Oleh : Nilawati Wahab

Berbicara  tentang perubahan hakiki dan upaya untuk mencapainya adalah fitrah manusia. Fitrah ini mendorong manusia untuk  memiliki perhatian terhadap kehidupan dunia dan penghuninya. Perubahan ini harus menggunakan ukuran dan pandangan yang benar.

 Saat ini umat  sangat berharap adanya perubahan. Di ibaratkan adanya  penguasa atau pemerintah  adalah seperti orang tua kepada anak-anaknya yang akan mengurusi dan memastikan segala kebutuhan anak-anaknya terpenuhi.      

Penguasa  seharusnya menjadi tameng atau perisai untuk seluruh rakyat tanpa terkecuali.  Namun saat  ini kita  dapat melihat dari tidak terpenuhinya segala hajat hidup mendasar, baik  sandang, pangan maupun papan, juga pendidikan, kesehatan, energi, transportasi dan lain lain masih belum maksimal. Kebutuhan pangan, semakin lama semakin tidak terjangkau oleh masyarakat, hingga banyak rakyat yang sengsara. Ditambah lagi dengan disahkannya UU Cipta kerja. Bahkan, sebelum UU tersebut disahkan rakyat, sudah banyak yang menderita dan sengsara .  

Menurut staf  FAO Muhammad Reza, penduduk indonesia sekitar 20juta dikatagorikan masuk dalam kategori rawan pangan, bahkan 1 diantara 3 anak mengalami kekurangan gizi atau stunting.(tribun jogja, 2/9/2018)        

Tidak hanya itu, generasi muda pun dirusak dengan pemikiran dan perilaku a-moral, digiring pada kemajuan semu dan menipu. Akhlak mereka jauh dari gambaran pemuda pembela Islam, hingga berani membakar panji suci Rasulullah dan umat Islam. Kisah tragis perempuan pekerja yang berujung di tiang gantung bukan sekali dua, pelecehan perempuan di tempat kerja tanpa pembelaan adil, masih terdengar. Maraknya kasus pornografi, pornoaksi, narkoba dan miras, meluasnya komunitas LGBT, keguncangan keluarga, kriminalitas dan lain-lain. Semua problematika ini berakar pada satu sebab, yakni penerapan sistem demokrasi, yang pada akhirnya mereka sadar situasi yang demikian parah dibutuhkan perubahan ke arah yang lebih baik. 

Berbagai cara dilakukan agar suara-suara kritis dan seruan-seruan ke arah Islam ini hilang terbungkam. Mulai dengan cara halus membujuk mereka dengan harta dan kekuasaan. Hingga cara kasar dengan dalih membahayakan keutuhan negara dan eksistensi dasar negara pancasila.

Dulu pada rezim Orde Baru mengangkat isu perubahan untuk menumbangkan rezim Orde Lama.  Langkah ini juga diikuti rezim Orde Reformasi untuk mengakhiri rezim Orde Baru dengan isu utama mengganti rezim korup dan memperbaiki ekonomi yang sedang krisis. Orde reformasi sejak awal hingga rezim terakhir ini, menjual resep mujarab perubahan. Namun faktanya, korupsi jalan terus bahkan lebih masif, perekonomian masyarakat masih tetap terpuruk, dan kebijakan pemerintah tetap mengabdi kepada para kapitalis sang pemilik modal. Rezim saat ini pun  sama persis dengan rezim-rezim sebelumnya yang menjalankan kebijakan liberal, yakni lebih pro-pasar (kapitalis) ketimbang pro-rakyat.

Pastinya kita tidak akan rida melihat dan merasakan semua ini,  ulama pewaris Nabi yang mulia dimusuhi oleh rezim, umat Islam sering difitnah dan disakiti. Khilafah ajaran Islam dikriminalisasi, para pengemban dakwah difitnah sebagai penyebar teror dan pemecah belah umat. Kita sudah merasakan derita yang berkepanjangan dengan pergantian rezim dan ternyata tidak menghasilkan perubahan hakiki.  Sangat mencolok mata dan menyesakkan dada,kedzaliman yang telah ditimpakan rezim dengan kebijakan aturan sekuler liberalnya.

Namun demikian, semua yang terjadi ini sekaligus menunjukkan ketidakadilan hukum yang diberlakukan penguasa. Hukum hanya berlaku bagi umat dan tokoh  yang teguh memegang aturan yang diterapkan penguasa. Sementara, betapa banyak kasus SARA yang tidak diselesaikan karena pelakunya diketahui pro penguasa. Misalnya  dalam bidang sosial, betapa banyak fakta yang menunjukkan kegagalan penguasa menjaga masyarakat terutama pada generasi agar tetap ada pada fitrahnya.

Kapan semua kisah ini berakhir?  Semua kisah dan derita itu akan  berakhir ketika umat memahami upaya perubahan hakiki. Perubahan hakiki dalam pandangan Islam adalah perubahan menuju penerapan syariah Islam secara kaaffah dalam institusi Khilafah. Artinya, perubahan hakiki menyangkut perubahan rezim dan sistem. Bukan perubahan pada rezim saja, karena kita sudah punya banyak pengalaman panjang yang mestinya diambil pelajaran. Bahwa pergantian rezim hanya menghasilkan wajah, tanpa perubahan pada kebijakan sedikitpun. Karena sistim sekularisme telah  menyingkirkan Islam dari negara. Upaya ini telah dan terus dilakukan. Karenanya kita sebagai bagian dari umat yang rindu perubahan hakiki wajib terlibat di dalamnya. Siapa saja yang tidak terlibat sedikitpun dalam perjuangan  ini, maka ia berdosa di sisi Allah karena telah melalaikan titah-Nya. Dan kemana lagi kita hendak lari menyelamatkan diri dari azab-Nya. 

Ini menjadi PR besar buat kita, bagaimana agar kadar berpikir umat tentang Islam tidak parsial dan tidak pragmatis pergerakannya hanya pada satu isu saja, akan tetapi fokus pada isu yang lebih besar lagi yaitu ikhtiar penegakkan syariah secara kaffah menuju perubahan yang hakiki.

Jika dicermati secara mendalam bahwa segala macam problematika yang ada saling terkait satu dengan yang lainnya. Namun bermuara pada satu sebab yaitu akibat diterapkannya sistem kapitalisme sekuler demokrasi yang menafikan peran Allah Swt (agama) dalam mengurusi kehidupan manusia. Dan memberikan hak membuat hukum kepada akal manusia yang bersifat lemah dan terbatas.

Hal itulah yang ditengarai memicu bencana demi bencana, konflik di berbagai daerah hingga kerusuhan yang begitu banyak menelan korban. Akhir-akhir ini begitu terasa negeri kita jauh dari keberkahan. Alam seakan marah, karena bangsa ini sudah melampaui batas. Hukum-hukum Allah dengan berani dicampakkan.  Para ulama dan pengemban dakwahnya juga dilecehkan. Umat sengaja dijauhkan dari ajaran Islam yang sesungguhnya, sebaliknya umat digempur dengan pemahaman dan ide-ide Barat yang sejatinya adalah upaya Islamophobia dan deideologisasi dengan berbagai program dan isu-isu yang menyudutkan Islam.

Padahal ideologi Islamlah sesungguhnya kunci kebangkitan. Sebagaimana firman Allah Swt yang artinya: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku,  maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkanya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.(TQS Thaha [2] : 124).  

Kita senantiasa berdo’a: Rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzab an –naar.  LDo’a itu akan terwujud tatkala kehidupan kita diatur dengan syari’ah Islam. Karena penerapan Syari’ah akan mewujudkan kebahagian dunia dan akhirat. Maka, penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya, tatkala Ia memanggil kalian untuk mentaati segala apa yang akan menghidupkan kalian.  LKemulian umat ada di pundak kita. Sebagaimana dahulu Rasulullah Saw mencontohkan, beliau berdakwah melalui pemikiran tanpa kekerasan fisik, memahamkan umat dari penyembahan semula kepada makhluk kemudian dipahamkan agar menyembah hanya kepada Allah saja.  Dimulai dari para sahabat dengan melakukan pembinaan Islam secara bersama-sama, kemudian berkembang dakwahnya kepada masyarakat, hingga pada akhirnya berhasil menyatukan masyarakat dari berbagai kabilah dan menjadikannya sebuah negara Islam di Madinah. Islam terus berkembang dan memperluas wilayahnya, kondisi pasukan yang sangat kuat hingga mampu menggentarkan musuh-musuhnya.

Kehidupan yang mulia dapat dirasakan baik oleh muslim maupun non muslim dengan diterapkannya syariah Islam yang maha adil, baik dari sisi ekonomi, sosial maupun politiknya hingga mencapai masyarakat dengan peradaban yang gemilang.

Oleh karena itu sudah saatnya sistem batil kapitalisme beserta turunannya kita campakkan, dan umat Islam segera kembali kepada aturan Allah Swt dan hukum-hukumNya yang akan membawa keberkahan. Melalui sistem Islamlah perubahan yang hakiki dapat diraih, perubahan yang mendasar sampai akar-akarnya melalui penerapan Islam secara kaffah. 

Wallahu a’lam bi ash_shawab

 
Top