Oleh : SW. Retnani S.Pd.

(Pendidik Generasi dan Pembelajar Islam Kafah)


Bagai pungguk merindukan bulan, inilah gambaran rakyat yang mengharapkan bantuan rumah layak huni dari pemerintah. Jutaan rakyat Indonesia yang tidak mampu membeli rumah layak huni, hanya bisa gigit jari melihat kemegahan dan keelokan kediaman para penguasa negeri ini. Begitu pula dengan para artis dan konglomerat, seringkali mereka memamerkan harta kekayaan yang melimpah di berbagai media sosial. Tentu saja, hal ini menimbulkan kesenjangan sosial. Maka tak heran bila seringkali terjadi perampokan, pencurian, penjambretan, penipuan, pemalsuan, perzinaan, pembunuhan dan kemungkaran-kemungkaran yang lainnya. Berbagai kejahatan di atas biasanya timbul dari faktor ekonomi. Keinginan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup memaksa mereka melakukan kezaliman dan kemaksiatan. Kemiskinan telah menjadikan rakyat para tunawisma dan gelandangan. Kalaupun mereka memiliki rumah, jauh dari kata bagus ataupun layak huni. Hal ini menggugah kepedulian berbagai pihak. Salah satunya Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Sebagaimana yang dilansir oleh jurnal Soreang, Pikiran-rakyat.com, bahwa Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bandung akhirnya turun tangan menangani rumah milik Nyonya Wiwi (75 tahun) yang kondisinya rusak parah. Kalau ada angin besar rumah itu dikhawatirkan langsung roboh.

Untuk perbaikan rumah, kata Ustadz Ali Nur, pengurus Baznas kabupaten Bandung, Kamis 12 November 2020. Baznas kabupaten Bandung menyalurkan bantuan rumah tak layak huni maksimal Rp10 juta. Pemilik rumahnya (Ny.Wiwi) langsung sujud syukur dan mengucapkan terima kasih kepada tim Baznas kabupaten Bandung. Inilah salah satu bukti abainya penguasa negeriku.

Masalah rutilahu merupakan tanggung jawab negara. Maka bantuan dananya pun seharusnya tidak melalui pos zakat, sebab penyaluran zakat sudah sangat jelas, hanya untuk delapan asnaf dan berkenaan dengan aspek ruhiyah.

Sebagaimana firman Allah Swt. di dalam kitab suci Al Qur'an yang artinya:  "Sesungguhnya zakat -zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya untuk memerdekakan budak, orang-orang yang terlilit hutang untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan." (QS. At-Taubah [9] : 60)

Maka bantuan untuk perbaikan rutilahu bisa diambil dari pos-pos keuangan lainnya, misalnya: dari hasil sumber daya alam yang melimpah di negeri kita ini dan lain-lain.

Sungguh terlalu, andai pos zakat terus disalahgunakan dalam penyaluran dananya. Seharusnya, para penguasalah yang berkewajiban memenuhi kebutuhan pokok rakyat dalam seluruh aspek kehidupan, baik sandang, pangan maupun papan. Sehingga, pemimpin dapat mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun, semua itu hanyalah mimpi di siang bolong. Selama sistem kapitalisme masih terus dijadikan ideologi dan panutan dalam menjalankan roda pemerintahan, kemakmuran seluruh rakyat hanyalah angan-angan saja. Sistem kapitalisme sangat tidak cocok untuk Negeri Zamrud Khatulistiwa yang memiliki jutaan kaum muslim, bahkan umat Islam di Indonesia adalah umat Islam terbesar di dunia. Kaum muslim hanya bisa berjaya dan mulia, dengan penerapan sistem Islam. Aturan dan hukum Islam yang berasal dari Sang Maha Pencipta, Allah Azza wa jalla, pasti akan dapat mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran umat. Penerapan syariat Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan akan mendatangkan keberkahan dan rahmat Allah Swt. Kedamaian dan kesejahteraan akan terwujud. 

Di dalam sistem Islam, kebutuhan pokok rakyat menjadi prioritas. Pun rumah layak huni menjadi salah satu kebutuhan pokok umat, senantiasa menjadi hak dasar rakyat yang harus dipenuhi oleh negara. Apalagi di tengah musim wabah pandemi Covid-19 seperti saat ini, rumah layak huni sangat dibutuhkan terutama untuk karantina mandiri dan untuk memenuhi seruan serta himbauan pemerintah yakni stay-at-home atau beraktivitas di rumah saja.

Penguasa yang adil dan bertanggung jawab telah dicontohkan oleh tauladan kita, Nabi Besar Muhammad saw. ketika kaum Muhajirin meninggalkan harta kekayaannya di Kota Mekah demi menomorsatukan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Saat itu Rasulullah saw. sebagai pemimpin memberikan penyelesaian permasalahan tersebut dengan jalan keluar atau penyelesaian yang jitu. Yakni, dengan mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dari Mekah dan kaum Anshar dari Madinah, sehingga mereka saling membantu dan bekerjasama demi kejayaan Islam dan kaum muslim. Bukan seperti pemimpin kaum muslim sekarang yang tercekik oleh sistem kapitalisme, mereka tega melihat saudara seiman yang tidak memiliki rumah layak huni, menjadi gelandangan dan tuna wisma.

Dengan sistem Islam umat akan memiliki rumah layak huni, nyaman, sehat, harga terjangkau  bahkan gratis. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: "Imam (khalifah) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya." (HR. Al Bukhari)

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top