Oleh : Ummu Yusuf


Pada 2 September 2020, Majalah Charlie Hebdo kembali menerbitkan karikatur penghinaan kepada Nabi Muhammad saw. Bukan  kali ini saja majalah tersebut menghina nabi dan ajaran Islam. Walaupun mendapatkan banyak kecaman dari berbagai negara, nyatanya pemerintah Perancis mendukung  bahkan dengan sengaja memajang kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. tersebut di dinding gedung pemerintah daerah dan di tempat-tempat umum. Penguasa Perancis juga telah menyulut kebencian warganya terhadap kaum muslim.

Iman pada kenabian Muhammad saw. wajib diikuti dengan mencintai dan memuliakan sosoknya. Cinta seorang muslim kepada beliau harus di atas cinta kepada yang lain, bahkan dirinya sendiri. Mencintai Nabi saw. hukumnya fardhu. Allah Swt. pun mengancam—dengan azab-Nya yang keras—siapa saja yang cintanya kepada Rasul saw. terpalingkan oleh kecintaan kepada yang lain (Lihat QS at-Taubah [9]: 24).

Di sisi lain, banyak keutamaan yang kelak Allah Swt. berikan untuk siapa saja yang mempertahankan mahabbah (cinta) kepada Allah dan Nabi-Nya di atas segalanya. Di antaranya, mereka kelak akan dikumpulkan bersama beliau di surga-Nya kelak. Dan orang yang mencintai Allah Swt. dan Nabi-Nya juga akan merasakan manisnya iman. 

Konsekuensi iman dan cinta kepada Baginda Nabi saw. adalah senantiasa mengagungkan beliau dan ajaran beliau sekaligus menaati semua perintah beliau. Karena kedudukan Baginda Rasulullah saw. yang sangat agung di sisi Allah Swt., tindakan menista (istihza’) kemuliaan beliau adalah haram dan termasuk dosa besar. Tindakan demikian sama saja dengan menyakiti Allah Swt. dan Rasul-Nya. 

Apa saja yang terkategori menistakan Baginda Nabi saw.? Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah telah menjelaskan batasan tindakan menghujat beliau yaitu: kata-kata yang bertujuan meremehkan dan merendahkan martabat beliau, sebagaimana dipahami kebanyakan orang, terlepas perbedaan akidah mereka, termasuk melaknat dan menjelek-jelekkan.

Besarnya dosa menghina Baginda Nabi saw. bisa dilihat dari konsekuensi hukumannya yang sangat keras dan tegas, yakni hukuman mati. Dalam Islam, hukuman mati atas penghina Baginda Nabi saw. dilakukan oleh imam/khalifah atau yang mewakilinya (Lihat: Al-Kasani,  Bada’i as-Shana’i’, 9/249). Khalifah tidak akan tinggal diam jika ada yang menghina Rasulullah Muhammad saw. Pasalnya, khalifah memang wajib menjaga kemuliaan Allah Swt., Rasulullah saw. serta ajaran Islam dan simbol-simbolnya. 

Khalifah tidak segan-segan untuk menyerukan pasukannya dan kaum muslim untuk berjihad melawan. Hal ini pernah dilakukan pada masa Kekhilafahan Utsmaniyah, di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II (1876-1918). Pada saat itu, Perancis merancang drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Nabi Muhammad saw. Drama teater yang sudah dipersiapkan akhirnya dibatalkan setelah Khalifah Abdul Hamid II mengultimatum dan mengancam Pemerintah Prancis dengan seruan jihad. Karena itu, atas penghinaan kepada Baginda Rasulullah saw., umat Islam wajib marah. Ulama besar Buya Hamka rahimahullâh mempertanyakan orang yang tidak muncul ghirah-nya ketika agamanya dihina. Beliau tegas menyatakan, “Jika kamu diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.”

Karena itu pula, marilah kita bela agama kita. Mari kita bela kehormatan Nabi kita yang mulia. Sungguh Nabi kita yang mulia telah berjuang membela nasib kita agar menjadi hamba-hamba Allah Swt. yang layak mendapatkan jannah-Nya kelak. Ketahuilah orang-orang kafir tak akan pernah berhenti melakukan penyerangan terhadap agama ini. Sayangnya, agama ini sungguh tak akan dapat terlindungi dari serangan mereka jika umat tak memiliki pelindung yang kuat. Pelindung itu tidak lain adalah khilafah ‘ala minhâj an-nubuwwah. Wallaahu a'lam bishshawaab.

 
Top