Oleh : Dwi Susanti

(Praktisi Pendidikan)


Allah berfirman dalam QS. an-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

Kata Ud'u ini dalam kaidah bahasa Arab disebut Fi'il Amr atau kata kerja perintah. Yaitu perintah untuk menyeru manusia kepada Islam. Sekalipun seruan ini kepada Nabi Muhammad saw., maka pada hakekatnya seruan ini juga ditujukan kepada seluruh muslim baik laki-laki maupun perempuan.

Ini berarti bahwa sebagai seorang muslim yang mukmin dan bertakwa, maka kita punya kewajiban untuk berdakwah kepada seluruh manusia.

Arti Berdakwah 

Dakwah berasal dari kata Da'a, yad'u yang artinya menyeru, mengajak. Yaitu setiap aktivitas yang menyeru dan mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Atau sering kita dengar dengan istilah amar makruf nahi mungkar.

Dakwah merupakan aktivitas yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul. Bahkan Nabi kita Muhammad saw. sepanjang hidup beliau tidak pernah meninggalkan aktivitas dakwah ini. Sejak beliau diutus sebagai Nabi hingga beliau wafat di Madinah. Kisah beliau dan para sahabat dalam berdakwah bisa kita baca di dalam Sirah Nabawiyah. Sehingga jika kita mengaku sebagai umat Nabi yang cinta kepada beliau maka kita wajib melakukan dakwah.

Kenapa Harus Berdakwah?

Selain karena merupakan kewajiban dari Allah dan mencontoh perilaku Rasulullah, maka berdakwah memiliki beberapa alasan yang sangat penting untuk kita pahami.

Tentunya kita memahami bahwa setiap manusia kelak akan meninggal dan setiap perbuatan yang kita lakukan tidak luput dari pertanggungjawaban di hadapan Allah. Nah, dakwah yang kita lakukan akan menjadi salah satu hujah kita di hadapan Allah. Bahwa kita pernah mencegah manusia dari perbuatan yang melanggar syariat-Nya. Sebagaimana kisah Bani Israil dalam QS. al-'Araf ayat 163 yang mendapatkan ujian dari Allah berupa larangan berburu(mencari ikan) pada hari Sabtu padahal ikan-ikan banyak bermunculan di hari Sabtu tersebut. Sedangkan di hari lain yang dibolehkan berburu ikan-ikan menghilang. Sehingga di antara mereka banyak yang melanggar larangan Allah. Mengetahui itu di antara mereka ada yang mengingatkan akan siksa Allah, namun ada juga yang hanya mendiamkan. Kisah mereka diabadikan dalam QS. al-'Araf ayat 164-166:

{وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (164) فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (165) فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (166) }

"Dan  (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, "Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab, "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tang­gung jawab) kepada Tuhan kalian dan supaya mereka bertakwa.” Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya. Kami katakan kepadanya, Jadilah kalian kera yang hina."

Jadi dakwah yang kita lakukan akan menjadi ma'dziroh atau hujah di hadapan Allah/alasan pelepas tanggung jawab dari kemaksiatan yang dilakukan oleh orang lain di sekitar kita.

Selanjutnya, dakwah merupakan bentuk kasih sayang kita kepada sesama muslim. 

Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493)

Maka dakwah ini merupakan bentuk kasih sayang kita kepada sesama manusia. Karena sekalipun sebagai muslim kita sudah sangat paham dan yakin bahwa kita wajib bertakwa dan terikat hukum syara', namun kita juga menyadari bahwa sebagai manusia kita memiliki hawa nafsu yang terkadang membuat kita tergelincir ke dalam aktivitas maksiat. Di samping itu adanya setan yang juga selalu menghalangi langkah kita untuk senantiasa berada dalam ketaatan.

Karena itu dakwah merupakan aktivitas yang sangat penting untuk dilakukan.

Cara Berdakwah

Setelah mengetahui beberapa alasan penting mengapa kita harus berdakwah, maka yang penting diketahui berikutnya adalah bagaimana cara yang tepat untuk berdakwah.

Dakwah yang kita lakukan wajib mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah ketika beliau mendakwahkan Islam. Diantaranya yaitu sebagai berikut:

1. Di awal dakwahnya Rasulullah melakukan aktivitas tasqif/pembinaan kepada para sahabat yang dipusatkan di rumah Arqam bin Abi Arqam dengan tujuan membentuk syahsiyah Islam (kepribadian) yaitu pola pikir dan pola sikap islami.

2. Dari aktivitas pembinaan yang beliau lakukan tersebut berubah menjadi kelompok dakwah dan akhirnya menjadi kelompok kepartaian yang menyerukan agar Islam dianut dan dijadikan sebagai pemecahan atas seluruh persoalan yang ada.

3. Rasulullah membongkar tipu daya penguasa pada masa itu misalnya kepada Abu Jahal dan Abu Lahab. Allah mengabadikan Kisah Abu Lahab dalam Al-Qur'an surat al-Lahab.

4. Rasulullah membangun akidah, memperbaiki akhlak yang ada pada masyarakat, melarang kecurangan yang terjadi di pasar dan mengajak manusia hanya taat kepada Allah saja.

5. Rasulullah juga mencari nushrah/ pertolongan kepada para ahli quwah (pemilik kekuasaan) agar mau menolong dakwah beliau untuk menerapkan Islam sebagai aturan hidup agar mampu menjadi Rahmatan lil'alamin.

6. Dakwah Rasulullah tetap laa madiyah (bukan fisik hanya pemikiran) sampai akhirnya orang-orang Anshar dari Madinah membantu beliau dalam menegakkan Islam.

7. Saat telah terbentuk negara Islam, maka aktivitas Rasulullah dalam menyebarkan Islam dengan dakwah dan jihad. Sampai akhirnya Islam meluas ke seluruh penjuru dunia bahkan ke negeri kita tercinta. Ini merupakan efek positif dakwah Islam yang kita rasakan hingga kini.

Khatimah

Sebagai seorang muslim tentu Islam ini sudah final bagi kita. Untuk itu tidak ada lagi pilihan lain selain taat. Dan sebagai bentuk ketakwaan hakiki kita maka dengan menjadikan Islam sebagai solusi atas segala persoalan hidup ini. Dan untuk mengembalikan Islam sebagai sistem hidup hanya dengan melakukan dakwah sesuai contoh Rasulullah. Yaitu dakwah syariah kafah dalam bingkai negara Islam (khilafah) secara bersama-sama (bersama umat).

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top