Oleh : Rahmatul Ulfa

Aktivis Muslimah dan Member AMK


Pengangguran semakin hari menunjukkan peningkatan. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat maupun negara yang harus diselesaikan.

Di masa pandemi saat ini pemerintah memberikan solusi untuk menurunkan angka pengangguran dengan menerapkan new normal. Namun kenyataannya, terjadi kenaikan angka pengangguran, bukan penurunan. 

Seperti dilansir oleh SUARANTB.com, angka pengangguran di NTB mengalami peningkatan. Berdasarkan catatan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, peningkatan yang terjadi mengikuti peningkatan angka pengangguran nasional yang tembus 10 juta orang. Fase kenormalan baru yang diterapkan pemerintah tak menjamin nasib 1.400 pekerja yang telah dirumahkan akan kembali bekerja. Masa transisi ini diharapkan perekonomian kembali normal. Pembatasan di dunia kerja tidak mampu menjawab pengurangan pengangguran. (SUARANTB.com, 03/09/2020)

Kemudian, dilansir oleh Lombokpost.jawapos.com, bahwa Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) NTB Ni Ketut Wolini mengatakan angka pengangguran terus meningkat. Hal ini seiring dengan kondisi ekonomi yang berdampak pada para pengusaha.

"Karena pengusaha belum bangkit. Jadi aksi merumahkan dan mem-PHK karyawan tidak bisa dihindari," kata Ni Ketut Wolini. (jawapos.com, 09/11/2020)

Beginilah keadaan yang dihadapi oleh negeri ini. Saat ini, pemerintah terus mengeluarkan program seperti kartu pra-kerja, tapi tidak ada perubahan. Program tersebut hanya solusi tambal sulam kebobrokan akibat menerapkan sistem ekonomi neoliberalisme. Bahkan hanya kebijakan populis untuk memberikan citra baik bagi penguasa. Keadaan terus tak karuan dengan kebijakan dan program yang di keluarkan. Arah dari solusi yang diberikan belum ada yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. 

Belum ada keseriusan dari penguasa dalam memberikan solusi untuk masyarakatnya. Baik itu pada masa sebelum pandemi hingga masa pandemi berlangsung. Pengangguran terus mengalami peningkatan. Berbagai cara sudah dicoba tapi tidak ada penurunan secara signifikan. Beginilah ketika kapitalisme yang mengatur, tidak ada solusi yang benar-benar menyelesaikan permasalahan. Melainkan masalah yang terus bertambah.

Islam memecahkan permasalahan pengangguran dengan tuntas. Islam melihat faktor-faktor penyebab meningkatnya pengangguran. Mekanisme Islam dalam menyelesaikan masalah pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan, secara garis besar dilakukan dengan dua mekanisme. Mekanisme individual dan mekanisme sosial ekonomi.

Pertama, mekanisme individual. Syariat mewajibkan kepala rumah tangga untuk bekerja. Ketika individu tidak bekerja, baik karena malas, cacat, ataupun kurangnya pendidikan dan skill yang rendah, maka negara wajib memaksa individu tersebut bekerja. Di samping itu, negara juga menyediakan sarana dan prasarana, termasuk pendidikan.

Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ra. ketika mendengar jawaban orang-orang yang berdiam di masjid pada saat orang-orang sibuk bekerja, bahwa mereka sedang bertawakal. Saat itu beliau berkata, "Kalian adalah orang-orang yang malas bekerja, padahal kalian tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak." Kemudian Umar ra. mengusir mereka dari masjid dan memberi mereka setakar biji-bijian.

Kedua, mekanisme sosial ekonomi. Mekanisme ini dilakukan oleh negara melalui sistem dan kebijakan, baik kebijakan di bidang ekonomi maupun bidang sosial. Misalnya, di sektor pertanian, para petani yang tidak memiliki lahan atau modal dapat mengerjakan lahan yang diberikan pemerintah.

Begitupun pemerintah, dapat mengambil tanah yang telah ditelantarkan selama tiga tahun oleh pemiliknya. Nantinya bisa diberikan pada rakyat yang sanggup menghidupkannya. Ini disebut i’tha, yaitu pemberian negara kepada rakyat.

Alhasil, dengan demikian Islam telah sukses menangani masalah pengangguran, dengan tetap memanusiakan manusia sesuai dengan fitrahnya. Penanganan tanpa kezaliman dan perbedaan kepada masyarakat. Hingga kesejahteraan mampu dirasakan oleh seluruh rakyat. Inilah yang akan terwujud ketika syariat Islam diterapkan secara kafah dalam bingkai daulah khilafah. 

Oleh karenanya, sudah saatnya umat kini memperjuangkan sistem terbaik itu agar segera tegak di muka bumi. Seharusnya, umat segera mencampakkan sistem kapitalisme demokrasi sekuler dalam tong sampah peradaban.

Wallaahua'lam bishshawaab

 
Top