RUU Minol Menuai Pro Kontra, Bagaimana Islam Menyikapinya?


Oleh : Rengga Lutfiyanti

Mahasiswa dan Pegiat Literasi



Rasulullah SAW. bersabda "Setiap hal yang memabukkan itu khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram.” (H.R. Muslim)


Dari hadist tersebut, dapat diketahui jika setiap minuman yang memabukkan itu haram untuk dikonsumsi. Namun, beberapa waktu lalu, RUU Minol sedang menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Setelah RUU Minol dibahas kembali oleh DPR. Sebelumnya RUU ini terus mengalami penundaan sejak pertama kali diusulkan pada tahun 2015. 


RUU Minol memuat soal larangan produksi, penyimpanan, peredaran, dan konsumsi minuman beralkohol seperti minuman beralkohol dengan kadar etanol 1-5 persen, 5-20 persen, dan 20-55 persen. Larangan juga berlaku untuk minuman beralkohol tradisional dan campuran atau racikan. 


Namun, ternyata minuman beralkohol akan diperbolehkan dalam beberapa hal. Misalnya untuk kepentingan adat, ritual keagamaan, wisatawan, farmasi, dan tempat-tempat yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan. Pihak yang melanggar ketentuan akan dikenakan sanksi hukum pidana berupa penjara tiga bulan sampai sepuluh tahun dan denda mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 1 milyar.(cnnindonesia.com, 13/11/2020)


Pembahasan RUU Minol menuai pro kontra di tengah masyarakat. Pihak yang pro terhadap larangan minol berpendapat bahwa, RUU larangan minol bertujuan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif akibat mengkonsumsi minuman beralkohol. Selain itu, larangan minol merupakan amanah konstitusi dan agama, bahwa tiap orang berhak hidup sejahtera di lingkungan yang baik. 


Sementara, pihak yang kontra terhadap larangan minol berpendapat bahwa pelarangan minol akan berdampak pada mata pencarian dan perekonomian. Larangan minol juga akan berdampak buruk bagi daerah wisata. (kompas.com, 14/11/2020)


Memang tidak dapat dipungkiri jika minol mampu menyumbang cukai yang cukup besar kepada negara. Pada tahun 2019 cukai MMEA (Minuman Mengandung Etil Alkohol) mencapai Rp 7,3 triliun. (cnnindonesia.com, 13/11/2020)


Tidak heran jika pemerintah terkesan kurang tegas dalam melarang minol secara total. Pengecualian yang ada dalam RUU minol, menunjukkan jika pemerintah seolah masih memfasilitasi keberadaan minol. Bukan dilarang secara tegas. 


Hal itu terjadi karena sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan di tengah masyarakat. Sistem kapitalisme telah membuat penguasa lebih mementingkan keuntungan materi dalam setiap kebijakan yang dibuat tanpa memperhatikan halal dan haram. Karena memang, dasar pemikiran dalam sistem kapitalisme adalah materi atau keuntungan. Sehingga apapun akan dilakukan asalkan bisa mendapat keuntungan yang besar. 


Selama ada permintaan pasar yang menguntungkan negara, maka akan tetap difasilitasi walaupun mendatangkan mudharat bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme memberi peluang munculnya bisnis haram. Salah satunya adalah bisnis minol. 


Kondisi di atas juga menunjukkan bobroknya sistem demokrasi. Karena dalam sistem demokrasi, pembuatan aturan dikendalikan oleh segelintir orang, yaitu para korporat atau pengusaha. Terutama mereka yang berjasa besar menaikkan mereka menuju kursi kekuasaannya. Sistem demokrasi tidak akan pernah memberi ruang terhadap penerapan syariat Islam secara menyeluruh.  


Oleh karena itu, masyarakat tidak bisa lagi berharap pada sistem demokrasi-kapitalisme untuk menghapus segala bentuk keharaman dan menjamin kemaslahatan bagi masyarakat


Lalu bagaimana dengan Islam?


Dalam Islam, Khalifah berperan sebagai junnah (pelindung) bagi rakyat. Rasulullah SAW., "Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)


Khalifah dalam membuat peraturan akan selalu berstandar pada halal dan haram. Khalifah tidak akan menerapkan Undang-Undang yang haram, meskipun akan mendatangkan keuntungan yang besar bagi negara. 


Minol secara tegas telah diharamkan oleh Allah SWT. dalam QS. Al-Maidah (5) : 90 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan".


Oleh karena itu, Khalifah akan memberantas minol di masyarakat. Khalifah tidak perlu menunggu persetujuan siapapun untuk melarang minol secara mutlak. Selain itu, Khalifah juga akan menerapkan hukuman bagi para pelaku kriminal sesuai dengan ketentuan syariat. Hukuman ini akan memberikan efek jera bagi para pelaku. 


Sebagai seorang muslim, kita wajib meyakini bahwa syariat Allah SWT. adalah sebaik-baiknya aturan. Hanya syariat Islam yang mampu menjamin dan memberikan kemaslahatan bagi umat. Sehingga, kita wajib untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam untuk kemslahatan umat.


Wallahu a'alam bishawwab.


 
Top