Oleh : Nelliya Azzahra


Anak membawa kebahagiaan tersendiri bagi setiap orangtua. Keberadaan anak dalam sebuah keluarga merupakan pelengkap bagi pasangan suami-isteri. Hadirnya sangat dinanti, bahkan tak sedikit pasangan yang sudah lama menikah tapi belum kunjung diberikan anak akan merogoh kocek mengeluarkan uang banyak demi mendapat momongan, seperti melalui bayi tabung.

Namun, fakta saat ini sungguh miris saat anak-anak yang seharusnya dididik penuh kasih sayang, dilindungi, dan diayomi malah menjadi korban kekerasan. Kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak tak berkurang malah tiap tahun semakin meningkat.

Salah satunya di Kabupaten Bentul. Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Bantul Muhamad Zainul Zain menyebut, pada 2019 jumlah laporan yang masuk kepada PPA tercatat ada 155 kasus. Sedangkan di 2020, yang baru dihitung sampai dengan Oktober kemarin, jumlah kasus sudah menembus angka 120 kasus terlapor.

“Ini tentu kondisi yang sangat memprihatinkan. Perlu ada upaya dan tindakan yang nyata dalam mengatasi persoalan ini," kata Zainul saat dikonfirmasi SuaraJogja.id, Minggu (8/11/2020).

Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2019 khususnya di satuan pendidikan, tercatat sebanyak 21 kasus pelecehan seksual dengan jumlah korban 123 anak. Dari 123 korban ini, terdapat 71 anak perempuan dan 52 anak laki-laki, sedangkan untuk jumlah pelaku ialah 21, yang terdiri dari 20 laki-laki dan satu perempuan. Mirisnya lagi, kasus kekerasan seksual tidak hanya terjadi pada jenjang SD, SMP dan SMA saja, melainkan juga hingga jenjang perguruan tinggi. (suara.com, 23/03/2020)

Kekerasan yang dilakukan pada anak-anak apa pun alasannya tidak bisa ditolerir. Kekerasan yang mereka alami bisa saja meninggalkan rasa trauma mendalam. Mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual yang bukan hanya melukai fisik tapi juga psikis.

Kekerasan pada anak bisa terjadi di lingkungan, sekolah dan di rumah. Orangtua bahkan menjadi pelaku kekerasan pada anaknya sendiri. Kondisi saat ini membuat ibu rawan stres. Mereka menjadi tidak fokus mendidik anak-anak, karena harus  memikirkan juga masalah ekonomi. Akhirnya ibu bekerja di luar demi membantu ekonomi keluarga. Akibatnya anak-anak tak lagi mendapatkan perhatian penuh. Setelah lelah seharian bekerja ditambah lagi mengurus urusan domestik membuat ibu gampang naik pitam akibatnya melampiaskan kekerasan fisik pada anak. Anak-anak tak bersalah menjadi bulan-bulanan kekesalan sang ibu.

Begitupun kekerasan seksual yang dialami anak-anak bisa dilakukan orang terdekat. Seperti ayah kandung sendiri. Sistem sekuler membuat situs porno mudah diakses secara bebas. Akibatnya setelah menonton film porno tersebut tak jarang ayah melampiaskan nafsunya pada anak kandung. Juga terjadi pencabulan terhadap anak-anak ini semua tidak terlepas dari sistem saat ini yang minim perlindungan pada rakyatnya.

Maka, perlu disadari bahwa anak-anak adalah amanah dari Allah kepada setiap orangtua. Kelak, orangtua akan dimintai pertanggungjawaban atas keberadaan mereka. Dengan memahamkan hal ini harapannya akan menumbuhkan sayang dan cinta untuk bersama menjaga amanah Allah. 

Tidak cukup sampai di sini saja. Tentu, kita butuh solusi mendasar agar memutus mata rantai kekerasan terhadap anak-anak. Sistem sekuler saat ini terbukti membuat kasus kekerasan pada anak kian meningkat.

Dalam mengatasi kasus kekerasan seksual terhadap anak, Islam memiliki beberapa cara. Di antaranya adalah negara berkewajiban mendorong rakyatnya per individu untuk taat terhadap aturan Allah Swt. Negara juga mengharuskan penanaman akidah Islam pada diri setiap insan (umat). Hal ini ditempuh mulai dari pendidikan formal maupun non formal melalui beragam sarana dan institusi.

Kemudian dalam sistem ekonomi Islam, negara harus menyediakan lapangan kerja yang cukup dan layak, serta mendorong para kepala keluarga untuk dapat bekerja dan mampu menafkahi keluarganya. Sehingga tidak akan ada anak yang terlantar ataupun krisis ekonomi yang memicu munculnya kekerasan anak oleh orangtua yang stres. Para perempuan pun akan fokus pada fungsi keibuannya sebagai ummu warobatul bait dan madrasatul ula bagi generasi. Yaitu mengurus rumah tangga, juga mengasuh, menjaga, dan mendidik anak-anaknya.

Islam mewajibkan negara untuk terus membina ketakwaan individu rakyatnya. Negara menanamkan ketakwaan individu melalui kurikulum pendidikan, seluruh perangkat yang dimiliki dan sistem pendidikan baik formal maupun informal. Negara menjaga suasana ketakwaan di masyarakat antara lain dengan melarang bisnis dan media yang tak berguna dan berbahaya, semisal menampilkan kekerasan dan kepornoan.

Individu rakyat yang bertakwa tidak akan melakukan kekerasan terhadap anak. Masyarakat bertakwa juga akan selalu mengontrol agar individu masyarakat tidak melakukan pelanggaran terhadap hak anak. Masyarakat juga akan mengontrol negara atas berbagai kebijakan negara dan pelaksanaan hukum-hukum Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top