Oleh : Lia April

Ibu Rumah Tangga Pendidik Generasi 


Dilansir oleh Visi.News – Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kab. Bandung, Paryono SH menilai pungutan liar (pungli) di wilayah hampir terjadi di seluruh pelayanan berbagai institusi, bahkan yang namanya pungli bisa terjadi sejak lahir hingga meninggal dunia.

“Sejak lahir terjadi pungli, misalnya untuk mendapatkan akte kelahiran, sudah meninggal juga ada pungli supaya mendapat kuburan yang layak, saat masuk sekolah juga ada pungli, mau nikah juga ada uang pelicin,” jelas Prayono saat Talkshow Pencegahan Pungutan Liar di Lingkungan Pemkab Bandung di Graha Sunshine Resort, Soreang Kab. Bandung, Kamis (12/11/2020).

Pungli sendiri adalah akronim dari pungutan liar, sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pungli adalah meminta sesuatu (uang dan sebagainya) tanpa menurut peraturan yang lazim. Pungli saat ini telah melanda di berbagai sektor kehidupan yang berupa pelayanan terutama pelayanan publik, sebagai contoh pungli preman terhadap supir truk, penerimaan siswa baru di sekolah, memperoleh pekerjaan hingga ke ranah hukum dan pemerintahan atau dengan kata lain dikenal dengan istilah korupsi atau suap.

Demokrasi sebagaimana yang digunakan di negara kita sebagai satu bentuk mekanisme dalam melaksanakan pemerintahan dan meletakkan rakyat sebagai sumber hukum atau dikenal dengan kedaulatan di tangan rakyat dengan slogan yang kita kenal dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat atau orang-orang yang mewakilinya (melalui parlemen).

Namun, pada kenyataannya baik pungli maupun korupsi makin merajalela pada sistem ini. Penguasa tidak dengan tulus memberikan pelayanan kepada masyarakat, justru mereka setiap saat akan mencari celah untuk mendapatkan keuntungan. Karena, sistem ini lahir dari kapitalisme dimana landasan hukumnya bersumber dari pemikiran manusia yang cenderung bertentangan dengan fitrah manusia dan menimbulkan kerusakan sebab standar kebahagiaan hanya berdasarkan pada materi. Sebagai contoh, proses perizinan suatu proyek yang menjadi rebutan dan menguntungkan para kapitalis. Hal ini dipicu oleh gaji yang kurang atau gaya hidup yang hedonis.

Berbanding dengan cara pandang Islam. Islam sebagai agama yang sempurna, syamilan, kamilan yang bersumber dari Allah Ta’ala. Allah tidak hanya sebagai Al Khaliq (pencipta makhluk) namun juga sebagai Al Mudabbir (Maha Pengatur). Allah mengetahui mana yang terbaik bagi manusia dan hukum mana yang layak yang harus dipatuhi oleh manusia, demi menggapai rida Allah Ta’ala dengan standar halal dan haram.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS. al-Maidah ayat 50 yang artinya:

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.”

Begitu pula dengan pungli, solusi terbaik adalah dengan mengembalikan kesadaran manusia akan hubungannya dengan Sang Khaliq sehingga terbentuk kepatuhan dan ketaatan dengan standar perbuatan baik dan buruk halal dan haram yang ditetapkan Allah Ta’ala. Dan pemberantasan hal ini harus mengikuti panduan Allah Ta’ala dengan penerapan hukum-hukum Islam di segala bidang. Bukan hanya dipimpin oleh yang amanah saja melainkan juga pemimpin yang menjalankan seluruh syariah secara kafah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.

Dan pada akhirnya kehidupan apa pun itu baik yang berkaitan dengan kapitalis, individualis maupun liberalis beserta aturan dan hukum di dalamnya akan musnah hilang dari muka bumi.

Wallahu a'lam bishshawab

 
Top