Islam Selamatkan Generasi dari Rusaknya Narkoba


Oleh : Dewi Humairah

(Aktivis Muslimah Millenial Ponorogo, Member AMK)


Mewabahnya Covid-19 kini justru menjadi pemicu maraknya peredaran narkoba. Tak lain karena perhatian pemerintah tengah tertuju pada bagaimana mencegah penyebaran virus corona. Karenanya masyarakat harus waspada.

Padahal narkoba sangat membahayakan bagi tubuh manusia. Tapi saat ini justru para pemuda banyak yang mengonsumsinya.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ngawi, Kiai Dr. Ahmad Halil Thahir dalam workshop "Indonesia Darurat Narkoba", Rabu (18/11/2020) di Notosuman.

Menurutnya selama wabah Covid-19 memicu stres pada sebagian orang. Kondisi ini sangat rentan membuat orang terjerumus memakai barang haram tersebut. Sehingga peredaran narkoba selama pandemi Covid-19 patut diwaspadai. 

"Peredaran narkoba jadi ancaman serius di tengah pandemi Covid-19," tegas Kiai Halil.

Sementara Ketua Progam Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Kabupaten Ngawi Ony Anwar, yang hadir dalam workshop juga menyampaikan, MUI Ngawi bisa berperan dalam upaya penyalahgunaan narkoba melalui fatwa yang disampaikan.

Calon Bupati Ngawi itu juga menyampaikan ancaman narkoba di Kabupaten Ngawi belum begitu mengkhawatirkam. Kendati demikian, Ony Anwar menegaskan, peredaran narkoba harus diberantas.

Itulah ketika negara abai pada nasib umat. Padahal sebelum pandemi pun narkoba juga sudah banyak yang mengonsumsinya. Apatah lagi ini di saat pandemi banyak faktor yang menyebabkan mereka melakukan itu.

Salah satu contohnya para pekerja banyak yang di-PHK sedangkan mencari pekerjaan susah, akhirnya mereka mencari jalan pintas yakni dengan berjualan narkoba juga mengonsumsinya.

Selain faktor itu, narkoba memang tak diberantas sampai ke akarnya. Hanya per individu saja. Negara juga tidak tegas dalam menangani kasus narkoba yang akhirnya semakin banyak yang mengonsuminya bahkan di penjara pun mereka tetap melakukannya.

Ini menunjukkan betapa sistem saat ini masih tambal sulam dan bersifat reaksioner. Sistem ini belum mampu melakukan langkah-langkah pencegahan/preventif secara komprehensif. Hal ini sangat wajar karena ia dibangun atas asas demokrasi transaksional.

Dimana penguasa yang dilantik akan saling berkolaborasi pada para penguasa yang justru mendanai kampanyenya. Maka memberantas kemaksiatan apalagi omsetnya besar seperti narkoba, akan sulit sekali dilakukan karena justru didukung penguasa.

Ucapan cawabup Ony yang menyatakan kasus narkoba belum begitu mengkhawatirkan, juga menunjukkan betapa penguasa tidak tanggap dan tidak berpikir komprehensif. Penguasa yang amanah tidak akan menunggu masalah itu membesar dulu, tetapi akan melakukan langkah-langkah pencegahan.

Hingga apa pun bentuk kemaksiatan yang hakikatnya adalah perbuatan kriminal, dapat dicegah sejak dini. Dan itu hanya bisa dilakukan ketika Islam diterapkan dalam kehidupan manusia melalui khilafah.

Wallahu a'lam bishshawab.