Oleh : Verawati S.Pd

(Pegiat Opini Islam dan Praktisi Pendidikan)


Satu tahun sudah Mantan CEO-Gojeg Nadim Makarim menjabat Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan. Dari hasil evaluasi terhadap kinerjanya, beliau mendapatkan rapor merah. Lantaran kebijakan yang dikeluarkannya tidak mampu memberikan solusi terhadap problem pendidikan yang tengah dihadapi, terlebih adanya wabah seperti saat ini. 

Dilansir oleh Kompas.com, 25/10/2020-Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengungkapkan alasan mengapa pihaknya memberikan nilai 55 untuk kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. "Kami beri nilai 55 karena kami punya data-data survei dan memiliki perwakilan berbagai daerah yang guru-guru ini betul-betul pelaku lapangan dan berhubungan dengan orangtua murid," kata Retno di acara Rapor Merah 1 Tahun Pendidikan Mas Menteri Nadiem secara virtual, Minggu (25/10/2020).

Beberapa hal yang menjadi fokus perhatian penilaian kinerja tersebut di antaranya adalah tidak semua siswa biasa melakukan pembelajaran jarak jauh karena tidak memiliki perangkat elektroniknya. Seperti hp atau laptop. Di beberapa wilayah banyak kesulitan sinyal, sebab tidak adanya akses jaringan internet. Selain itu, meski sudah ada program pembagian kuota  secara gratis, akan tetapi pembagian  tidak merata. Dapat disimpulkan bahwa akses pendidikan melalui PJJ ini tidak bisa dinikmati secara merata oleh seluruh siswa. Jangankan untuk daerah terpencil yang sulit dijangkau. Untuk wilayah kabupaten yang ada di Banten saja masih banyak yang sulit mendapatkan sinyal. 

Selain itu, pembelajaran jarak jauh juga menimbulkan beberapa permasalahan. Di antaranya adalah sulitnya guru menyampaikan dan juga siswa dalam menangkap pelajaran. Anak merasa stress dengan beban belajar yang diberikan guru. Adanya kasus siswa bunuh diri yang dipicu oleh beban tugas sekolah, menjadi fakta bahwa siswa merasa berat belajar jarak jauh. Sekaligus anak-anak pun merasa jenuh dan bosan saat belajar di rumah. 

Sekuler-Kapitalisme Akar Masalah

Bila kita runut, sejatinya permasalahan ini bukan muncul dari siapa yang menjadi menterinya saja, melainkan dari sistem kehidupan yang dipakai  saat ini. Yakni sekuler-kapitalistik. Siapapun yang menjabat menteri pendidikan tidak akan mampu menyelesaikan problem pendidikan saat ini, bila sistemnya masih seperti itu. Sistem sekuler-kapitalistik melumpuhkan penguasa dari perannya yang besar. Penguasa hanya sebagai regulator semata, tidak benar-benar hadir sebagai pengayom dan pengurus urusan rakyat. Pendidikan sudah menjadi barang komersil. Fakta menunjukan bahwa jumlah sekolah swasta lebih mendominasi sekolah negeri pada jenjang sekolah menengah atas. Juga banyaknya sekolah-sekolah asing. Siapa yang memiliki uang yang banyak dia yang akan menikmati pendidikan yang bagus. Sedangkan yang miskin mendapatkan biasa-biasa saja bahkan seadanya dan hingga putus sekolah. 

Begitupun dengan kurikulum yang ada saat ini, hanya fokus pada perolehan nilai atau materi semata. Lulusannya hanya disiapkan untuk mampu jadi pekerja atau buruh pabrik. Minim misi dan visi yang mencetak generasi pemimpin, yang mampu membangun Indonesia menjadi lebih baik. Hal ini terlihat dari kebijakan Kemendikbud yang akan merencanakan SMK menjadi sekolah favorit murid dan orangtua. Selain itu, kurikulum sekarang minim dalam pembentukan akidah dan kepribadian yang kuat. Tidak mampu menangkal budaya-budaya asing yang masuk. Sehingga anak-anak sekarang rentan dengan budaya Barat yang sesat. Adanya kasus bunuh diri menandakan lemahnya akidah dan juga nilai-nilai agama yang dimiliki. Anak menjadi rapuh, meski terlihat bahagia. Mereka tidak kuat menghadapi beratnya permasalahan kehidupan.

Dulu kita hanya menyaksikan kasus remaja bunuh diri hanya di Jepang atau negara-negara Barat. Akan tetapi, kali ini kita menyaksikan di negeri kita sendiri. Begitu pula dengan kasus narkoba, seks bebas dan hedonis yang kasusnya semakin bertambah setiap tahunnya. Anak-anak negeri ini sudah terpapar akut oleh budaya asing yang sesat. Seharusnya generasi ini disiapkan untuk menjadi generasi pemimpin, agen perubahan bukan hanya sekadar mampu bekerja ketika lulus sekolah.

Sesungguhnya rapor merah itu bukan dialamatkan pada pak menteri semata, melainkan pada sistem pendidikan dan kehidupan yang tengah dianut saat ini. Yaitu sistem sekuler- kapitalistik. Yang memisahkan peran agama dan pencipta dari kehidupan ini. Memuja kebebasan dan nafsu materi semata. Sistem yang sangat dominan mengarahkan lahirnya kebijakan yang tidak adil. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat hanya ada sekadar jargon semata. Meski rakyat sudah berteriak meminta keadilan, suaranya tidak didengarkan. Penentu kebijakan ada di bawah ketiak pemilik modal dan pastinya berpihak pada mereka. Merekalah yang berkuasa dan  menikmati sebagian besar kekayaan negeri. Sedangkan rakyat tetap sengsara dan terpinggirkan.

Kalau demikian, maka solusinya bukan lagi pada pergantian menteri. Akan tetapi, pada perubahan sistem kehidupan ini. Tentu tidaklah kita berharap pada sosialis-komunis karena sudah jelas sesat. Satu-satunya solusi yang benar adalah kembali pada sistem kehidupan Islam. Yang datang dari Pencipta yang Maha Benar. Menjamin kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat. Semoga pertolongan segera datang, sehingga umat merasakan rahmatnya. Aamiin.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top