Oleh : Mira Sutami H

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Baru saja AS mengadakan hajatan besar pesta demokrasi untuk memilih presiden setelah masa jabatan Donald Trump berakhir. Kembali Trump mencalonkan diri dengan lawan Joe Biden yang akhirnya dimenangkan oleh Joe Biden. Joe Biden dalam kampanyenya berjanji akan meningkatkan perekonomian. Terkait belanja negara, Biden berjanji akan memberikan stimulus fiskal yang jauh lebih besar yakni sekitar US$ 2,5 triliun selama periode 2021-2024.

Dalam hal ini, Biden sendiri diproyeksikan beberapa pengamat akan mengurangi tensi hubungan dagang dengan Cina. Dari sisi ekonomi, Joe Biden, dalam manifesto kebijakan ekonominya akan melakukan kebijakan baru seperti menaikkan berbagai macam pajak termasuk pajak korporasi yang diprediksi akan naik sebesar 15%. (Detik.com, 08/11/2020)

Banyak pihak di lndonesia yang menaruh harapan besar pada kemenangan Joe Biden ini. Bisa membawa angin segar bagi naiknya ekonomi di Indonesia. Menurut para pengamat ekonomi karena membuka peluang ekspor ke AS. Selain itu harapan untuk bisa memperkuat nilai tukar rupiah. Tapi apa benar demikian kenyataannya?

Harapan umat karena mendengar pidato saat Biden kampanye. Harapan-harapan umat selalu tertanam pada jiwa umat untuk hidup lebih sejahtera bila terpilih pemimpin baru AS. Sebagai negara pengekor kapitalis tentu mereka akan terus berharap dan terus saja kembali umat akan kecewa kembali. Karena faktanya umat tak pernah mendapatkan kesejahteraan tapi mereka malah sengsara lahir batin.

Umat jangan mau kembali tertipu dengan janji manis demokrasi. Apalagi hanya janji saat kampanye semata. Sebenarnya bukan hanya di AS di Indonesia saja sudah berganti pemimpin tapi perubahan yang diharapkan hanya nol besar. Walaupun janji manis selalu ditebarkan saat kampanye. Semua hanya untuk mencari simpati rakyak serta mendulang suara umat, dan setelah menjabat lupa dengan rakyatnya. Inilah gambaran kapitalis dalam meriayah umat tak akan bisa merubah apa pun.

Umat harus lebih cerdas berpolitik supaya tidak tertipu dengan AS sebagai pengusung kapitalisme. Tiap kebijakannya AS untuk bekerjasama dengan negeri pengikut kapitalisme itu hanya untuk kepentingan mereka saja. Mereka akan menancapkan kukunya di negeri-negeri lainnya dengan tujuan menancapkan hegemoninya di negeri tersebut.

Yang tak kalah pentingnya kemenangan Biden ini juga sudah diatur karena mereka sudah muak dengan lemahnya Trump yang kalah telak dari Cina yang sekarang berhasil menancapkan hegomoni di negeri yang dulu takluk di tangan AS. Sehingga mereka memenangkan Biden agar bisa merebut simpati rakyat di dunia, agar mereka percaya lagi kepada AS yang bisa merebut hegemoni dari Cina di negeri yang dulu dikuasainya. AS dan Cina itu setali tiga uang.

Dengan gambaran di atas jelas-jelas kapitalis maupun sosialis itu kejam dan tidak layak untuk mengatur umat. Karena sistem ini tak bisa meriayah umat dengan baik tapi malah menggendutkan pihak kapital semata bukan untuk kesejahteraan umat.

Umat harus mengetahui bahwa hanya lslam yang bisa menyelesaikan seluruh permasalahan umat. Hanya saja yang perlu diingat lslam harus diterapkan dengan kafah bukan dipilih-pilih aturannya. Serta adanya institusi khilafah sebagai pelaksananya.

Islam mewajibkan kepala negara (khalifah) meriayah umat sesuai dengan hukum syara'. Dalam lslam seluruh umat akan mendapatkan jaminan kebutuhan jasmani baik sandang, pangan, dan perumahan. Jaminan keamanan, jaminan kesehatan, pendidikan, keamanan bagi setiap individunya.

Negara juga akan mengelola kepemilikan umum secara mandiri tidak melibatkan pihak asing. Serta tidak berhutang kepada pihak luar negeri. Yang perlu diingat politik luar negeri sudah diatur oleh hukum syara'. Khilafah juga akan menghapus hegemoni pihak asing. 

Dengan begitu umat akan hidup sejahtera bila dipimpin oleh seorang khalifah yang dalam kepemimpinannya hanya menginginkan rida Allah bukan untuk melanggengkan kedudukannya seperti sistem kapitalis saat ini. Hal ini sudah terbukti nyata selama kekhilafahan dulu sebelum runtuh selama 13 abad umat hidup sejahtera dipimpin oleh seorang khalifah.

Jadi umat akan bahagia dan sejahtera dengan mengganti sistem kapitalis dengan lslam bukan hanya ganti pemimpin. Karena sudah terbukti ganti pemimpin dalam sistem kapitalis tak mampu merubah hidup umat.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top