Oleh: Listyani

Komunitas Muslimah Coblong


Joe Biden-Kamala Harris memenangkan Pilpres AS 2020 mengalahkan petahana Donald Trump-Mike Pence. Kemenangan tersebut mengantarkan Biden menjadi presiden ke-46 AS.

Menanggapi kemenagan Biden, Joko widodo mengucapkan selamat dan menyampaikan harapan pada presiden AS terpilih. Bahwasanya, Jokowi berharap dengan menangnya Biden di pemilu bisa terjalin kerja sama dalam memperkuat kemitraan strategis Indonesia-AS dan mendorong kerja sama di bidang ekonomi, demokrasi, dan multiliteralisme.

Peneliti Institue for Development of Economics and Finance (INDEF), Andry Satrio Nugroho menyebut, terpilihnya Joe Biden menjadi Presiden AS turut berpengaruh terhadap Indonesia. Setidaknya ada empat pengaruh terhadap ekonomi Indonesia setelah Biden terpilih.

Pertama, ruang kerja sama bilateral antara kedua negara akan lebih ketat, karena memang balik lagi kebijakan perdagangan yang jadi referensi oleh Biden adalah regional daripada perjanjian kerja sama bilateral.

Kedua, adanya peluang Indonesia bisa meningkatkan ekspor ke negeri Paman Sam.

Ketiga, terpilihnya mantan wakil presiden AS ini bisa meningkatkan Foreign Direct Investment (FDI) atau investasi asing langsung AS di beberapa negara. Hal ini terlihat dari pernyataan Biden terkait beberapa fasilitas mengenai minimum corporate tax di perusahaan-perusahaan di luar AS yang akan mendorong FDI AS di beberapa negara.

Keempat, investasi diversion atau perpindahan investasi dari China.

Banyak pihak yang berharap, kemenangan Biden ini mampu memberikan pengaruh positif bagi Indonesia. Terutama dalam hal perbaikan ekonomi negara dan peningkatan kesejahteraan rakyat.


Namun benarkah, kemenangan Biden sebagai presiden terpilih mampu memperbaiki perekonomian Indonesia dimana kondisi saat ini Indonesia dalam keadaan resesi? Bahkan, mampukah dengan terpilihnya Biden terwujudnya kesejahteraan rakyat Indonesia?


Umum diketahui, bahwasanya AS merupakan negara adikuasa yang berideologikan Kapitalisme. Bagi negara yang mengemban ideologi Kapitalisme kegiatan dan pertumbuhan ekonomi adalah jantungnya. Dalam ideologi Kapitalisme, dikenal prinsip bahwasanya bagaimana cara individu memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sedikit. 


Tidak hanya itu, Kapitalisme sebagai ideologi memiliki misi penyebaran. Di mana metode penyebarannya yaitu dengan jalan imperialisme (penjajahan). Jadi apapun kebijakan yang akan dikeluarkan tentu saja harus menguntungkan mereka (AS). Sehingga harapan perbaikan ekonomi dan terwujudnya kesejahteraan rakyat hanya akan menjadi harapan kosong dan angan belaka. Karena sejatinya kapitalisme tidak akan memberikan makan siang gratis. Semua bantuan yang diberikan harus ada imbalan yang lebih besar, alih-alih kesejahteraan justru penjajahan yang akan diterima. 


Mengharapkan AS sebagai juru selamat bagi umat adalah ilusi.  Dan menggantungkan harapan kepada AS dan barat sama halnya memberikan angin segar bagi negara imperialis tersebut utnuk memainkan peran dalam kepentingan mereka. 


Berharaplah hanya pada Islam. Di mana dalam sistem Islam (Khilafah), Allah SWT sebagai Sang Pencipta memiliki aturan yang tidak akan pernah menzalimi (merugikan) hamban-Nya. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang menjamin tegaknya aturan Sang Pencipta di muka bumi. Hal ini sudah terbukti selama 13 abad lamanya.


Dengan tegaknya hukum Islam di muka bumi, tidak hanya petumbuhan ekonomi dan kesejahteraan duniawi yang akan didapatkan melainkan kesejahteraan di akhirat pun akan kita dapatkan.


Allah swt berfirman  dalam surat al-Maidah [5]: 50


“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya selain hukum Allah SWT bagi orang-orang yang yakin?” 


Dan Allah juga mengingatkan kita dalam Al quran surat Az Zumar [39]: 54


"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya." 


Berharaplah kepada Allah SWT dan kepada Islam yang dengannya kita akan mendapatkan keselamatan di dunia dan juga di akahirat.

 
Top