Oleh : Narti Hs

Ibu Rumah Tangga dan Penggerak Majelis Taklim


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil sebagai teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan (agama) kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat Kami, jika kalian memahaminya." (TQS. Ali-Imraan : 118)


Ayat di atas, menggambarkan bahwa Allah Swt. telah mengingatkan agar muslim janganlah memberikan kepercayaan kepada kaum Kafir. Jika hal ini dilanggar, maka akan menimbulkan banyak kemudaratan di tengah kehidupan. Kebencian kaum Kafir telah nampak jelas di hadapan kita, bahkan sudah di pelupuk mata.

Umat Islam, kembali mengalami luka yang mendalam. Muslim, terus disakiti, dilukai berulang kali. Betapa tidak? Sosok manusia mulia yang dilahirkan untuk penyampai risalah Islam kepada seluruh umat manusia, kini kembali difitnah. Sosok Rasulullah saw. yang dimuliakan, kini berulang dihinakan.


Menguatnya Islamofobia telah menyadarkan kaum Muslim bahwa kebencian Kafir Barat begitu besar terhadap Islam. Seperti yang ditunjukkan oleh Presiden Perancis Emmanual Macron pada beberapa pekan kemarin. Macron adalah pendukung kebebasan berekspresi terkait kontroversi kartun Nabi Muhammad saw. di negaranya. Ia berargumen bahwa prinsip negaranya mendukung kebebasan berpendapat.

Menyikapi hal ini, berbagai aksi demontrasi telah dilakukan oleh negeri-negeri Muslim guna memberhentikan penghinaan terhadap Islam. Berupaya dengan memboikot barang produk Perancis. Mereka menghimbau agar tidak membeli barang produk-produk negara penghina Nabi saw. Seruan boikot produk asal Perancis tumbuh di sejumlah negeri-negeri Arab di Timur Tengah dan negeri Muslim lainnya. Tindakan ini dipicu oleh pernyataan Macron yang dinilai tidak sensitif dan emosional itu. 


Di Kuwait, jaringan supermarket swasta mengatakan lebih dari 500 gerainya berencana memboikot produk Perancis. Kampanye boikot ini juga sedang memanas di Yordania dan Yaman. Di mana sejumlah toko grosir membuat tulisan pernyataan bahwa mereka tidak menjual produk asal Perancis. Salah satunya jaringan supermarket Al-Meera yang punya lebih dari 50 cabang di negara tersebut. (SRIPOKU.com/tribunnews.com.28 Oktober 2020)


Di Indonesia, MUI serukan umat Islam agar memboikot segala produk asal Perancis. Selain aksi boikot, MUI juga meminta Presiden Perancis Macron agar mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam sedunia yang berjumlah 1,9 miliar jiwa. Selain itu MUI juga mendesak agar Pemerintah Indonesia untuk menekan dan mengeluarkan peringatan keras kepada Perancis dengan menarik sementara Duta Besar (Dubes) RI yang berada di Paris.(kompas.com 30/10/2020)


Tampak jelas, berbagai negara berpenduduk Muslim merasa geram menyaksikan berbagai hinaan yang berulang terhadap Nabi saw. Ini menandakan bahwa masih ada "nyawa" bagi umat Islam dalam menghadapi Kafir Barat dengan segala bentuk kebenciannya pada Islam. Akan tetapi apakah hal ini ampuh dapat menghentikan total penghinaan terhadap Rasulullah saw.?


Jawabannya tentu tidak. Karena boikot produk, seharusnya dibarengi dengan boikot terhadap paham Sekularisme-Liberalisme. Karena pemahaman ini, telah menghasilkan kebebasan berpendapat, berperilaku. Dengan berpayung pada HAM, mereka bebas menghujat ajaran Islam, termasuk Nabi saw. Boikot Demokrasi dan Kapitalisme ini, akan lebih efektif kerena di sinilah induk dari setiap tindakan pelecehan terhadap Islam dan umatnya.

Sebenarnya paham inilah, yang paling berbahaya dari produk Perancis yang eksis di berbagai negeri Muslim. Karena sistem Sekuler-Demokrasi adalah sumber peradaban Barat yang nampak melahirkan kerusakan bagi seluruh manusia. Peradaban Barat adalah sekumpulan pemahaman tentang kehidupan menurut ideologi Kapitalisme Barat, yang memiliki ciri-ciri yakni Sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan), pragmatis (berstandar manfaat dalam mengukur segala perbuatan manusia), dan Hedonis (mementingkan kenikmatan fisik dalam memahami makna kebahagiaan). (Taqiyuddin an-Nabhani/1953 dalam Nizham al-Islam)


Inilah pemahaman yang masih melekat di benak kafir Barat, juga sebagian kaum Muslim. Maka jelas berulangnya prilaku penghinaan terhadap Islam, tidak akan berhenti secara total. Jika hanya melakukan boikot produk Perancis, namun tanpa menghilangkan dan menghancurkan peradaban Barat yang telah terbukti melahirkan berbagai kerusakan. Maka solusi ini hanyalah parsial tanpa menyentuh akar permasalahan. Yang terjadi, tindakan itu akan kembali berulang seiring waktu. 


Maka dari itu, yang harus dilakukan adalah boikot total. Yang berarti masyarakat jangan percaya lagi dan harus meninggalkan ideologi Kapitalisme-Liberalisme ini. Harus dilakukan dengan segenap kesungguhan dan perjuangan, agar berbagai hinaan terhadap Nabi saw. tidak terulang kembali. Menggantinya dengan aturan Islam yang telah terbukti 13 abad hadir di tengah kehidupan manusia, minim kefasadan.


Sejumlah riwayat dibuktikan dengan dengan tegas tentang sikap para Sahabat sekaligus khalifah, terhadap penghina Nabi saw. Sebagai contoh, khalifah Abubakar Ash-Siddiq ra. telah memerintahkan untuk membunuh penghina Rasulullah saw. , sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud Rahimahullah dalam Sunannya hadis ke 4.363. Kisah ini diriwayatkan oleh An-Nasaai, Al-Hakim, Ahmad, Al-Baihaqi, Al-Humaidi dan Abu Ya'la rahimahullah.

Begitu pula, khalifah Umar bin Khaththab ra. yang terkenal tegas juga pemberani. Sebagai khalifah yang adil, beliau pernah mengatakan, "Barangsiapa mencerca Allah atau mencaci salah satu Nabi, maka bunuhlah ia. "(Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Karmani Rahimahullah yang bersumber dari Mujahid Rahimahullah)


Inilah sikap para pemimpin Islam dalam membungkam negara penghina Nabi. Dengan tegas dan tanpa basa-basi untuk memberhentikan dan menghilangkan penghinaan terhadap manusia mulia panutan seluruh manusia. Saat ini umat Islam sangat membutuhkan sistem Islam (Khilafah), yang akan mampu membungkam kebencian kaum Kafir khususnya Perancis dan seluruh imperialis Eropa lainnya.


Dalam sistem Islam, keberadaan multikultur di tengah masyarakat, akan selalu dijaga dengan harmonis. Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam. Ini, menjadikan non Muslim aman hidup di dalam naungan negara Islam. Meskipun demikian, tetap ada seruan dakwah melalui penerapan syari'at Islam. Sehingga merekapun merasakan keagungan Islam.


Di samping itu, Islam menerapkan bahwa warga negara Islam yang non Muslim (dzimmi), mereka akan mendapatkan perlindungan dan keamanan. Kedudukan ahlu dzimmah telah diterangkan oleh Rasulullah saw. :

"Barangsiapa membunuh seorang mu'ahid (kafir yang mendapat jaminan keamanan), tanpa alasan yang hak, maka ia tidak mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun." (HR. Ahmad)

Memahami hadis tersebut, terlihat jelas bahwa negara dalam sistem Islam, akan menjaga dan melindungi keyakinan, kehormatan, akal, kehidupan, dan harta benda mereka (non Muslim). Maka di sini, non Muslim akan mendapatkan perlakuan yang sama. Dengan ini, tak akan terjadi kebencian, ketakutan (Islamofobia) di tengah masyarakat. Bahkan dengan menyaksikan indahnya hidup yang diatur dengan sistem Islam, banyak di antara mereka yang merindukan aturan Islam.


Wallahu a'lam bish- Shawwab

 
Top