Oleh : Sinta Nesti Pratiwi

(Pemerhati Sosial Asal Konawe)


Dilansir oleh media ZONASULTRA.COM, Gale Saputra (9) hanya bisa terbaring tanpa daya di atas tempat tidur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Dua buah selang infus pun terlihat menempel di tangan kanan dan hidungnya, Kendari (4 November 2020).

Lima hari sudah Gale berada di RSUD, menjalani perawatan intensif dari pihak dokter dan perawat. Bocah tersebut nampak ditemani oleh seorang perempuan muda, bernama Sri Endang. Tubuh Gale nampak kering, tulang belulangnya menonjol terbungkuskan kulit. Tatapannya sayup dan kosong, sesekali meringis menahan sakit tatkala salah satu anggota tubuhnya digerakkan.

Sri Endang yang merupakan seorang relawan yang menemani Gale di RSUD, bercerita, Gale pertama kali diketahui menderita gizi buruk, saat ia dibawa Ibunya ke Desa Lalonggombuno, Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe. Saat itu Endang belum mengetahui tentang keberadaan Gale, hingga akhirnya setelah seminggu berada di kampung tersebut salah seorang warga setempat memposting kondisi anak itu di sosial media.

“Saya tidak tahu awalnya, tapi karena ada pesan yang masuk di group kerukunan saya ada foto anak itu yang dishare. Terus saya tanya siapa anak itu, kata teman itu keponakan ibu Marta, saya tanya lagi sudah lamakah di kampung sini, kenapa baru dishare,” ucap Endang saat ditemui awak media di RSUD Bahteramas, Selasa (3/11/2020).

Usai mendapat kabar tersebut, Endang bersama dengan warga setempat kemudian mendatangi rumah Marta untuk mengecek kondisi Gale. Ia kemudian kaget mendapati kondisi anak itu yang terlihat sangat memprihatinkan, ia pun berinisiatif untuk membawa Gale ke RSUD.

Meski sempat terkendala pada administrasi dan data Gale, namun berkat bantuan dari pihak RSUD dan pihak-pihak lain, Gale akhirnya dapat menjalani perawatan di RSUD.

“Awalnya kita share ke media sosial, lalu ada salah satu anggota JPKP yang sarankan untuk di bawa ke RSUD. Sempat terkendala administrasi, tapi setelah diskusi alhamdulillah bisa dirawat,” ungkapnya.

Dari hasil pemeriksaan dokter, Gale didiagnosa menderita sakit marasmus atau gizi buruk. Walau begitu, ia juga tidak mengetahui secara jelas apa yang menyebabkan Gale menderita gizi buruk. Gale menderita Gizi buruk sejak beberapa bulan terakhir. Membaca setiap bait-bait berita membuat hati saya pun merasakan sakit, nasib seorang bocah tergulai lemah tidak berdaya tulang berbungkuskan kulit, mengapa hal demikian bisa terjadi di wilayah penghasil padi terbesar di seluruh Kabupaten Provinsi Sultra?

Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi inilah potret buruknya penguasa membiarkan rakyatnya tergulai tak berdaya di tengah kemiskinan menjerat di tengah duka seorang bocah 9 tahun.

Terlebih lagi masyarakat sekitar tidak memiliki daya upaya untuk membantu sebab nasib, mereka pun sama dengan bocah itu mau makan saja sangat sulit di tengah keadaan perekonomian saat ini. Hanya rasa iba yang bisa dirasakan sampailah keadaan bocah tersebut viral di sosial media.

Lagi dan lagi masyarakat yang harus turut andil dalam permasalahan yang mereka hadapi. Andaikan masyarakat tidak bersuara apakah mungkin pemerintah memperhatikan nasib mereka? Rasanya mustahil hal itu bisa terjadi. Buktinya nasib Gale yang menderita gizi buruk berbulan-bulan tidak tersentuh oleh pihak pemerintah. Inilah potret desa terpencil dimana pemerintah daerah sangat minim perhatian terhadap masyarakatnya.

Mana yang lebih  penting pembangunan dari pada urusan perut rakyat? mustahil daerah bisa maju kalau rakyatnya masih menderita gizi buruk. Kondisi saat ini yang masyarakat pada umumnya rasakan sangat jauh berbanding terbalik dengan  kondisi pada masa kejayaan Islam dimana penguasa memperhatikan seluk-beluk persoalan dan nasib rakyatnya.

Mari berkaca pada kisah seorang Khalifah Umar bin Khathab. Dekat sebuah gubuk reot, langkah Umar terhenti Ia mendengar tangisan seorang gadis kecil. Karena penasaran, Umar pun mengajak Aslam mendekati gubuk lusuh itu memastikan keberadaan penghuninya. Khalifah Umar berpikir mungkin penghuni gubuk itu membutuhkan bantuan.

Di dalam gubuk, seorang perempuan dewasa sedang duduk di depan perapian, Perempuan itu terlihat sedang mengaduk-aduk bejana. Setelah mengucapkan salam, Umar meminta izin untuk mendekat. Khalifah Umar bertanya, "Siapa yang menangis di dalam?" "Anakku," jawab perempuan itu agak ketus. "Kenapa anak-anakmu menangis? Apa dia sakit?" tanya Umar."Tidak, mereka lapar," jawab perempuan itu. Seketika Umar dan Aslan tertegun.

Sementara gadis di dalam gubuk masih saja menangis. Dalam keadaan seperti itu, perempuan yang menjadi ibunya terus saja mengaduk bejana. "Apa yang kau masak? Mengapa tidak juga matang masakanmu?" tanya Umar penasaran. "Kau lihatlah sendiri!" jawab perempuan itu. "Apakah kau memasak batu?" tanya Umar dengan terkaget.

"Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," kata perempuan itu. Mendengar semua itu, Aslam sempat hendak menegur tetapi dicegah oleh Umar.

"Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun ku suruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan ku isi air. Lalu batu-batu itu ku masak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan," ucap perempuan itu.

"Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya," lanjut perempuan itu. Perempuan itu tidak tahu jika yang dihadapannya adalah Khalifah Umar. Mendengar semua itu, Aslam sempat hendak menegur tetapi dicegah oleh Umar. Umar lantas menitikkan air mata. Ia segera bangkit lalu mengajak Aslam kembali ke Madinah. Sampai di Madinah, Umar segera pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum.

Umar langsung mengangkut karung gandum tersebut di pinggangnya. "Wahai amirul mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," kata Aslam mencegah Umar. Wajah Umar merah padam. "Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di Hari Pembalasan kelak?" kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke gubuk tempat tinggal perempuan itu. Sesampai di sana, Umar meminta Aslam membantunya menyiapkan makanan. Umar sendiri yang memasak makanannya. Setelah matang, Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan.

Melihat mereka bisa makan, Umar pun merasa tenang. Umar kemudian pamit. Ia meminta perempuan itu esoknya menemui Khalifah Umar di kediamannya. "Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah amirul mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insyaallah dia akan mencukupimu," kata Umar sebelum pergi. Keesokan harinya, perempuan itu pergi menemui Khalifah Umar bin Khattab.

Perempuan itu kaget. Sebab sosok amirul mukminin yang kemarin telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya. "Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata zalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata perempuan itu. "Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar.

Begitulah kisah Umar bin Khattab yang takut masuk neraka karena menelantarkan rakyatnya. Ia begitu sedih karena ternyata ada rakyatnya di daerah terpencil yang tidak sejahtera. Ia pun takut apabila di hadapan Allah ia dinyatakan tidak adil. Hingga Umar memutuskan sendiri mengangkat sekarung gandum sebagai rasa bersalahnya. Demikian kisah Umar bin Khattab, sosok pemimpin yang mempunyai kepedulian yang sangat besar kepada rakyatnya.

Inilah potret sistem Islam yang diwariskan Rasulullah seorang pemimpin yang mengedepankan persoalan akidah takut akan tanggung jawab di hadapan Allah Sang Khaliq.

Dengan demikian angka penderita gizi buruk tidak akan bertambah jika pemimpin memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kesejahteraan rakyatnya, sebab kemiskinanlah salah satu penyebab meningkatnya angka penderita gizi buruk.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top