Efektifkah, Budaya Sensor Mandiri?

Oleh : Siti Aisah, S. Pd

(Praktisi Pendidikan Subang dan Member AMK Jabar)

Timang timang anakku sayang

Jangan menangis bapak disini

Timang timang anakku sayang

Jangan menangis bunda bernyanyi

(Dipopulerkan oleh Anang-Krisdayanti)

Lirik lagu Timang-timang diatas setidaknya berisi nasihat orang tua kepada buah hatinya untuk berlaku jujur dalam menjalani kehidupan. Namun saat ini, tidak sedikit orang tua yang merasa galau dan khawatir akan perkembangan anak-anaknya. Mereka merasa sudah berusaha untuk mendidik dan memberikan pelajaran baik, serta mentitipkan anak-anaknya kepada sekolah ataupun lembaga keagamaan agar kelak dimasa depan ia menjadi seseorang yang berilmu dan berakhlak mulia.

Kekhawatiran orang tua saat ini dirasa wajar. Hal ini dikarenakan, masih ada anak-anak yang menjadikan tontonan sebagai salah satu aktivitas harian dikala pandemi. Dilansir dari laman kemenppa.go.id (04/11/2020) Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (PPPA) Bintang Puspayoga berpendapat bahwa bagi anak tontonan adalah tuntunan. Film bukan sekadar hiburan bagi anak, namun juga sebagai sumber informasi hingga fungsi budaya dan pendidikan. Anak-anak dapat meniru berbagai tokoh yang ditontonnya dan juga berperan dalam pembentukan tren yang kemudian menjadi panutan bagi mereka. Untuk itu, sangat penting bagi produsen dan lembaga sensor film memahami hal ini, sehingga film yang dibuat diharapkan benar-benar dapat memberikan nilai-nilai positif atau ramah anak. Acara seminar yang digelar virtual webinar ini diselenggarakan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) RI dengan tema Film dalam Perspektif Perlindungan Anak dan Hak Asasi Perempuan yang merupakan rangkaian kegiatan Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri.

Namun miris, upaya pemerintah yang dilakukan untuk menjaga akhlak masyarakat khususnya anak-anak. Hanya diserahkan kepada masing-masing individu dengan program Budaya Sensor Mandiri (BSM). Program ini diprakarsai oleh LSF. Tidak sekedar itu, lembaga itu pun melaporkan pada 2019 film dengan kategori "semua umur", yang diartikan ramah ditonton anak-anak hanya 10 persen hingga 14 persen. Jumlah anak penonton film tidak sebanding dengan jumlah film anak yang tersedia sehingga mereka beralih menonton genre film yang tidak sesuai dengan usia mereka. Ketua LSF Rommy Fibri Hardiyanto mengatakan Budaya Sensor Mandiri bertujuan agar masyarakat mampu memilah dan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia.

“Apalagi pada masa pandemi, masyarakat menonton apa yang disiarkan di rumah mereka, baik yang dikonsumsi secara bebas maupun berbayar,” tutur Rommy (antaranews.com, 04/11/2020).

Memang menonton TV adalah hiburan murah setiap harinya. Tindakan membiarkan anak menonton TV tiap harinya, dijadikan senjata agar anak bisa tenang dan tidak rewel. Jika rata-rata perhari anak menonton 3 jam maka ia menghabiskan 90 jam dalam sebulannya, dan 1080 jam dalam setahun. Namun, bagaimana jika dalam waktu 1080 jam tersebut, Sang buah hati menonton adegan kemusyrikan, kekerasan, ataupun asusila. Bisakah sebagai orang tua memfilter seluruh tontonan tersebut. Atas nama budaya sensor mandiri, efektifkah program ini membendung tontonan tidak layak tersebut agar anak tidak terpengaruh dengan hal demikian.

Seperti pada pemaparan diatas, bahwasanya tontonan layak anak porsinya tidak sebanding. Waktu primer diisi oleh adegan romansa anak sekolah yang jauh dari kata pengajaran. Sedangkan, kartun yang berlabel semua umur pun tidak dari unsur kemusyrikan. Ironisnya atas nama kebebasan berekspresi, bertingkah laku dan berpendapat hal seperti ini dibiarkan begitu saja. Perlu dipahami juga, anak akan membentuk perilaku dan kebiasaan sehari-hari dari setiap hal yang dilihat, didengar dan dirasakan. Sehingga lambat laun hal ini akan membentuk karakter Sang anak.

Orang tua akan berusaha memberikan pemahaman agama, contoh yang baik dalam keluarga, lalu memberikan pendidikan terbaik. Hal ini agar Sang anak akan tumbuh menjadi baik, tapi karena kesibukan ayah bunda seringkali membiarkannya agar asyik menonton TV sampai lupa akan waktu. Sehingga jika tontonan ini sangat berpengaruh, maka apabila sering menonton adegan yang negatif, kemungkinan bisa jadi anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang bermalas-malasan, berprilaku tidak sopan dan pembohong.

Sayangnya tanggung jawab untuk memfilter segala keburukan yang timbul dari hal tersebut dilimpahkan seluruhnya kepada individu masing-masing, lalu masyarakat dituntut untuk semakin kritis dalam memilah dan memilih film yang mereka akan tonton. Pemerintahan dalam hal ini mempunyai kewenangan untuk menutup akses film atau tontonan tersebut. Namun di balik itu, arah kemajuan industri film ditentukan oleh peran para sineas dan sinergitas antara pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Hal ini mengungkap akan kegagalan sistemik yang terjadi diantara keduanya dalam perlindungan anak. Sehingga membutuhkan perubahan mendasar. Namun apabila anak sudah kecanduan TV ataupun Gadget, hal ini akan menjadi ujian tersendiri bagi seorang ibu dan keluarga.

Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” [At Taghabun:14,15].

Menurut ustadzh Yanti Tanjung, berpendapat bahwa dari beberapa hal ini bisa dilakukan ketika ada diuji dengan anak:

1. Menerima itu sebagai qadha dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa baik buruknya datang dari Allah

2. Muhasabah diri, jika ada amal yang merupakan dosa-dosa kita segeralah bertaubat

3. Hadapi anak dengan sabar dan berupayalah berkomunikasi dengan baik sehingga anak mau terbuka dan berkata jujur

4. Maafkan kesalahannya dan tawarkan diri untuk membantunya keluar dari persoalan hidupnya

5. Dampingi anak selama masa membenahi diri dan lakukan penguatan-penguatan kepribadian Islamnya hingga kita yakin anak sudah benar-benar kembali pada Allah dan rasulnya.

6. Senantiasa mendoakannya untuk ketaatannya dan terhindarnya dia dari kejahatan baik dari jin dan manusia.

Wallahu a’lam bishshowab []

 
Top