Oleh : Umi Kulsum, M.Ag

Pengasuh Majelis Taklim dan Pengelola Yayasan Anak Yatim Yajamiu


الّلهُمَّ صَلّ   عَلَى سَيِّدِنَا    مُحَمَّدٍ وَعَلَىِ آلِهِ وَصَحْبِهِ

أَجْمَعْيْنَ

Marilah kita berselawat kepada Rasulullah Muhammad saw.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah. Semoga aktivitas yang kita lakukan ada dalam rida Allah.

Suap-menyuap nampaknya sangat banyak dilakukan oleh seseorang yang ingin mendapatkan jabatan baru yang lebih enak.

Atau ingin kerja, ingin lulus testing, ingin lulus masuk ke sekolah negeri dan lain-lain.

Suap-menyuap hukumnya haram. Meskipun mereka memakai istilah hadiah, uang terima kasih, uang lelah uang kadeudeuh (Bahasa Sunda: ungkapan sayang) dan seterusnya.

Salah satu dosa besar dalam ajaran agama Islam adalah mencuri, yaitu mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Larangan risywah (suap) disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw.

Larangan dalam Al-Qur’an diambil dari celaan Allah kepada kaum Yahudi yang biasa mengambil suap.

Allah berfirman,

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ 

"Mereka (orang-orang Yahudi) itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan suht (yang haram)." (QS. al-Maidah : 42)

Pemberi Suap dan Penerimanya

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

"Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Laknat Allah kepada pemberi suap dan penerima suap”." (HR. Ahmad)

Laknat Rasulullah bagi Pemberi Suap dan Penerimanya

"Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata, “Rasulullah saw. melaknat pemberi suap dan penerima suap"." (HR. Ahmad)

Dalam Sabda Rasul lainnya,

 عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا

"Dari Tsaubân, dia berkata, “Rasulullah  melaknat pemberi suap, penerima suap dan perantaranya, yaitu orang yang menghubungkan keduanya"." (HR. Ahmad)

Laknat Menunjukkan Dosa Besar

Sesungguhnya perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya merupakan dosa.

Dan dosa itu bertingkat-tingkat. Ada dosa kecil dan ada dosa besar.

Risywah (suap) termasuk dosa besar, karena ada ancaman laknat dari Allah dan Rasul-Nya. 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di ra berkata, 

“Definisi dosa besar yang terbaik adalah: dosa yang ada had (hukuman tertentu dari agama) di dunia, atau ancaman di akhirat, atau peniadaan iman, atau mendapatkan laknat atau kemurkaan (Allah) padanya.”

Pengertian Risywah (Suap) dengan Makna yang Mirip

قَال الْفَيُّومِيُّ 

: الرِّشْوَةُ – بِالْكَسْرِ – : مَا يُعْطِيهِ الشَّخْصُ لِلْحَاكِمِ أَوْ غَيْرِهِ لِيَحْكُمَ لَهُ ، أَوْ يَحْمِلَهُ عَلَى مَا يُرِيدُ

Al-Fayyumi ra berkata, “Risywah (suap) adalah sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada hakim atau lainnya, agar hakim itu memenangkannya, atau agar hakim itu mengarahkan hukum sesuai dengan yang diinginkan pemberi risywah.”

وَقَال ابْنُ الأْثِيرِ : الرِّشْوَةُ : الْوُصْلَةُ إِلَى الْحَاجَةِ

 بِالْمُصَانَعَةِ

Ibnul Atsîr ra berkata, “Risywah (suap) adalah sesuatu yang menghubungkan kepada keperluan dengan bujukan.”

Itu adalah makna secara lughah (bahasa), adapun menurut istilah:

 مَا يُعْطَى لإِبْطَال حَقٍّ ، أَوْ لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ

Risywah (suap) adalah: sesuatu yang diberikan untuk membatalkan kebenaran atau untuk menegakkan atau melakukan kebatilan (kepalsuan; kezaliman).

Dan perlu diperhatikan bahwa risywah (suap) tetap haram dan tidak menjadi halal hanya dengan diubah namanya.

Karena sebagian orang melakukan atau meminta risywah (suap) tapi dinamai dengan hadiah, sedekah, hibah, kopi, pasal, atau lainnya, maka itu tetap haram.

Sesungguhnya istilah ini tidak merubah hakikat. Khamr tidak menjadi halal dengan dinamakan vodka. 

Zina tidak lantas menjadi halal hanya dengan dinamakan hiburan.

Riba tidak menjadi halal dengan dinamakan bunga, dan seterusnya.

Macam-Macam Suap 

1. Suap di dalam hukum.

Hukum memberi suap kepada hakim adalah haram, demikian juga menerimanya, walaupun keputusannya benar, karena memutuskan hukum dengan benar itu sudah menjadi kewajiban hakim.

Allah berfirman: 

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." (QS. al-Baqarah : 188) 

Di dalam sebuah hadis diriwayatkan:

 عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ 

"Dari Abu Hurairah Ra, dia berkata: "Rasulullah saw. melaknat pemberi suap dan penerima suap di dalam hukum"." (HR. Ahmad)

2. Suap untuk meraih jabatan atau kekuasaan.

Memberi suap untuk mendapatkan jabatan hakim atau kekuasaan wilayah (kepala desa, bupati, gubernur, presiden, anggota legislatif, atau jabatan lainnya).

Hukumnya haram bagi pemberi dan penerimanya.

3. Risywah atau pemberian untuk mendapatkan haknya atau menolak kezaliman.

Risywah secara istilah adalah nama yang disematkan pada sebuah pemberian yang bertujuan untuk membatalkan kebenaran atau untuk menegakkan atau melakukan kebatilan (kepalsuan; kezaliman).

Sehingga ketika seseorang memberikan sesuatu, tidak untuk membatalkan kebenaran, dan tidak untuk menegakkan atau melakukan kebatilan (kepalsuan; kezaliman). Tetapi untuk mendapatkan haknya, atau untuk menolak kezaliman dan bahaya dari dirinya, keluarganya, atau hartanya, ini diperbolehkan. 

Orang yang memberi tidak berdosa, tetapi orang yang mengambilnya berdosa, karena mengambil barang yang bukan haknya.

Banyak kalangan, bahkan banyak negara, telah mengetahui keburukan suap dan korupsi, oleh karena mereka berusaha melawan dan memeranginya.

Maka yang banyak terjadi di masyarakat tentang suap ini sangat memprihatinkan, baik berkaitan dengan memutuskan hukum atau mendapatkan jabatan, atau lainnya. 

Selayaknya umat Islam tidak melakukannya. Bahkan seharusnya kita mengingkarinya sesuai dengan kemampuan, baik dengan tangan kekuasaan, lisan perkataan, atau paling tidak dengan hati. 

Jangan sampai mengikut arus dan larut di dalam kemaksiatan. Karena hal itu akan menyebabkan kecelakaan di dunia dan akhirat.

Orang-orang yang pernah terjerumus di dalam perbuatan suap, atau masih melakukannya, harus segera bertaubat jika ingin selamat. 

Adapun orang-orang yang telah terlanjur mendapatkan pekerjaan dengan jalan suap, maka harus benar-benar bertaubat kepada Allah.

Sedangkan gajinya, jika memang dia bekerja dengan baik dan amanah, mudah-mudahan itu merupakan haknya. Dan semoga gajinya berkah.

Hendaklah orang yang beriman selalu ingat bahwa dunia itu fana, kematian bisa datang kapan saja, dan di akhirat akan ada perhitungan dan pembalasan terhadap perbuatan.

Maka orang yang berakal seharusnya lebih mengutamakan kebaikan akhirat yang kekal daripada dunia yang sementara. Hanya Allah tempat mengadu.

Semoga kita dijauhkan dari suap menyuap dan jikapun sudah terlanjur, maka segeralah menghentikannya dan semoga Allah mengampuninya.

Semoga kita diberikan kesehatan, kekuatan, keselamatan dan rezeki yang luas dan berkah.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu."

 
Top