Oleh : Yulia Putbuha


Presiden Indonesia Joko Widodo memberikan ucapan selamat atas kemenangan Joe Biden dan Kamala Haris melalui akun resmi Twitter-nya, @jokowi. Jokowi berharap dapat bekerjasama dengan Biden dalam memperkuat kemitraan strategis antara Indonesia dan AS, di antaranya bidang ekonomi, demokrasi, dan multilateralisme untuk kepentingan bersama. (Kompas.com,09/11/2020)

Harapan Indonesia kepada AS begitu besar, terlebih sebelumnya Indonesia telah dikunjungi oleh Menlu AS, dalam kunjungan tersebut Presiden berharap AS menjadi teman sejati. Hubungan itu perlu dipelihara dengan serius dan saling memahami. Maka dari itu, Presiden meminta Mike Pompeo agar Amerika memahami kepentingan negara berkembang dan negara muslim. (Liputan6.com, 29/10/2020)

Menilik perjalanan Politik Amerika Serikat, tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Mengangkat seorang pemimpin dengan jalan demokratis, namun pada saat yang terpilih menduduki kursi kepemimpinan, janji-janji yang pernah disampaikan terlupakan. Begitulah watak demokrasi, selama sistemnya masih diterapkan, kegagalan yang sama akan terus berulang sekalipun rezim berganti.

Sebagai contoh yang dilansir oleh Merdeka.com, janji Trump saat kampanye akan mendekatkan diri pada Rusia. Hal ini disambut baik bahkan Rusia mengajak AS untuk bergabung dalam diskusi damai untuk Suriah. Sayangnya, hingga Trump berakhir jabatannya semua tidak terealisasi. Terlebih saat AS mencoba mengusik kembali soal Krimea dan Ukraina.

Harapan diberikan AS kepada Rusia nyatanya bukan sekali itu saja, Saat pemerintahan Barack Obama, janji manis Negeri Adi Daya itu pernah dilontarkan. Obama sempat mengajak Putin untuk bertemu empat mata, membicarakan kelanjutan hubungan mereka. Namun, semua sebelum pertemuan dilakukan, tiba-tiba dibatalkan. Pembatalan ini karena menurut AS, Rusia telah memberikan suaka kepada Edward Snowden pada tahun 2013 silam.

Dengan demikian, masihkah berharap pada Biden yang menganut sistem demokrasi sekuler dan sudah terbukti gagal dalam penerapannya? Janji-janji yang diberikan oleh demokrasi hanyalah pepesan kosong. Dapat dilihat dari beberapa hal.

Pertama, dalam hal ekonomi. "Untuk rakyat" dalam jargon demokrasi, nampaknya tidak berpengaruh terhadap hak-hak rakyat, fakta membuktikan kebijakan-kebijakan yang dibuat tidak berpihak pada kepentingan rakyat.

Kedua, dalam hal politik. Politik demokrasi hanya memberikan janji-janji manis, pada kenyataannya hanya dimainkan oleh kelompok penguasa. Dari penguasa oleh penguasa dan untuk penguasa. Rakyat tidak dilibatkan.

Ketiga, dalam hal agama. Atas dalih radikalisme dan terorisme (yang ditunjukkan kepada Islam) gerak agama (Islam) dibatasi bahkan jika mengkritik pemerintah pelakunya dikriminalisasi.

Islam Memandang, sebagai agama yang sempurna dan paripurna. Berharap pada hukum selain hukum Islam, tidak akan mampu memberikan solusi yang solutif dalam menyelesaikan permasalahan. Islam mengajarkan untuk tidak bergantung kepada Barat, yang notabenenya adalah kafir harbi (kafir yang membenci dan memusuhi Islam). Dan kaum muslim diharamkan memberikan jalan kepada orang kafir untuk mendominasi dan menguasai kaum mukmin. Sebagaimana firman Allah Swt.,

“Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin.” (QS. an-Nisa’ : 141)

Perlu disadari oleh umat Islam, bahwa melibatkan kafir harbi dalam mengurusi permasalahan umat baik itu masalah ekonomi, sosial ataupun politik, hanya memberi jalan kepada mereka untuk menjajah. Sungguh hina ketika umat berada dalam kondisi tanpa aturan Islam, bahkan kafir harbi yang sudah jelas membenci Islam dijadikan tempat bergantung untuk menyelesaikan masalah umat.

Oleh karenanya, hanya satu yang umat butuhkan saat ini yaitu semua umat Islam dan negeri muslim bersatu dalam satu naungan yaitu khilafah 'ala minhaj nubuwwah, khilafah akan menjadi pelindung bagi umat, harga diri Islam akan terjaga tanpa harus mengiba pada negara kafir harbi.

Dengan demikian, menggantungkan harapan kepada Amerika Serikat (kafir harbi) dalam masalah umat, adalah sesuatu yang mustahil mampu memberikan solusi. sebagai negara pengemban demokrasi kapitalis "tak ada makan siang gratis" bagi mereka. Jadi, kemenangan Biden menjadi Presiden AS tidak akan membawa pengaruh bagi Indonesia dan umat Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top