Oleh : Yulia Ummu Haritsah

Pendidik Generasi dan Member AMK


Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya, mungkin itu salah satu pribahasa yang sering kita dengar. Karena dengan membaca, maka wawasan kita akan terbuka dan luas tentunya. Kita pun akan mendapatkan berbagai ilmu dengan membaca.

Namun buku yang menjadi sumber ilmu, kini susah untuk diburu, dengan  minimnya koleksi buku mengakibatkan minat baca pun kian lesu. Faktanya, buku susah diburu bahkan perpustakaan daerah pun mengakui bahwa koleksi buku di perpustakaan daerah sangatlah sedikit.

Dilansir oleh AYO BANDUNG.COM, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung, Tri Heru Setiati, mengakui saat ini hanya memiliki 25.000 eksemplar. Dari 11.000 judul buku dan 2500 e-book ini jauh dari ideal.

"Kalau kita lihat dari ketentuan standar perpustakaan nasional, untuk perpustakaan daerah minimal harus memiliki 50.000 judul buku, sehingga sekarang kita tetap masih membutuhkan buku-buku dan e-book untuk memenuhi ketentuan", ujar Tri di Perpustakaan Kabupaten Bandung, Rabu (21/10/2020).

Perpustakaan Kabupaten Bandung berusaha untuk memenuhi kebutuhan pengadaan setiap tahunnya, meski di bantu dari pusat di setiap tahunnya, dan juga dari penerbit tapi masih kurang, maka dari itu perpustakaan mengharapkan bantuan dan partisipasi masyarakat untuk mewakafkan buku.

Terlebih sekarang saat pandemi, perpustakaan sementara ditutup, khawatir menjadi kluster baru dalam penyebaran virus Covid-19. Jadi yang mengunjungi perpustakaan sangat terbatas. Sementara yang minat datang keperpustakaan pun sangat minim. Meski dibantu dengan adanya perpustakaan keliling. Agar mudah dijangkau, tapi masih sangat kurang minat baca akhir-akhir ini. Menambah lesunya dunia literasi saat ini. Walaupun masih ada sebagian kecil yang membutuhkan jasa perpustakaan, namun itu pun hanya dilayani via online. Mengingat sekarang masa pandemi.

Minat baca yang menurun sekarang ini, tak lepas dari adanya kecanggihan digital gawai pintar. Yang semuanya bisa diakses, tinggal ketik dan klik, maka apa yang diinginkan dengan cepat terlihat di layar gawai.

Inilah salah satu penyebab kurang diminatinya perpustakaan akhir-akhir ini. Sudahlah koleksi bukunya kurang,  ditambah lagi dengan adanya kecanggihan teknologi dengan ponsel pintarnya, yang tinggal klik,  mengakibatkan dunia literasi semakin lesu.

Padahal buku merupakan prasasti, bukti merupakan karya nyata yang dapat diindra, sebagai bukti jejak karya para penulis. Baik buku fiksi maupun non-fiksi. Dan buku juga merupakan karya yang bisa menjadi ladang amal bagi para penulisnya, baik berisi ilmu agama, ilmu pengetahuan umum, kisah cerita, hiburan dan lain-lain.

Dengan sedikitnya koleksi buku di perpustakaan, ini menunjukan abainya pemerintah dalam meriayah, mengurus urusan publik, di antaranya dunia literasi. Minat baca maupun minat menulis tidak lagi diberi wadah dan tidak diberi apresiasi untuk mengekspresikan karyanya. Sehingga dunia literasi menjadi kelam.

Bila dilihat sejarahnya, ketika khilafah masih tegak, ketika Islam menjadi sebagai landasan kehidupan, bagaimana pemimpin negara dalam menghargai sebuah karya buku. Buku-buku para ulama dihargai dengan nilai emas, buku ditimbang lalu diganti dan dihargai dengan nilai emas. Sehingga para penulis berlomba-lomba membuat karya terbaiknya.

Ada peribahasa dari Imam Ali, "Ikatlah ilmu dengan tulisan" ini mengandung makna, dengan menuliskan ilmu dalam sebuah buku, ini yang akan menjadi prasasti, bukti karya, sehingga ilmu bisa diabadikan dalam sebuah buku. Tidak tercecer sehingga ilmu lenyap ditelan zaman.

Begitu pula, betapa besarnya nilai sebuah buku yang menjadi sumber ilmu, ilmu dari masa ke masa yang tak akan lenyap di telan zaman. Peradaban mulia, adalah peradaban yang menghargai ilmu.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top