakan awal mula segala kerusakan yang terjadi hari ini. Membebaskan manusia melakukan aktivitas sesuai keinginannya masing-masing hanya akan membawa kerusakan di muka bumi. Sebab ketika hawa nafsu manusia tidak ada yang mengatur, maka ia akan menjadi petaka dan membinasakan kehidupan.

Rasullullah saw. menyampaikan, "Ada tiga hal yang dianggap dapat membinasakan kehidupan manusia, yaitu kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan ketakjuban orang terhadap dirinya sendiri." (HR. Ath-Thabrani)

Wallahu a’lam bishshawab.


Referensi :

[1] : tirto.id

[2] : alodokter.com

[3] : news.detik.com