Oleh Aisyah Farha 

(Komunitas Kesatria Aksara Bandung)


 Mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri akhirnya geram dengan aksi anarkis yang dilakukan oleh para milenial yang merusak halte Transjakarta beberapa waktu lalu. Ia mempertanyakan sumbangsih apa yang telah dilakukan para milenial sehingga berani merusak fasilitas umum. Seperti yang kita ketahui, banyak mahasiswa dan pelajar yang ikut menyuarakan ketidaksetujuannya atas pengesahan UU Omnibus Law. 


“Anak muda kita, aduh, saya bilang sama Presiden, jangan dimanja, dibilang generasi kita adalah generasi ‘milenial’. Saya mau tanya, hari ini, apa sumbangsihnya generasi ‘milenial’ yang sudah tahu teknologi seperti kita, bisa viral tanpa bertatap langsung? Apa sumbangsih kalian untuk bangsa dan negara ini?” kata Megawati saat memberi sambutan di acara peresmian beberapa kantor PDIP di daerah secara virtual. (news.detik.com, 28/10/2020).


Pernyataan ini mendapat sindiran pedas dari Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (Prodem) Iwan Sumule. Ia mengatakan, “Anak-anak milenial belum pernah jual aset negara. Anak-anak milenial belum pernah ampuni koruptor. Anak-anak milenial belum pernah ambil alih presiden,” sindirnya (wartaekonomi.co.id, 30/10/2020)


Indonesia Negara Kaya, Rakyatnya Menderita, Penguasanya Bergelimang Harta


Tujuh puluh lima tahun sudah Indonesia merdeka, namun kesejahteraan masih belum dirasakan secara merata oleh rakyatnya. Hutang negara semakin menggunung dan mencekik, pendidikan mahal tidak terjangkau, kesenjangan sosial makin terlihat jelas, kriminalitas kian mengancam, korupsi merajalela dilakukan bersama-sama. Lalu apa saja yang telah dilakukan wakil rakyat?


 Kita tentu saja mengetahui banyak sekali kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa yang tidak sejalan dengan keinginan rakyat. Liberalisasi sumber daya alam semakin jelas menyengsarakan rakyat dan hanya menguntungkan segelintir orang.


 UU Ciptaker yang telah disahkan nyatanya hanya berpihak pada keuntungan para investor saja. Poin-poin yang merugikan rakyat dibungkus dengan cantik seolah ini adalah upaya untuk mensejahterakan rakyat. Begitu derasnya gelombang penolakan tidak dihiraukan penguasa, inilah menambah panjang bukti ketidak berpihakan mereka pada rakyat. 


 Maka kegagalan sistem kapitalisme yang diadopsi negeri ini telah terlihat dengan sangat jelas. Indonesia adalah negara yang kaya, namun rakyatnya sengsara, para penguasa bergelimang harta. Sungguh sistem ini mendzalimi rakyat dan harus dihentikan. Kita tidak bisa terus bertahan dengan sistem ini lebih lama, karena akan sangat berbahaya untuk anak dan cucu kita kelak.


Ganti Kapitalisme Dengan Sistem Islam


 Kita tidak bisa megharapkan agar sistem ini berpihak pada rakyat, namun kita bisa menggantinya dengan sistem yang lebih baik. Sistem yang shahih, yang tidak menyengsarakan rakyat. Sistem yang sudah terbukti dapat mensejahterakan rakyat disemua bidang kehidupan.


Sistem itu adalah sistem Islam. Dalam Islam negara adalah pengurus rakyat, bukan penguras rakyat. Sesuai dengan ajaran dari baginda Rasulullah Saw, 

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).


 Sistem Islam sudah sejak awal mengatur bahwa seorang pemimpin harus mengurus rakyatnya, dan tentu saja ia akan dimintai pertanggung jawabannya kelak diakhirat. Dengan aturan seperti ini, para penguasa akan serius untuk mensejahterakan dan melindungi rakyatnya, bukan malah menipu dan menguras kekayaan alamnya.


 Para penguasa juga akan mendukung para generasi muda untuk bersemangat dalam menuntut ilmu, dan tidak akan marah jika di kritik oleh kaum muda. Karena kaum muda juga merupakan rakyat yang harus di dengar aspirasinya. Tidak seperti hari ini, kaum muda yang menyampaikan kritik dipandang sebelah mata, diancam dan diperlakukan tidak manusiawi.


 Sejarah mencatat kegemilangan sistem Islam dengan tinta emas, bagaimana para pemuda yang lahir darinya dapat mengubah wajah dunia. Sejak awal penyebaran Islam, para pemuda mendominasi perjuangan. Shalahuddin Al Ayubi berusia 23 tahun saat merebut Baitul Maqdis, dan Muhammad Al Fatih berusia 21 tahun saat menaklukan Konstantinopel.


 Kini saatnya kaum milenial negeri ini menyadari potensinya jika bersama sistem Islam, dan berusaha mengganti sistem kapitalisme dengan sistem yang lebih baik, yaitu sistem Islam yang berasal dari Sang Maha Pencipta alam semesta. Maka keberkahan akan mengalir seperti air hujan yang tidak dapat dibendung.

 ”Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS ath-Thalaaq: 2-3)


Wallahu A'lam Bish Shawab

 
Top