Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah


Kejadian beberapa waktu lalu yang begitu menyakitkan hati seluruh kaum muslimin di berbagai belahan dunia telah menuai berbagai respon. Salah satunya adalah seruan untuk memboikot produk-produk Perancis. Bagaimana tidak sakit hati, karena pernyataan dari Marcon yang menyatakan bahwa membuat kartun Nabi Muhammad saw. adalah suatu bentuk kebebasan berekspresi. Pertanyaannya adalah, apakah pemboikotan produk ini solusi tepat untuk memberikan pelajaran terhadap orang yang sudah menghinakan Nabi saw.? 

Mengutip dari pernyataan Demarais dalam tulisan Tirta Citradi di CNBC Indonesia bahwa, "Ini adalah kejadian ulang dari apa yang terjadi pada 2015 ketika ada seruan untuk boikot produk Perancis di beberapa belahan dunia muslim. Kejadian ini paling berumur pendek dan saya rasa perusahaan Perancis tidak memiliki masalah nyata dalam menjual produk mereka di Timur Tengah pada saat itu," kata Demarais.

Sementara, seruan boikot disebut Kementerian Luar Negeri Prancis tak ada gunanya. Asosiasi Industri Makanan Nasional Prancis (ANIA) mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk menilai konsekuensi ekonomi bagi pasar Timur Tengah yang mewakili 3% dari semua ekspor. (Cnbcinconesia.com, 27/10/20)

Hal ini menunjukkan sebenarnya solusi ini belumlah tepat apalagi ketika dikaitkan dengan kita yang tinggal di Indonesia yang secara produk belum bisa menjadi subsitusi produk-produk Perancis di kancah internasional.

Jelaslah kejadian ini merupakah buah dari penerapan dari sistem kufur yang merajalelanya sekularisme dan islamofobia di tengah umat. Sehingga umat pun ketika menyikapi masalah ini, solusi yang diambil pun tidak mendasar, karena jika benar-benar paham akan solusi terhadap masalah penghinaan terhadap Nabi saw. Dalam Islam, kasus ini sudah jelas sanksinya, yaitu dipenggal jika yang melakukannya individu dan diperangi jika yang melakukannya adalah sebuah negara. 

Seperti yang sudah dibuktikan pada masa Kekhilafahan Turky Utsmani, bagaimana tegasnya Sultan Hamid II ketika mengetahui di Perancis akan diadakan acara pentas teater yang menggambarkan Nabi saw., seketika itu khalifah mengirim utusan untuk meminta dibatalkannya acara itu, atau akan diperangi.

Akhirnya Perancis membatalkan acara itu setelah mendapat ancaman dari khalifah. Masyaallah begitulah gambaran kekuatan Islam ketika  diterapkan dalam sebuah institusi.

Lalu bagaimana langkah kita dalam kondisi saat ini? Saat institusi Islam belum ada. Terus opinikan Islam di tengah-tengah umat, bongkar makar-makar musuh Islam, tidak hanya sekadar boikot produk-produk mereka dan tentunya kita sebagai umat Islam wajib untuk terus berjuang agar diterapkannya kembali Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah, sehingga solusi yang diambil untuk menyelesaikan masalah ini tidak setengah-setengah.

Wa’allahu al'am bishshawab.

 
Top