Oleh : Tri Sundari

Member AMK dan Pendidik Generasi


Amerika Serikat sebagai salah satu kekuatan dunia terbesar saat ini, telah memiliki seorang kepala negara baru. Dengan terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat mengalahkan petahana Donald Trump.

Dilansir dari Antara news, 8 November 2020. Kemenangan Biden pada Sabtu (7/11) di Pennsylvania menempatkannya di atas ambang 270 suara Electoral College yang ia butuhkan untuk meraih kursi kepresidenan.

Sebagai presiden terpilih, Biden berjanji ia akan berusaha untuk menyatukan negara dan "mengerahkan kekuatan kepatutan" untuk memerangi pandemi Covid-19, membangun kembali kemakmuran ekonomi, menjamin perawatan kesehatan untuk keluarga Amerika, dan membasmi rasisme sistemik.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa beberapa waktu terakhir, Amerika dilanda krisis rasisme yang menghasilkan demo besar-besaran di berbagai wilayah.

Dilansir dari Jakbar News.com, 7 November 2020. Joe Biden berjanji sebagai seorang presiden terpilih, dia akan memperlakukan Islam sebagaimana mestinya, seperti keyakinan agama besar lainnya.

Selain itu, secara mengejutkan dalam video tersebut Biden juga mengutip hadist Nabi Muhammad saw., "Hadist Nabi Muhammad saw. memerintahkan siapa pun di antara kamu melihat kesalahan biarkan dia mengubahnya dengan tangannya jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya," kata Joe Biden.

Selain itu, Joe Biden juga menegaskan, suara umat muslim Amerika juga akan menjadi bagian dari pemerintahan jika ia sudah resmi menjabat jadi Presiden AS. Biden juga berjanji akan mengakhiri larangan (Travel ban) bagi muslim pada hari pertama menjabat sebagai presiden.

Dilansir dari Sindo News.com, 6 November 2020. Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih dari Partai Demokrat Joe Biden akan mencabut sejumlah kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump terkait Palestina dan Timur Tengah. 

Selain itu wakil presiden terpilih Kamala Harris juga berjanji membatalkan keputusan Trump yang mencabut dana pada berbagai organisasi yang memberikan bantuan penting pada Palestina.

Harris juga mengomentari larangan muslim yang sangat kontroversial oleh Trump. Dia menekankan bahwa diskriminasi dan fanatisme tidak akan mendapat tempat dalam pemerintahan Biden-Harris. 

Kampanye Biden terkait sikap terhadap Islam dan muslim tidak bisa menjadi sandaran perubahan kebijakan, karena dalam sistem demokrasi, kampanye hanya alat untuk mengumpulkan suara. Selain itu, kampanye pada sistem demokrasi bukan janji yang bisa dimintai pertanggungjawaban.

Pada hakikatnya demokrasi sudah cacat sejak lahir dan merupakan sistem bobrok yang tidak layak menjadi gantungan harapan termasuk bagi perbaikan kondisi muslim di berbagai belahan dunia. Kaum muslim seharusnya sudah mulai bersatu untuk kembali menerapkan sistem Islam dalam kehidupannya.

Dengan terpilihnya presiden baru, kebijakan terhadap Islam, dimungkinkan hanya akan berubah gaya/style dan pendekatan. Akan tetapi watak kolonialis akan tetap menjadi wajah permanen kebijakan mereka.

Berharap perbaikan melalui sistem buatan manusia tidaklah membawa pada perubahan hakiki, karena sejatinya seorang muslim harusnya menggunakan aturan Islam yang bersumber pada Al-Qur'an dan Hadist sebagai  pedoman hidupnya.

Dengan penerapan sistem Islam kafah, maka kaum muslim maupun non muslim akan hidup damai dan sejahtera dalam naungan Daulah Khilafah ala minhajinubuwwah.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top