Kenali dan Cintai Nabi



Oleh : Ummu Nadiatul Haq

(Member Akademi Menulis Kreatif) 


Dari Anas ra, ia berkata; telah bersabda Rasulullah saw: "Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia lainnya. (Mutafaq'alaih)


Umat Nabi Muhammad Saw seharusnya merasakan kesedihan atas apa yang dilakukan kafir terhadap Nabi Muhammad Saw, junjungan kita semua. Penghinaan yang dilakukan mereka sungguh menunjukkan kebenciannya terhadap Islam.


Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyebut “teroris Islam” terhadap seorang terdakwa yang telah melakukan pembunuhan kepada salah seorang guru. Alasan pembunuhannya karena ia membahas kartun karikatur penghinaan Kekasih Allah, karya Charlie Hebdo. Perbuatan ini dilakukan oleh seorang muslim. Macron menganggap Samuel Paty guru yang dibunuh itu adalah sebuah pelajaran kebebasan berekspresi. Macron juga mengatakan, menggambarkan Nabi Muhammad Saw sebagai kartun bukan hal yang salah. (Tribunnews.com, 28/10/2020)


Ironis, selama kebencian terhadap Islam masih tumbuh, tentu akan sulit berdamai dengan Islam. Hal ini karena sudah pasti yang benci tidak akan cinta. Seperti kisah seorang yahudi buta yang sangat membenci Rasulullah karena dia belum mengenal dekat Rasulullah. Ketika sudah tahu bahwa yang dia caci maki adalah orang yang suka memberi makan dan menyuapinya dengan penuh kasih. Maka seketika itu perasaannya terhadap Rasulullah yang awalnya dia benci. Namun pada akhirnya dia menyesal dan mau masuk Islam.


Ungkapan "tak kenal maka tak sayang", mungkin benar adanya. Selama kaum kafir yang membenci Islam belum mengenal Islam lebih dekat. Maka kemungkinan untuk mencintai Islam, terasa sulit. Lihatlah, kisah kerasnya Umar bin Khaththab ra, yang membenci Sang Nabi. Ketika belum masuk Islam, tetapi pemikirannya berubah setelah mengenal Islam. Hingga, Beliau sangat mencintai Rasulullah melebihi dirinya sendiri.


Aksi turun ke jalan untuk memprotes Karikatur Sang Nabi sebagai penghinaan, dan upaya pemboikotan atas segala produk Prancis. Adalah upaya agar perbuatan hina itu tidak akan terulang lagi. Pemboikotan ini pun telah dianjurkan oleh MUI dan diserukan pula oleh sejumlah negara lain, seperti Turki, Qatar Kuwait, Pakistan, dan Bangladesh. Boikot ini dilakukan setidaknya hingga Macron mencabut perkataannya dan meminta maaf pada Umat Islam dunia yang disebut berjumlah 1,9 milyar jiwa di seluruh dunia. (kompas.com, 31/10/2020)


Kondisi ini menunjukkan bahwa umat masih ber"nyawa", mereka masih sadar akan kecintaanya pada Nabi. Hanya saja upaya memboikot produk semata tidak akan menyelesaikan masalah secara total dan jangka panjang, kasus diskriminasi terhadap Islam, penistaan Nabi, dan lainnya pasti akan berulang. 


Namun pemboikotan ini bukan hanya terhadap produk saja, tapi produk berupa pemikiran pun harus dihadang. Produk berupa pemikiran inilah yang menjadi akar penyebab kebencian. Yaitu pemikiran sekulerisme, demokrasi, liberalisme, dan kapitalisme yang mengiringi langkah dasar mereka melakukan segala akifitas sesuai kehendak sendiri atas dasar kebebasan berbicara dan berperilaku sesuai akal manusia. 


Dengan memboikot pemikiran mereka yang bathil, semua perilaku mereka harus diarahkan sesuai kehendak Sang Pencipta manusia. Tentu ini butuh institusi yang menegakkannya dengan dakwah dan jihad. Tidak bisa dilakukan oleh pribadi atau kelompok semata atau oleh umat muslim dengan hanya memboikot produknya atau dengan pernyataan sikap mengecam tindakan yang hanya dibacakan di atas kertas.


Bagaimana agar kasus penistaan ini tidak terus berulang? Tentunya umat harus paham bahwa saat ini umat tidak punya perisai, umat sudah tidak memiliki ibu yang melindungi anak-anaknya, umat tidak memiliki kekuatan untuk melawan segala bentuk penistaan. Karena ibu umat islam sudah tiada sejak 3 maret 1924 , yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah yang mampu menindak dengan tegas para penista Nabi. 


Lantas apa hukuman bagi para penghina Nabi? 


Al-Qadhi Iyadh menuturkan, ini telah menjadi kesepakatan di kalangan ulama dan para imam ahli fatwa, mulai dari generasi sahabat dan seterusnya. Ibn Mundzir menyatakan, mayoritas ahli ilmu sepakat tentang sanksi bagi orang yang menghina Nabi Saw. adalah hukuman mati. Ini merupakan pendapat Imam Malik, Imam al-Laits, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rahawih dan Imam as-Syafii (Lihat: Al-Qadhi Iyadh, Asy-Syifa bi Tarif Huquq al-Musthafa, hlm. 428). Al-Qadhi Iyadh kembali menegaskan, tidak ada perbedaan di kalangan ulama kaum muslim tentang halalnya darah orang yang menghina Nabi SAW.


Oleh karena itu, umat semestinya bersegera mengganti sistem kapitalisme dengan sistem khilafah. Hanya sistem khilafah (peradaban Islam) yang bersumber wahyu dan mampu menindak para penista Islam. Islam akan menghasilkan keharmonisan kehidupan, menghasilkan kerahmatan bagi dunia seluruhnya.


Wa'allahu 'alam bishawwab.

 
Top