Undangan Pernikahan yang Tertunda



Oleh: Rahmi Ummu Atsilah


"Mana mungkin Ibu setuju?"

"Apa kamu sudah buta, laki-laki seperti itu kamu sukai!" Ibu mencecarku dengan kalimat-kalimat pedas, tentang sebuah pilihan yang kuambil. 


Beberapa pekan yang lalu, aku dikenalkan dengan seorang Ikhwan oleh ustadzahku. Beliau menyampaikan hal Ikhwan tersebut kepadaku berdasarkan informasi dari suaminya. Tanpa basa-basi aku menerima tawarannya, untuk taaruf lebih jauh. Luka hati ini terlalu basah dan menganga. Oleh sebuah penghianatan cinta yang tak terkira.


Tunangan ku yang semula menghadirkan bahagia dalam sukma. Hari-hari penuh canda, tawa, dan cita terukir indah dalam jiwa dan raga. Harapan masa depan untuk bersama, meniti kehidupan dalam biduk rumah tangga, bersemi dan bertahta. Dia sangat ku suka. Hadirnya meski lewat dunia maya, mampu mengukir senyum nan merekah. Apalagi tatkala bayangnya di sisi turut menyerta. Sungguh bagiku dia sangat berharga. Bagaimana lagi mengungkapkan rasa terhadap sosok yang di cinta tiada tara. Tak tahulah!


Entah apa yang akan kau rasakan? Ketika membayangkan cinta yang membuncah di awang-awang, dengan sejuta asa bahagia. Namun kemudian, bak petir  menyambar di siang bolong ada kabar, bahwa dia menginginkan berpisah. Seorang gadis belia telah menyita hatinya. 


Di tempat kerja baru ia beralasan sinyal tak ada. Lama tiada kabar berita tiba-tiba berkata lewat pesan WA. 

"Sebaiknya kita berpisah, dan saya berharap setelah ini persaudaraan kita tetap terjaga." Singkat namun sangat menghentak jiwa. Batin luluh lantak tak terkira.


Bak terjerembab dari menara tinggi megah, ke jurang curam yang menganga. Sakit, perih tak terhingga. Siapa yang menyangka semua berakhir nestapa. Benar saja orang bijak berkata, "Jika kamu mencintai, sekedarnya saja. Sebab boleh jadi, apa yang kamu cintai bisa menjadi yang kamu paling benci. Jika kamu membenci sekedarnya saja, sebab boleh jadi yang kamu benci akan menjadi yang paling kamu cintai."


Ibarat tersesat dalam lorong gua yang gelap, hadirnya dia sebagai sosok baru menjadi seberkas cahaya, yang seolah menunjukkanku keluar dari kubangan keterpurukan. Maka segera ku gapai dengan kembali menata terai dan asa yang porak-poranda.

  

Malam itu ku tatap bintang-gemintang, sambil terus berusaha mencerna, apa yang ibu rasa terhadap Binar? Sosok baru yang dikenalkan seorang ustadzah kepadaku. Hembusan nafasku mengalun bersama hempasan angin yang memainkan ujung kerudungku. Keras kuberpikir, kata apa yang hendak kusampaikan? Supaya ibuku mau menerimanya dengan lapang dada.


Dia orang baik, dibawa dan dikenalkan oleh orang baik, yang memahami hakikat hidup adalah pengabdian kepada Sang Kholik. Mana mungkin akan menjerumuskan dan menyesatkanku? Aku mempercayainya.


Mulanya ibu tidak keberatan di awal ta'aruf. Ketika kami saling tukar biodata. Semua menjadi berubah, ketika Binar datang ke rumah, dan menceritakan latar belakang keluarga. Sebenarnya tidak ada masalah dalam asal-usul keluarganya. Kecuali, permintaan ibunya untuk memboyongku ke tempat kelahirannya. 


Inilah kiranya yang membuat naluri ibu yang memiliki anak perempuan satu-satunya ini, tidak ridho dengan alur perjodohan ini. Beliau tidak menginginkan aku jauh darinya. Namun kemudian, alasan fisik pun beliau sisipkan sebagai penyerta. Penampilan binar dengan baju koko, celana semi cingkrang, dan jenggot sedikit panjang, juga beliau soroti tajam.


Melihat kemarahan dan sikap penolakan ibu dari hari ke hari, yang tidak juga kunjung mereda, membuatku merasa, aku harus akhiri ini semua. Biarlah luka kembali basah, biarlah air mata kembali merembah. 


Tak tahu bagaimana caranya berkata. Aku nonaktifkan semua akses media sosial yang kupunya. Sesekali saja dihidupkan, lalu kembali dimatikan.


"Ukhti Renaina, sudahkah kau istikharah untuk perjodohan kita?" pesannya yang sempat masuk dan hanya kubaca.


"Ukhti Renaina, menurutmu bagaimana visi sebuah rumah tangga ke depannya?" Tulisnya lagi, dan juga hanya kubaca.


"Adakah harapanmu kepadaku jika nanti Allah izinkan kita bersama?" Lagi-lagi hanya kubaca.


"Ukhti kenapa tidak membalas? Apa ada masalah?"

Sudah pasti Binar yang menyangka semua baik-baik saja, kebingungan karena kesulitan menghubungiku.


Dihubunginya ustadz supaya menanyakan ada apa sebenarnya? Ustadzah pun merasa tidak tenang, dan segera bertanya kepadaku. Apa yang sedang terjadi?


Baiklah ku hadapi saja semuanya dengan tabah. Ku jawab satu persatu pertanyaan ustadzh ku.  Yang paling pokok ku sampaikan, bahwa ibuku tak merestui risalah khitbah ini. Karena tak ingin aku diboyong pergi.


Di luar dugaanku, Binar tidak menyerah dengan keadaan ini. Dia berusaha untuk melobi supaya ibuku kemudian berubah pikiran, dan mau menerima perjodohan ini. Jika itu alasannya, dia berharap bisa memberi solusi dengan tidak mengajakku ke tanah kelahirannya. Tapi dia minta izin untuk tetap sering ke sana, karena di sana sekaligus merupakan tempat kerjanya. Ketika libur tiba dia akan terus membersamaiku. 


Di luar dugaanku pula, ternyata ibuku menyetujuinya. Air mataku berurai bahagia. Tidak kusangka inilah jalan terbaik dari yang kuasa. Maka proses khitbah pun berlanjut dengan menentukan tanggal nikah. 


Undangan telah dicetak dan disebarkan pula. Menikah: Binar Panca Cahyadi dengan Renaina, terukir dengan Indah di kertas Undangan berwarna Ungu muda.


Hari-H tiba, tak terkira rasa suka cita. Ahad itu, di hari ke-26 bulan Sya'ban, kami menikah. Mengikat janji suci, meretas jalan menuju mahligai rumah tangga. Menggenggam niat menyempurnakan separuh agama.


Para undangan berdatangan memberi restu dan segenap doa. Acara dilanjut dengan pesan pernikahan, oleh seorang Muballighah yang berkharisma. Memang para undangan hanya perempuan saja. Bait-bait doa beliau panjatkan.


“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan."


“Semoga Allah Swt. menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkati mereka berdua, kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka. Menjadikan sebagai pembuka pintu rahmat, sumber ilmu, sumber hikmah, serta pemberi rasa aman bagi umat.”

"Semoga sakinah, mawadah, warohmah, dan langgeng hingga surga." Pungkas Nyai Hajjah Naimah yang memberikan khutbah nikah pada resepsi pernikahanku. 


"Aamiin!" Gemuruh suara undangan menggema. Hatiku sangat bahagia.