Tidak Mampu atau Tidak Mau?


Oleh : Sri Indrianti

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Seringkali kita merasakan kelelahan setelah sibuk beraktivitas baik aktivitas fisik atau aktivitas pikiran. Menurut teori, penyebab timbulnya rasa lelah itu karena berkurangnya kadar oksigen dalam darah. Sehingga otot lelah dan tidak bisa melanjutkan aktivitas.

Namun, setelah dilakukan penelitian salah satunya oleh seorang ilmuwan Afrika Selatan yakni Tim Noakes, ternyata penyebab manusia lelah dan akhirnya menyerah bukanlah karena rendahnya kadar oksigen dalam darah. Penyebabnya adalah bagian otak yang bernama central governor yang mengirimkan sinyal ke tubuh untuk menghentikan aktivitas supaya tidak terjadi cidera dan mencadangkan energi.

Cara yang bisa ditempuh untuk tetap menumbuhkan semangat di saat rasa lelah mulai melanda dan menyerah seakan menjadi pilihan yang segera diambil adalah dengan melakukan self talk dan visualisasi. Seperti yang dilakukan oleh atlet sepeda Sean Kelly ketika melakukan perlombaan dan mulai lelah, maka dia meyakinkan diri sendiri bahwa pesepeda lain juga merasakan sama lelahnya. Sedangkan pesepeda dari Australia, Felicity  Wardlaw, memvisualisasikan dirinya seperti harimau kumbang yang cepat, kuat, dan cekatan. 

Namun, teknik visualisasi ini jika terlalu tinggi dan sempurna akan menjadi bumerang. Tak mampu menggapai sehingga bisa mengakibatkan kekecewaan dan putus asa. 

Lalu yang benar bagaimana? 

Semampumu. Sebagaimana penjelasan dari syeikh Abdul Al Azzam mengenai maksud kata "mastatho'tum" dalam "fattaqullaha mastatho'tum" (Bertakwalah kepada Allah semampumu) yakni berusaha semaksimal mungkin sampai Allah menghentikannya. Digambarkan dalam cerita tersebut Syeikh Abdul Al Azzam berlari sampai beliau pingsan. Saat membuka mata beliau berkata itulah yang dimaksud semampumu.

Penjelasan ini begitu menampar. Seringkali kita merasa lelah dan tidak mampu lagi. Mangkir dari amanah karena merasa tidak mampu. Berbagai alasan dikemukakan untuk dijadikan penguat argumen. Benarkah lelah dan tidak mampu? Atau tidak mau alias malas? Ini yang harus ditanyakan kepada diri sendiri. Karena yang bisa menjawabnya adalah diri kita sendiri.

Sebagaimana jawaban Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah saat ditanya: "Kapan seorang hamba dapat mengecap (waktu) istirahat? Maka beliau menjawab: Saat pertama kali kaki dia menginjak surga."

Wallahu a'lam bishshwab