Oleh : Umi Rizkyi

Komunitas Setajam Pena


Dalam kehidupan yang serba sekuler dan ujung-ujungnya kapitalistik yang lahir dari setiap amal perbuatan. Padahal, kalau kita pahami bahwa hal sekecil apa pun dan kebaikan seremeh apa pun akan bernilai pahala di sisi Allah Swt., jika memenuhi dua syarat yaitu sesuai hukum syara' dan ikhlas.

Namun, tidak dipungkiri banyak dari kita yang belum memanfaatkan lahan pahala ini dengan optimal. Kebanyakan malah suka mengeluh dan mengandai-andai dan panjang angan-angan.

Belajar teori tentang ikhlas, mungkin bisa khatam satu hari namun praktiknya butuh waktu lama bahkan seumur hidup. Kita sebagai ibu dan pengurus rumah tangga, ikhlas itu harus kita hadirkan setiap amal perbuatan kita. Walau tidak menutup kemungkinan, kita merasa jenuh dan bosan.

Jika kita pahami, sejatinya muara dari keikhlasan adalah munculnya rasa syukur dan sabar. Bersyukur kepada Allah Swt. atas segala anugerah yang diberikan, keluarga penuh kelebihan dan kekurangan pastinya.

Padahal Allah Swt. telah menjanjikan nikmat yang berlimpah untuk hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dan menjanjikan siksa bagi orang yang kufur. Karena hanya dengan ikhlas, seorang muslimah bisa memaknai dengan baik setiap apa pun yang tidak sesuai dengan harapan dan realitas dalam kehidupan.

Kadang rasa lelah, letih, bosan dan kecewa adalah manusiawi. Namun karena kita ingin ikhlas, oleh sebab itu maka kita tidak boleh putus asa. Kelelahan tidak menjadikan kita tidak optimal menjalankan kewajiban.

Trik yang harus kita lakukan agar kita senantiasa menjaga dan merawat ikhlas adalah dengan kuatkan niat. Setelah itu pasrahkan diri pada Allah Swt., akan tetapi setelah kita melakukan usaha yang maksimal.

Terkait dengan anak maka tancapkan dalam hati, bahwa anak adalah amanah, anugrah sekaligus ujian. Karena keberadaan dengan sudut pandang seperti ini sangatlah penting. Agar mampu membimbing dan mendampingi anak-anak kita dengan penuh kasih sayang, penuh rasa syukur, ikhlas dan sabar. Tidak sebaliknya, menjadikan anak sebagai beban.

Suatu amanah akan melahirkan sikap tanggung jawab. Suatu anugerah akan melahirkan rasa syukur, atas setiap kelebihan yang ada pada anak. Sebuah kesabaran akan melahirkan rasa nikmat dalam menjalani proses dengan segala ujian. Inilah poinnya, yaitu ikhlas yang disertai dengan niatan karena Allah Swt. akan menjadikan kekuatan luar biasa bagi muslimah untuk menjalankan peran kita sebagai ibu dan istri.

Dengan begitu, maka memupuk rasa ikhlas sangatlah penting. Memahami bahwa anak-anak saleh salehah adalah aset tabungan jangka panjang kita di akhirat nanti.

Sesuai sabda Rasulullah saw. yang artinya, "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh". (HR. Muslim)

Oleh karena itu, jika kita telah paham bahwa mendidik anak adalah tugas mulia, maka kita tidak boleh lalai apa lagi abai. Nauzubillah. Jika kita sudah berusaha maksimal untuk menjalankan segala kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang ibu dan istri, maka langkah selanjutnya adalah kita bersabar dan selalu berdoa agar senantiasa diringankan hati dalam menjalani semua kewajiban. Jika lelah, jemu, letih, jenuh, bosan dan sabar yang mulai terkikis, maka segeralah untuk beristighfar.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top