Oleh : Hamsina Halisi Alfatih


Setelah berhari-hari penghitungan suara dan terlibat pertarungan yang sengit, capres Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden akhirnya memenangkan pemilihan Presiden AS 2020. (Telisik.id, 08/11/20)

Seperti dilansir Fox News, Sabtu (7/11/2020), data penghitungan teranyar dari Fox News menunjukkan Biden menang atas petahana Donald Trump di Pennsylvania dengan meraih 49,7 persen suara, dengan Trump meraup 49,2 persen suara.

Merespon kemenangan Joe Biden sebagai presiden ke-46 yang akan dilantik pada Januari 2021 mendatang, tentu diharapkan mampu memberi angin segar bagi kaum muslim yang berada di AS. Sebab, selama kepemimpinan Donal Trump dinilai sangat arogan dan mengintimidasi pergerakan umat Islam selama ini. Maka atas kekalahannya sebagai petahana disambut dengan kemenangan Biden oleh masyarakat AS.

Jika ditelisik lebih jauh, Amerika Serikat merupakan kiblat penganut demokrasi yang tentu tak terlepas dari bayang-bayang Israel sebagai "Ibu Kandung" mereka. Bahkan AS disebut sebagai Anak Emas bagi Israel. Hubungan keduanya tentu memiliki misi untuk menghancurkan Islam dan menyebarluaskan pemikiran kotor mereka lewat terorisme dan radikalisme. Hal ini tentu menjadi proyek besar negara-negara penjajah untuk mematikan pergerakan kaum muslim. Walhasil, misi ini memang terbukti menyerang umat Islam.

Pada masa kepemimpinan Donald Trump, salah satu misi terbesarnya adalah memerangi Islam radikal dan terorisme. Melalui Global War On Terrorism (GWOT) atau perang global melawan terorisme yang sebenarnya sudah ada sejak masa kepemimpinan George Bush dan Barack Obama. Dan kini dilanjutkan oleh Trump bahkan sangat keras mengatakan dengan arogannya akan membasmi terorisme Islam radikal secara menyeluruh dari muka bumi. 

Pernyataan ini selaras dengan cuitan Twitternya, "The threat from radical islamic terrorism is very real, just look at what is happening in europe and the middle-east." (whashingtonpost.com,22/05/17)

Melihat sepak terjang kepemimpinan Donald Trump apakah akan berbeda dengan Joe Biden? Tentu saja akan sama bahkan bisa saja misi itu akan tetap berjalan sesuai dengan tujuan penganut negara kapitalisme yang ingin menguasai dunia Islam. Dan fakta misi GWTO terlihat ingin menjaga kepentingan AS sebagai pemimpin kapitalisme di dunia, legitimasi imperialisme dan mencegah kebangkitan Islam.

Misi yang dibangun oleh negara kapitalisme sekelas AS untuk menjadi penguasa kapitalisme di dunia tidak hanya melalui invasi militer. Proyek GWTO telah sukses digencarkan bahkan melalui imperialismenya mereka menyebarluaskan ideologi kapitalisme ke negeri-negeri kaum muslim. Fakta ini bisa kita lihat sendiri sebagaimana Indonesia telah berhasil dicengkeram dan menjadi negara pembebek kapitalisme.

Melihat kenyataan ini, mimpi manis kaum muslim seluruh dunia akan buyar tatkala akan dihadapkan kembali dengan penguasa AS terbaru. Negeri-negeri muslim seperti Palestina, Suriah, Afganistan dan lainnya akan semakin berada dalam keterpurukan imperialisme penjajahan Barat. Meskipun pada setiap kampanye pemimpin-pemimpin tersebut menjanjikan kenyaman dan keamanan bagi pergerakan umat Islam di negaranya, namun pada faktanya janji dalam demokrasi hanyalah bagaikan racun terbungkus madu.

Umat Islam hanya dijadikan objek untuk meraih keuntungan pemimpin-pemimpin Barat pada kenyataannya kaum muslim dikriminalisasi dan dituduh sebagai penyebar teroris dan radikalisme. Karenanya, upaya kaum muslim untuk meredam kekuasaan negara-negara Barat dengan imperialisme mereka adalah dengan kesadaran diri untuk bangkit dan memahami arah perjuangan yang sesungguhnya.

Keterjajahan negeri-negeri Islam tentu tidak dapat terlepas sejak runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmaniyah. Sebab, semenjak runtuhnya Turki Utsmani umat Islam yang dulunya disatukan dalam sebuah institusi kini harus tersekat-sekat dan terjajah. Bahkan telah menjadi krisis global serangan imperialisme Barat terhadap negeri-negeri Islam setelah runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmaniyah. Fakta ini tak terlepas sebenarnya dari peran para pemimpin muslim yang menjadi boneka antek penjajah. Hal ini jelas untuk melenggangkan hegemoni penjajahan Barat di negeri kaum muslim hingga memaksakan ideologi mereka agar diterapkan terutama dalam aspek ekonomi, politik dan hukum.

Oleh karena itu, untuk menentukan arah perjuangan umat saat ini adalah mengembalikan kembali kehidupan Islam seperti sedia kala. Sebab, akar masalah umat saat ini adalah serangan hegemoni Barat serta imperialisme mereka untuk menegakkan ideologi kapitalisme. Jika hal ini tidak disadari, maka kaum muslim akan semakin diserang dengan opini buruk Barat terkait terorisme dan radikalisme.

Dan penyebaran opini buruk tersebut haruslah dihadapi oleh umat dengan aktivitas dakwah untuk menjelaskan pemahaman Islam. Dengan begitu masyarakat akan memahami pokok-pokok dari ajaran Islam termaksud khilafah yang selama ini dipropagandakan buruk oleh Barat. Dengan dakwah Islam yang bersifat fikriyah dan tanpa kekerasan tentu akan memperlihatkan bahwa Islam sangat tidak mengajarkan tentang terorisme ataupun radikalisme.

Demikian pun melalui aktivitas dakwah, kita menjelaskan terkait pengaruh Barat terhadap negeri-negeri Islam seperti yang telah dijelaskan di atas. Karena akar masalah umat itulah yang menjadi ancaman kehidupan kaum muslim seluruh dunia. Dan kerusakan dari imperialisme Barat, kapitalisme-liberalisme sudah terbukti melalui jajahan ekonomi, hukum dan politik yang jelas bersumber dari penerapan sistem demokrasi kapitalisme.

Maka dengan demikian, nasib kaum muslim tidak akan berubah seiring pergantian pemimpin negara adidaya sekelas AS. Justru nasib kaum muslim akan sama saja tetap terjajah oleh kepentingan negara-negara kapitalisme. Karenanya, kebangkitan umat saat ini mau tidak mau adalah memperjuangkan dan menegakkan kembali syari'at Islam secara kafah dalam naungan institusi Islam, Khilafah. Jika kesadaran dan tekad umat semakin kuat dalam mendakwahkan syari'ah dan khilafah hal ini tentu akan menjadi ketakutan serta mimpi buruk bagi Barat. Dan hal ini pun akan menjadi faktor runtuhnya imperialisme Barat serta ideologi yang dibawanya di negeri kaum muslim.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top