Oleh: Analisa
(Muslimah Peduli Generasi)

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar". [QS : At- Taghabun [14]:15].

Memiliki anak merupakan anugerah terindah bagi setiap pasangan yang menjalin cintanya lewat pernikahan. Anak adalah amanah dari sang pencipta yang dititipkan kepada kita, dan sudah selayaknya dijaga dengan baik dan menjalankan amanah yang telah diberikan. Namun, sangat disayangkan di era milenial saat ini, sebagian orang tua tidak lagi menjadi peran yang baik dan benar dalam mengasuh dan mendidik anak malah mengabaikan kewajibannya.

Terlebih di tengah wabah Covid-19 ini, meningkatnya kekerasan pada anak acap kali menghiasi jagad media, baik cetak maupun mainstream. Seperti yang terjadi baru-baru ini dilansir dari laman SuaraJogja.id, Minggu 08 November 2020. Kekerasan terhadap anak naik secara signifikan di Kabupaten Bantul jumlah kasus di Bumi Projotamansari tahun ini berdasarkan catatan sampai dengan Oktober lalu sudah menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2019 yang lalu.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Bantul Muhamad Zainul Zain menyebut, pada 2019 jumlah laporan yang masuk kepada PPA tercatat ada 155 kasus. Sedangkan di 2020, yang baru dihitung sampai dengan Oktober kemarin, jumlah kasus sudah menembus angka 120 kasus terlapor.

Sungguh, saat ini negeri kita dirundung duka yang amat pedih. Anak yang sejatinya merupakan aset untuk generasi peradaban yang akan datang malah dengan mudah dianiaya dan habisi nyawanya dengan membabi buta. Peran orang tua hilang terhimpit zaman kebebasan yang jauh dari aturan. Alhasil sekarang banyak kita jumpai kekerasan merebak dimana-mana, pelecehan, bahkan tindak menghilangkan nyawa sudah menjadi hal biasa dan lumrah.

Peran individu dan masyarakat dalam mengupayakan agar tidak terjadi kekerasan sangat dibutuhkan, terlebih lagi peran Negara sangat penting dalam menyelesaikan persoalan. Betapa tidak, persoalan semakin hari semakin menumpuk kepermukaan.

Buah dari kapitalis sekuler telah merusak tatanan kehidupan. Mengubah cara pandang manusia perihal pengaturan kehidupan, memutar balikkan keadaan dengan perubahan yang menghancurkan. Sistem rusak telah terbukti membuat umat semakin jauh dari keimanan, gelap mata dan mudah terbius dengan nafsu yang menjerumuskan.

Pemisahan agama dengan kehidupan menjadi jalan mulus untuk menyerang umat lewat pemikiran. Menghancurkan sendi-sendi kehidupan sehingga melenyapkan urat nadi hukum syariat yang harusnya diberlakukan. Padahal Allah Swt telah menyiapkan seperangkat aturan agar diterapkan.

Kemirisan akan terus berlanjut apabila kita masih tetap menerapkan sistem kufur yang tidak berlandaskan aturan Sang Pencipta. Aturan yang berlandaskan hawa nafsu manusia dan akal yang lemah serta keterbatasan dalam menjangkau. Tidak seharusnya digunakan karena sangat jelas menimbulkan banyak kemudharotan.

Islam memiliki pandangan tersendiri terkait dengan kekerasan  kepada anak . Islam menangani masalah ini dengan penerapan aturan yagn integral dan komprehensif. Pilar pelaksana aturan Islam adalah negara, masyarakat, dan individu/keluarga. Dalam Islam penerapan kafah melalui Khilafah tidak akan berkompromi dengan kepentingan materi dan membiarkan merebaknya pemikiran maupun perilaku rusak, seperti kekerasan.

Mekanisme perlindungan dilakukan secara sistemik, melalui penerapan berbagai aturan, yaitu penerapan sistem ekonomi berbasis syariah yang kaffah. Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang cukup dan layak agar para kepala keluarga dapat bekerja dan mampu menafkahi keluarganya. Selanjutnya melalui penerapan sistem pendidikan. Negara wajib menetapkan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang akan melahirkan individu bertakwa. Individu yang mampu melaksanakan seluruh kewajiban yang diberikan Allah dan terjaga dari kemaksiatan apapun yang dilarang Allah.

Salah satu hasil dari pendidikan ini adalah kesiapan orang tua untuk menjalankan salah satu amanahnya yaitu merawat dan mendidik anak-anak, serta mengantarkan mereka ke gerbang kedewasaan. Selain itu penerapan sistem sosialpun harus diberlakukan dengan cara Islam melarang memperlihatkan dan menyebarkan perkataan serta perilaku yagn mengandung erotisme dan kekerasan (pornografi dan pornoaksi) serta akan merangsang bergejolaknya naluri seksual. Ketika sistem sosial Islam diterapkan tidak akan muncul gejolak seksual yang liar memicu kasus pencabulan, perkosaan, serta kekerasan pada anak. Bahkan Islam sangat mengatur dalam bermedia sosial.

Pengaturan Media Massa
Berita dan informasi yang disampaikan media hanyalah konten yang membina ketakwaan dan menumbuhkan ketaatan. Apapun yang akan melemahkan keimanan dan mendorong terjadinya pelanggaran hukum syara' akan dilarang keras dan diberikan sanksi yang tegas apabila terjadi kekerasan, dan dapat memberikan efek jera agar tidak mengulangi lagi kesalahannya. Peran penerapan itu semua harus diberlakukan dalam bingkai negara yang menerapkan hukum secara menyeluruh tanpa terkecuali dan dalam keadaan apapun.

Dalam Islam seorang anak merupakan anugrah yang tidak ternilai. Kehadirannya dapat memberikan perubahan tatanan dunia agar menjadi generasi pejuang yang diharapkan. Islam gemilang dengan anak-anak pejuang agama Allah yang dengan kerelaan mengorbankan jiwa raga demi Islam agar tetap berjaya disetiap zaman.

Islam adalah agama yang sempurna paripurna yang dengan aturannya menciptakan kemaslahatan untuk umat, bahkan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a'lam bishawabb.

 
Top