Oleh : Lilis Suryani


Selalu saja ada hal menarik untuk kita eksplor ketika berbicara mengenai pulau yang terletak di paling timur Indonesia ini. Papua adalah tempat yang menjadi tujuan destinasi wisata yang paling diminati. Papua memiliki daya pikat yang tersembunyi di balik setiap jengkal tanahnya. Pengalaman wisata yang dijanjikan Papua sungguh berbeda dengan wisata di tempat lain. Keindahan Bumi Cendrawasih bisa membuat siapa saja jatuh hati.

Namun, kali ini tidak akan berbicara keindahan Papua yang sudah tidak diragukan lagi. Karena yang disoroti adalah peristiwa kebakaran hutan yang telah merusak keindahan dari alam surgawi ini. Tangan-tangan kotor disertai nafsu keserakahan manusia, menodai kesucian alam yang telah dijaga sejak zaman nenek moyang dulu. Dan yang lebih menyakitkan pelakunya adalah tamu yang sengaja diundang, lalu mengeruk kekayaan tanah Papua.

Sebagaimana investigasi yang dilakukan oleh Forensic Architecture dan Greenpeace Indonesia, yang diterbitkan pada Kamis (12/11/2029) bersama dengan BBC, menemukan bukti bahwa Korindo telah melakukan pembakaran hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawitnya.

Investigasi menemukan bukti kebakaran di salah satu konsesi Korindo selama beberapa tahun dengan pola 'pembakaran yang disengaja' secara konsisten. Anak usaha perusahaan Korea Selatan (Korsel), Korindo Group, menguasai lebih banyak lahan di Papua daripada konglomerasi lainnya. Perusahaan ini telah membuka hutan Papua lebih dari 57 ribu hektare, atau hampir seluas Seoul, ibu kota Korsel. (detikNews.com, 14/10/2020)

Sungguh mencengangkan, Papua dengan SDA yang begitu luar biasa seakan terabaikan dari perhatian pemerintah pusat. Hal ini memperbanyak bukti mengenai kemandulan sistem demokrasi dalam melindungi rakyat. Sehingga hak rakyat atas SDA agar terlepas dari campur tangan dan perusakan yang dilakukan asing tidak dilaksanakan dengan benar.

Akibatnya, Perusahaan Korea begitu leluasa membakar hutan untuk membuka lahan sawit. Hal ini mestinya tidak hanya dilihat sisi kerugian ekonomi dan lingkungan hidup tapi juga simbolisasi kepentingan asing yang semakin mencengkeram situasi politik dan ekonomi Papua.  

Situasi politik Papua dan tuntutan otonomi khusus yang  semakin menguat, tidak lepas dari ‘leluasa’ nya asing memainkan kepentingan ekonomi dan politiknya di wilayah ini. Tentu saja hal ini tidak boleh terus terjadi. Jika kita masih menginginkan Papua menjadi bagian dari bangsa ini. Harus ada solusi yang akurat untuk menyelesaikan polemik berkepanjangan di tanah mutiara hitam ini.

Tentu, solusi itu tidak akan kita dapatkan dari sistem demokrasi. Karena faktanya, sistem demokrasi justru rentan terhadap disintegrasi. Kasus lepasnya Timor Timur dari pangkuan ibu pertiwi, cukup menjadi bukti bahwa sistem demokrasi bukanlah sistem yang ideal untuk mempersatukan bangsa, apalagi hingga memperluas wilayah kekuasaan. Belum lagi bayang-bayang GAM dan RMS yang masih terus menggaungkan separatisme. Hal ini pun membuktikan bahwa sistem demokrasi lemah dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Mari kita bandingkan dengan sebuah Sistem yang berasal dari Allah Swt. Karena fakta secara historis dan empiris, membuktikan bahwa pernah ada sebuah negara yang luas wilayah kekuasaannya hampir meliputi dua per tiga bagian dunia. Dengan beragam budaya dan agama, hidup harmonis dan sejahtera. Itulah negara khilafah Islam, yang berasaskan pada syariat Islam.

Bahkan berbondong-bondong bangsa-bangsa nonmuslim menyatakan diri ingin bergabung di bawah naungan kekuasaan Islam. Dengan sukarela dan tanpa paksaan. Dan jikapun ada jihad di sana, maka rakyat merasakan jihad adalah pembebasan mereka dari kelaliman penguasa sebelumnya.

Inilah yang sebagiannya digambarkan oleh salah satu penulis Barat, Will Durant yang dengan jelas mengatakan:

“Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant – The Story of Civilization)

“Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupannya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, sehingga jumlah orang yang memeluknya dan berpegang teguh padanya pada saat ini [1926] sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik di antara mereka.” (Will Durant – The Story of Civilization)

Maka, inilah yang semestinya menjadi cita-cita umat saat mendapati sistem hidup dan kepemimpinan sekuler kapitalis demokrasi hari ini tak mampu mewujudkan cita-cita mereka. Yaitu hidup dalam ketenteraman dan keadilan. Jauh dari rasa takut dan diskriminasi yang mencederai kemanusiaan.

Masyarakat Indonesia termasuk saudara-saudara di Papua harus menyadari, bahwa ketidakadilan yang mereka rasakan justru karena mereka jauh dari aturan-aturan yang datang dari Tuhan. Yakni jauh dari aturan Islam yang sudah terbukti mampu menjadi solusi atas setiap permasalahan. Sekaligus menjadikan negaranya menjadi kuat dan berdaulat.

Sungguh, lepasnya Timor Timur semestinya memberikan pelajaran. Begitupun terpecahnya kepemimpinan Islam hingga menjadi lebih dari 50 negara telah membuktikan, bahwa disintegrasi bukan solusi bagi permasalahan ketidakadilan. Bahkan justru menjadi jalan pelemahan dan jalan penguasaan tanah dan kehormatan oleh penjajah yang sebenarnya. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top