Oleh : Hj. Ummu FauziI 

Ibu Rumah Tangga & Pegiat literasi

                                                           

Islam adalah agama yang sempurna yang Allah turunkan untuk umat-Nya. Allah sertakan seperangkat aturan sebagai pedomannya yaitu Al-Quran. Dan Allah utus Rasul-Nya untuk menjalankan syariat dan menjadi  teladan bagi umat yaitu Nabi Muhammad saw. Begitu sempurna nya agama Islam sehingga tak satu pun aspek kehidupan bagi umat yang tidak diatur oleh syariah Islam. Dari mulai ibadah, ahlak, makanan, minuman, berpakaian , muamalah hingga berpolitik dan negara semua diatur tatacaranya. Allah berfirman :

“Pada hari ini telah aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, telah aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan telah aku ridhoi Islam sebagai agama kalian. “ (TQS. Al-Maidah{5}:3)


Kesempurnaan Islam  adalah nikmat terbesar dari Allah ‘Azza wa Jalla untuk umatn-Nya. Mereka tidak membutuhkan lagi agama selain islam dan Nabi mereka Muhammad saw. Karena Islam adalah agama yang paripurna tidak ada alasan bagi umat untuk tidak taat dan menjalankan syariah Islam secara total. Inilah pembuktian kecintaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Tidak patut lisan yang sudah membaca kalimat syahadat mengambil pilihan ketetapan di luar ketetapan Allah dan Rasul-Nya.(TQS. al-Ahzab{33}:36)

Ketetapan ini juga mengikat para penguasa. Mereka harus meletakan Islam sebagai petunjuk dalam setiap aturan dan kebijakannya. Mereka wajib memelihara urusan rakyatnya berdasarkan aturan Islam tanpa memandang kepentingan kelompok, pengusaha atau asing.


Al-Quran adalah pedoman atau petunjuk hidup untuk seluruh umat, tentu merupakan bencana besar ketika  al-quran terlepas dari kehidupan umat dan terpisah dari kekuasaan. Ketika al-Quran dicampakan, maka al-quran akan   lepas dari kekuasaan, Para pemimipn memutuskan hukum  berdasar pada hukum warisan penjajah dan hawa nafsu nya. Hukum yang diberlakukan untuk rakyatnya tidak akan sama dengan hukum yang akan diberlakukan untuknya dan golongannya. Para pemimipin akan membunuh siapa saja yang tidak setuju dengannya dan akan menyesatkan siapa saja yang taat padanya.


Gambaran diatas telah Nampak nyata di depan umat. Al-quran sudah lama dicampakan. Al-Quran hanya ada, dibaca dipelajari jadi hafalan dan dikaji, tetapi apa yang terkandung didalamnya yang merupakan tuntunan dalam kehidupan sebagian  ditolak dan dicampakan dengan berbagai alasan. Penguasa membuat aturan dan keputusan hanya untuk menguntungkan kepentingan segelintir orang. Hukumpun diberlakukan berbeda antara rakyat dan kelompoknya. Penguasa juga tak segan-segan berlaku zalim kepada penentangnya, mereka senang di puja puji, dibenarkan kedustaannya ketimbang mau dinasehati dan diluruskan. Dia suka ingkar janji dan berbuat kemungkaran.

Rasulullah saw bersabda:

“Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara kepada kalian tetapi mereka berdusta. Mereka bekerja tetapi kinerja mereka snagat buruk. Mereka tidak suka kepada kalian kecuali memuji keburukan mereka, kebohongan mereka hingga memberi mereka hak yang mereka senangi.” (HR ath-Thabarani)


Sebagai umat Islam tentu punya tuntunan yang jelas dalam menghadapi penguasa yang demikian karena Allah Sang Maha Pencipta, Maha Tahu apa yang akan terjadi. Ketika para sahabat bertanya dalam mengahadapi situasi demikian Beliau menjawab: 

“Lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh pengikut Isa bin Maryam. Mereka digergaji dan disalib di tiang kayu(tetapi mereka tetap bersabar). Mati dalam ketaatan kepada Allah adalah lebih baik daripada hidup dalam kemaksiatan kepada Allah.” (HR ath-Thabrani dan al-Haitsami)


Inilah yang dipesankan oleh Rasulullah teguh dalam keyakinan,  bersikap sebagaimana kaum Hawariyyun yang tetap membela dan memperjuangkan risalah yang dibawa Nabi Isa as. Meskipun didera dengan berbagai kezaliman, mereka tak sejengkalpun mundur dari ketaatan kepada Allah SWT. Selain diminta teguh dalam ketaatan, kitapun diingatkan tentang besarnya pahala amar makruf nahi mungkar  dihadapan pemimpin zalim. Nabi saw bersabda :

“Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim (HR Abu Dawud).


Wallahu a’lam bi ash-shawab.

 
Top