Oleh : Verawati, S.Pd

(Pegiat Opini Islam dan Praktisi Pendidikan)


Persoalan kekerasan terhadap anak kembali muncul di berbagai daerah, termasuk daerah yang dinyatakan kawasan layak anak. Sebagaimana dilansir oleh media suaradjogja.id, 8 November 2020. Kekerasan terhadap anak di Kabupaten Bantul masih sangat tinggi. Bahkan dibandingkan dengan 2019, jumlah kasus di Bumi Projotamansari tahun ini berdasarkan catatan sampai dengan Oktober lalu sudah menunjukkan peningkatan. Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Bantul Muhamad Zainul Zain menyebut, pada 2019 jumlah laporan yang masuk kepada PPA tercatat ada 155 kasus. Sedangkan di 2020, yang baru dihitung sampai dengan Oktober kemarin, jumlah kasus sudah menembus angka 120 kasus terlapor.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur Andriyanto mengatakan tingginya kasus kekerasan terhadap anak terjadi di dalam rumah dan pelakunya adalah orang-orang yang terdekat termasuk orangtuanya sendiri. Sebab, saat kondisi pandemi corona ini keluarga banyak beraktivitas di rumah.  

Tak dipungkiri, berkumpul dalam ruang yang terbatas (rumah) akan menimbulkan gesekan dan singgungan. Baik antara suami dan istri, antara anak dan orangtua, antara anak itu sendiri bahkan antar tetangga. Maka selain kasus kekerasan terhadap anak, kasus perceraian pun meningkat. 

Tingginya kasus perceraian akan berkorelasi terhadap kekerasan terhadap anak. Sebagaimana yang terjadi di wilayah Jawa Timur. Selain angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, Andriyanto juga menyoroti tingginya angka perceraian di wilayah setempat. Andri membeberkan, sepanjang 2019 tercatat hanya ada 8.303 kasus perceraian. Angka itu meningkat drastis pada 2020 yang hingga akhir September tercatat ada 55.747 kasus perceraian. Menurutnya, masalah tersebut juga harus segera dicarikan solusinya. (Republika.co.id, 03/11/2020)

Sesungguhnya kasus kekerasan terhadap anak maupun perempuan adalah bukanlah masalah tunggal. Melainkan masalah sistemik. Anak-anak yang  menjadi korban kekerasan oleh orangtua atau lingkungannya adalah akibat dari permasalahan yang terjadi. Bisa akibat terjadinya ketidakharmonisan orangtua dan perceraian, orangtua yang lemah iman dan ilmu, hukum yang tidak membuat jera para pelaku dan lemahnya pendidikan karakter pada anak sehingga anak-anak mudah terjerat pada pergaulan bebas.

Ironis memang orangtua yang selayaknya menjadi contoh teladan bagi anak-anaknya justru menjadi penghancur anaknya sendiri. Padahal keluarga adalah benteng terakhir dalam penjagaan anak dari bobroknya sistem saat ini. Begitu pula, anak adalah generasi penerus bagi bangsa yang akan melanjutkan estapet kehidupan ini. Maka seharusnya mereka mendapatkan perlindungan kehidupan yang terbaik dalam hal pendidikan dan juga keamanan dan kasih sayang. Sebab peran mereka begitu besar sebagai harapan kehidupan yang lebih baik lagi.

Islam sebagai Solusi

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” Artinya orangtua khususnya dan lingkungan secara umum  diberikan tanggung jawab dalam hal mendidik anak-anaknya atau generasi. Maka dalam Islam setiap individu diberikan penguatan keimanan dan kesadaran dalam menjalankan hukum syara. Sebab, inilah kontrol yang penting dalam mengurangi tindak kejahatan termasuk pada anak-anak. Islam mendorong pula untuk berkasih sayang terhadap anak-anak. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Suatu hari, saat perayaan idul fitri tiba, Rasul mendengar ada anak kecil yang menangis. Kemudian Rasul mendatangi anak tersebut dan mendengarkan keluh kesahnya. Setelah mendengarkan cerita anak tersebut. Rasul langsung memberikan senyuman dan solusi. Bahwa Rasul mau dijadikan ayah oleh anak tersebut dan memberikannya pakaian yang bagus. Begitulah setiap individu dalam Islam akan berlomba-lomba dalam kebaikan atas dorongan keimanan.

Dalam tatanan hukum, Islam akan menindak tegas pelaku kejahatan. Akan memberlakukan hukuman qishas bagi pelaku pembunuhan. Darah dibalas dengan darah, luka dibalas dengan luka. Sehingga akan memberikan efek jera bagi pelaku juga efek pencegah bagi yang lainnya.

Sedangkan dari tatanan sosial, Islam memberlakukan sistem pergaulan dalam kehidupan secara islami. Wanita yang sudah baligh diwajibkan untuk menutup aurat dan ghadul bashar (menundukan pandangan) begitu pula dengan pria. Dilarang berkhalwat (berduaan) dan berikhtilat (campur baur). Sehingga  dalam masyarakat tidak terjadi pemuasan hawa nafsu secara liar dan terjaga kehormatan  baik pria maupun wanita.

Dari sisi ekonomi, Islam akan memberikan pekerjaan bagi setiap pria. Islam juga akan memberikan jaminan terhadap masalah pendidikan, kesehatan dan keamanan. Sehingga  beban ekonomi orangtua tidak terlalu berat. Berbeda dengan kondisi saat ini yang semuanya ditanggung oleh ayah atau orangtua. Dengan konsep seperti ini, fungsi ibu sebagai ummu warobatul bait akan berjalan dengan baik. Tidak dituntut untuk mencari tambahan keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ibu hanya fokus pada tugasnya yaitu mendidik anak dan ibu pengatur urusan rumah tangga.

Demikianlah tatanan Islam dalam rangka melindungi masyarakat termasuk anak-anak. Sebab di tangan merekalah estapet kehidupan dan peradaban akan dilanjutkan. Baik buruknya masa depan bisa ditentukan oleh baik buruknya anak-anak atau generasi saat ini. Anak-anak dididik dan diarahkan sesuai dengan fitrahnya dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan. Sehingga mereka mampu dan siap untuk menjadi calon-calon pemimpin di masa yang akan datang.  Oleh karenanya, perjuangan kita tidak hanya sebatas perbaikan pribadi atau parsial semata. melainkan perbaikan yang sistemik. Yakni dengan mengupayakan tegaknnya sistem kehidupan Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top