Oleh : Umi Rizkyi

(Komunitas Setajam Pena)



Selama setengah tahun lebih Indonesia bahkan dunia dilanda pandemi. Kesehatan mental pun benar-benar diuji. Semakin meluasnya dampak pandemi, semakin memicu depresi. Tak jarang pula kita jumpai, banyak orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Jumlahnya pun semakin bertambah.

Adapun hal-hal yang memacu adanya depresi yang semakin menjerat seseorang. Di antaranya yaitu, pertama adanya PHK yang merobohkan keluarga. Betapa tidak, jutaan orang harus berhenti bekerja dan harus kehilangan mata pencaharian. Sehari dua hari, mereka masih bisa bertahan. Lama kelamaan, mereka pasti akan sering marah, stres dan bahkan depresi. Seorang sosiolog Musni Umar menyatakan PHK massal ini berbahaya. Karena dampaknya tidak hanya korban PHK itu sendiri, namun juga lingkungan sosialnya. Misal keluarga, dimana tidak ada pemasukan, sedangkan pengeluaran selalu saja ada, misalnya biaya anak sekolah, bayar air, listrik, kontrakan, kebutuhan pangan dan lain-lain.

Apalagi UU Ciptaker yang baru disahkan, luar biasa efeknya. Seorang laki-laki kehilangan pekerjaannya, kepercayaan diri di lingkungan masyarakat telah sirna, sehingga merasa tidak berharga dan tak berguna lagi. Di sisi lain, para istri berbondong-bondong antri di pengadilan agama untuk melakukan gugatan cerai terhadap suaminya. Dengan alasan, karena suami tak lagi mampu menopang nafkahnya kemudian mereka memilih untuk kembali sendiri.

Padahal hal tersebut bukanlah solusi. Justru itu akan menambah beban dirinya. Di mana dirinya harus bekerja membanting tulang, untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anak-anaknya. Sesungguhnya, hancurnya mahligai rumah tangga itu tentu saja menjauhkan dari keberkahan. Karena antara suami istri tak lagi bisa bekerja dan saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kalaulah mereka bisa sedikit bersabar, mencari solusi bersama maka sebenarnya mereka akan lebih tentram hatinya. Dan insyaallah lebih berkah.

Kedua, adanya krisis harga diri. Bagi seorang laki-laki memiliki pekerjaan dan pendapatan adalah sebuah kebutuhan dasar. Jika itu tidak ada, maka hancurlah harga dirinya. Dengan begitu jika istri tidak peka dan hanya memojokkan suami, maka depresi tak akan mampu dihindarkan. Ujung-ujungnya, bunuh diri sebagai jalan pintasnya.

Sesungguhnya dalam hal ini, seorang penguasa tidak boleh tinggal diam. Harus memperhatikan setiap bentuk kebijakan yang diambil. Memang tidak salah sebagian yang lainnya mendapatkan bantuan. Namun tidak cukup sampai di situ. Bantuan lama kelamaan juga akan habis dan itu tidak mungkin akan ada selamanya.

Hendaknya negara harus memulihkan sektor ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Jangan sampai negara berlepas tangan dan abai dalam masalah ini. Karena ini tidak hanya berdampak kepada seorang suami, namun juga istri dan anak-anaknya. Bahkan tak jarang pula kita ketahui, nyawa mereka pun terancam, karena menjadi sasaran gelap suami.

Ketiga, stigma negatif terhadap korban terinfeksi Covid-19. Bukan hanya PHK saja depresi bisa terjadi. Terinfeksinya Covid-19 juga membuat orang terjerat oleh depresi. Terbukti di beberapa negara, angka kematian akibat bunuh diri diakibatkan oleh terinfeksi Covid-19 semakin bertambah. Misalnya AS, Italia, Arab Saudi, India, Inggris Bangladesh dan Jerman. Ada empat faktor resiko utama karena depresi, menurut (psichologytoday.com) yaitu pertama, adanya jarak dan isolasi sosial. Kedua, adanya resesi ekonomi global akibat Covid-19. Ketiga, trauma profesional kesehatan. Keempat, adanya stigma dan diskriminasi.

Adapun upaya yang harus dilakukan ialah membangun manusia berbasis agama. Karena semua ini terjadi disebabkan oleh diterapkannya sistem sekuler. Pemisahan agama dengan kehidupan. Padahal semua percaya, bahwa kekuatan akan keyakinan adanya Allah lah yang mampu mengontrol sikap putus asa. Dengan begitu maka akan muncul harapan baru.

Tidak ada dalam sejarah seseorang yang memiliki akidah yang kuat dan benar akan putus asa bahkan bunuh diri. Kalau kita mendengar kisah Bilal bin Rabah, begitu besar ujiannya dihukum dengan dijemur di Padang pasir dan ditimpakannya batu besar di perutnya. Bukan saja sekadar ujian yang bertubi-tubi bahkan nyawanya sebagai taruhannya, tapi beliau tetap istiqomah dan tidak putus asa.

Dengan begitu, maka solusi tuntas menghadapi semua ini ialah dengan diterapkannya sistem Islam. Yang jelas merupakan agama langit yang dijamin kemurniannya. Berbasis wahyu, yang berasal dari Tuhannya, sehingga sesuai fitrahnya.

Oleh karena itu, maka mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat adalah solusi tuntas untuk menjaga dan melindungi manusia dari depresi massal. Dengan demikian, maka masyarakat akan terjaga dengan suasana keimanan. Berbagai macam aktivitas manusia tidak berfokus pada materialisme dunia saja. Namun ibadah, yang hanya patuh dan bertakwa kepada Allah, Sang Pencipta. Jadi apa pun ketetapan-Nya adalah yang terbaik, sehingga manusia dengan sadar tidak akan berputus asa. Kini saatnya kita tidak boleh putus asa untuk berjuang memperjuangkan kembalinya Islam di tengah-tengah kehidupan.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top