Sekularisme Biang Kerok Timbulnya Generasi Syahwat


Oleh : Nur Ilmi Hidayah

Pemerhati Masalah Remaja, Praktisi Pendidikan


Tindak kriminal yang terjadi saat ini sungguh memprihatinkan. Berbagai kerusakan moral terus saja mencuat. Kasus demi kasus bermunculan silih berganti. Ada kasus bunuh diri karena hanya masalah sepele dalam keluarganya, munculnya kasus incest (hubungan sedarah), dan sejumlah tindakan kriminal lainnya seperti pembunuhan, penganiayaan, pelacuran, dan sebagainya. Semakin hari semakin bertambah kerusakan sistem kufur yang berlaku di negeri ini. Masyarakat hidup dalam ketidaknyamanan, kondisi ini sudah merata terjadinya di setiap pelosok negeri.

Serangan paham sekularisme sungguh masif. Tidak hanya melalui tontonan, sepeti film porno dan melalui kurikulum pendidikan dengan adanya pacaran sehat di buku paket olah raga kelas X dan penghilangan kata khilafah, jihad dalam pelajaran PAI, atau dari perilaku para pesohor negeri, publik figur hingga youtuber yang mempertontonkan hubungan sejenis, pergantian jenis kelamin hingga hubungan perusahaan besar dunia terhadap komunitas LGBT ditambah juga pada hukum dan sanksi yang tidak tegas sama sekali.

Bagaimanapun, kita hari ini sudah mulai menuai hasil dari keterlambatan kita mengantisipasi ledakan generasi syahwat. Hingga zina hari ini sudah menjadi lifestyle. Siapapun dan di manapun tidak bisa mengelak dari fakta ini.

Baik di media sosial maupun di dunia nyata, kasus pornoaksi, pornografi, bullying, pelecehan seksual, kekerasan, incest dan masih banyak lagi angkanya terus bertambah. Demikian pula korban-korban ataupun pelakunya bukan hanya orang dewasa, namun juga anak-anak dan remaja.

Terpuruk seolah menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan generasi saat ini. Kaum muda khususnya intelektual yang seharusnya memimpin bangsa, tetapi malah terjebak dan terperosok dalam kubangan lumpur penuh kotoran. Seperti kasus yang viral di media sosial fetis kain jarik (perilaku penyimpangan seksual) yang dilakukan oleh seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi terkemuka semakin menambah daftar kerusakan yang terjadi di kalangan generasi.

Kondisi generasi yang ada sangat jauh dari harapan. Pengaruh moral semakin luntur keimanan. Prestasi miring seperti tawuran, seks bebas, HIV/AIDS, penyimpangan seksual hingga gemar melakukan kebohongan demi sebuah konten aplikasi media sosial semakin menjadi mata rantai yang membelenggu kehidupan generasi yang sangat sulit untuk dipisahkan.

Generasi bangsa terlahir dari sebuah pendidikan. Saat ini pendidikan yang ada hanya berorientasi pada materi ilmu untuk uang sudah menjadi prasyarat dalam menjalani kehidupan. Apa pun dilakukan untuk mengejar materi dan hasrat duniawi. Kaum generasi muda pun terjebak dalam kehidupan materialis ini, dimana pendidikan hanya dijadikan untuk mencetak kaum guru yang berdasi, bermental pembebek dan miskin moral.

Ada beberapa hal yang menjadi akar persoalan generasi syahwat ini tumbuh subur di negeri yang mayoritas beragama Islam, yaitu:

Pertama, Islam tidak diterapkan sebagai hukum positif dan sekularisme nyata yang diambil oleh penguasa negeri ini. Banyak sanksi yang justru masuk ratifikasi dari hukum Barat. KUHP sendiri yang notabene buatan Belanda masih dipertahankan hingga hari ini meskipun sudah melalui banyak revisi dan perubahan.

Kedua, bukti adanya kebebasan berperilaku dalam alam demokrasi yang bertentangan dengan Islam. Faktanya, generasi muda berani melakukan seks bebas sekaligus melegitimasi negara kita tidak pernah berpihak pada Islam, padahal penduduknya mayoritas muslim.

Ketiga, ketika agama hanya dipakai individu dalam ranah keindividualannya, maka tidak akan terpengaruh dalam kehidupan sosialnya.

Kelima, lemahnya peran negara sebagai pengurus urusan umat yang menjamin terjaganya akidah seseorang, sangat terlihat jelas. Sehingga menciptakan masyarakat yang permisif, tidak peka bahkan tidak beradab. Sama sekali tidak mengindahkan norma-norma kebaikan, baik yang ada di masyarakat maupun yang ada dalam agama.

Keenam, ketahanan keluarga sebagai benteng terakhir umat nyatanya telah tergerus paham sekuler dan bukan atas landasan dasar yang kokoh (akidah), sehingga beranggapan bahwa pergaulan pria dan wanita tidak terpisah, pergaulan campur baur di antara remaja dianggap wajar. Padahal inilah titik kritis, dimana orangtua tidak lagi menunjukkan marah jika ada pelanggaran hukum syara’.

Ketujuh, adanya kesalahan paradigma di Indonesia bahwa usia di bawah 18 tahun masih terkategori masih anak-anak, sehingga berefek kepada pemberian sanksi dan hukum.

Seks bebas di kalangan generasi muda tidaklah terjadi dengan sendirinya. Banyak fakta yang memicu aktivtas penyimpangan perilaku terlarang tersebut. Penyebab utama maraknya seks bebas adalah adanya penerapan sistem kapitalisme yang mengagungkan kebebasan individu dalam hal perilaku, beragama, berpendapat dan kepemilikan. Kebebasan individu lahir dari keyakinan/akidah sekularisme yang meniadakan peran Sang Pencipta untuk mengatur kehidupan. 

Sistem Islam, Sistem Kehidupan Terbaik

Islam adalah sistem yang mampu mewujudkan kehidupan yang menjamin pemenuhan kebutuhan hidup, menentramkan jiwa dan memuaskan akal. Islam memiliki tuntutan kehidupan yang khas yang mampu menghentikan perilaku seks bebas secara tuntas.

Islam memiliki kemampuan menyelesaikan penyimpangan perilaku seks yang melanda kalangan generasi remaja, yang membutuhkan langkah yang terintegrasi antar berbagai komponen, baik keluarga, pendidikan formal, masyarakat dan negaranya. Kebutuhan untuk menyelesaikan masalah secara tuntas harus dikembalikan pada sistem Islam.

Jika manusia membuat aturan, maka aturannya pun akan memiliki sifat yang sama dengan manusia, yakni serba lemah dan terbatas. Pada akhirnya melahirkan kerusakan sepanjang penerapannya, sebagaimana sistem sekuler liberal buatan manusia. Berbeda halnya dengan dengan Islam, Islam merupakan aturan kehidupan yang sempurna, yang diturunkan oleh Sang Pencipta  manusia, Allah Swt. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan dengan sempurna dan paripurna.

Islam adalah pedoman hidup yang diberikan Allah kepada umatnya yang tertera dalam Al-Qur’an surat al-Maidah ayat 3; 

ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ۚ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Islam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan, dimana hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sebatas ranah pendidikan, muamalah, persaksian dan kesehatan.

Islam mengatur untuk tidak boleh brekhalwat (berdua-duaan), berikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan perempuan, mengumbar aurat, bertabaruj (dandan berlebihan), melakukan safar tanpa ditemani mahram bagi seorang perempuan.

Rasulullah saw. sudah memperingatkan bencana yang muncul akibat maraknya seks bebas di kalangan manusia melalui sabdanya;

«إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ»

Jika seks bebas dan riba telah marak di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan sendiri azab Allah. (HR. al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)

Karena itu, berbagai seruan seks bebas pada dasarnya adalah seruan-seruan untuk mengundang bencana datang. Jika berbagai seruan itu dibiarkan, maka sama saja membiarkan petaka dan azab datang menimpa negeri ini.

Ketika Islam diterapkan, niscaya mampu membangun generasi yang bersih dan berkepribadian Islam dan jauh dari seks bebas. Hal mendasar yang diwajibkan Islam dalam hal ini adalah kewajiban negara.

Islam menyatakan dengan tegas bahwa seks bebas (zina) adalah dosa besar. Jangankan melakukannya, umat Islam bahkan diminta untuk menjauhkan diri dari segala perbuatan yang mendekati perzinaan. Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat al-Isra’ ayat 32;

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا 

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Menyelamatkan generasi remaja tidak akan berjalan bila negara tidak mengambil peran. Bahkan peran negara sangat besar dalam menjaga moral masyarakat. Negara harus menegakkan hukum agar nilai-nilai akhlak mssyarakat terjaga. Karena itu, hukum Islam yang terkait dengan asusila wajib untuk dilaksanakan. Bagi pezina yang belum menikah, seperti remaja wajib diberikan sanksi 100 kali cambukan dan pengasingan selama 1 tahun bila dianggap perlu. Allah Swt. berfirman dalam surat an-Nur ayat 2;

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”

Remaja dalam hal ini dikenakan sanksi bila telah baligh. Sebab, ia telah terbebani taklif dan sudah harus mempertanggungjawabkan atas semua perbuatannya.

Syariat Islam akan mampu menyelesaikan seluruh masalah manusia bila diterapkan secara sempurna dan menyeluruh dalam bingkai khilafah. Kepemimpinan umum kaum muslimin seluruh dunia.

Oleh karena itu, sudah saatnya generasi penerus bangkit dan mengambil bagian untuk mencerdaskan umat dengan Islam. Menutup lembaran kelam peradaban kapitalis sekularis yang hanya menciptakan masalah demi masalah di tengah masyarakat, dan membuka lembaran baru dengan sistem Islam yang tentunya di bawah naungan Khilafah Islamiyah yang akan membentuk peradaban besar dan mulia.

Telah tampak kerusakan pada remaja akibat sekularisme dan demokrasi. Kebebasan yang diusung telah menghancurkan masa depan generasi umat. Masa depan umat pun terancam karenanya.

Karena itu, sekularisme, demokrasi, dan liberalisme itu harus segera dicampakkan. Sebagai gantinya, sistem Islam dan hukum-hukum syariat-Nya harus segera diterapkan di bawah naungan sistem khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Sekaranglah saatnya kita wujudkan perubahan itu.

Wallaahu a’lam bishshawab.[]