Oleh : Hj. Ummu Fauzi

 Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Literasi

 


Iman dan Islam adalah salah satu anugrah  terbesar yang diberikan Allah Swt. kepada kita. Tentunya kita harus bersyukur atas semua itu dengan cara mempertahankannya dan memupuknya hingga mencapai keimanan yang sempurna dan paripurna agar bisa menikmati kelezatannya di dunia dan akherat.

Rasulullah saw. bersabda:

“Ada tiga hal, yang jika ketiganya ada pada siapa aja, niscaya dia akan merasakan kelezatan iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai  dari selain keduanya, dia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan dia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci dimasukkan kedalam neraka.” (HR al-Bukhari dan Muslim)


Kecintaan hamba terhadap Rabb-Nya dan Rasul-Nya adalah dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Wujud cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dengan melakukan ketaatan kepada syariat-Nya. Ketaatan kepada syariat-Nya harus di atas ketaatan pada selainnya, baik tokoh, cendekiawan, ajaran, aturan, paham, hukum, ideologi, dan lain-lain. Cinta kepada Allah Swt. harus dibuktikan secara nyata dengan mengikuti dan meneladani  Rasulullah saw., yakni dengan mengikuti risalah yang beliau bawa yaitu syariat Islam. Allah Swt. berfirman:

Katakanlah,”Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikuti aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.  Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS Ali Imron{3}: 31)


Bukti dari kebenaran dan kesempurnaan iman yaitu dengan meneladani dan mengikuti baginda Nabi saw. dengan menerapkan syariat yang beliau bawa secara keseluruhan. Syariat Rasulullah bukan hanya salat, zakat, puasa, ibadah  haji atau ibadah mahdoh lainnya. Tetapi ada  hudud seperti hukum untuk pelaku zina, pencuri, peminum khamar dan lain-lain. Semua itu hanya bisa dilaksanakan oleh negara.


Menjadikan Rasulullah saw. sebagai hakim sepeninggal beliau adalah dengan menjadikan syariat yang beliau bawa sebagai pemutus segala perkara dan menerapkannya secara nyata untuk mengatur segala urusan masyarakat. Wujud cinta kepada Rasulullah yaitu cinta kepada syariatnya.

Orang yang mengaku cinta kepada rasulullah saw., tetapi dia berpaling dari syariatnya, merendahkannya, membencinya apalagi memusuhinya dan mengkriminalisasi orang yang menyerukan penerapan syariat,  maka cintanya adalah bohong meski dia biasa memperingati Maulid Nabi saw. dengan meriah. 


Siapa yang mencintai Nabi saw., tentu tidak akan merasa nyaman dan tenteram tatkala Sunah beliau yakni thariqah, petunjuk yang beliau bawa ditinggalkan dan dicampakkan.

Jadi, kecintaan kepada Rasulullah saw. akan melahirkan kepada ketaatan kepada syariatnya. Ketaatan pada syariat akan menghasilkan kerinduan pada penerapannya yang akan melahirkan amal dan perjuangan untuk mewujudkan penerapan syariat secara kafah. Semua itu kunci untuk mendapatkan penjagaan dari Allah Swt. Rasul saw. berpesan:

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya engkau mendapati Allah di hadapanmu.” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad)


Jika suatu bangsa tidak menjaga Allah, tidak menjaga hudud-Nya, menelantarkan syariat-Nya, bahkan memusuhi orang-orang yang memperjuangkan penerapan hudud dan syariat-Nya maka Allah tidak menjaga umat atau bangsa itu. Akibatnya kerusakan tersebar luas, ketenteraman dan kemakmuran tak kunjung dirasakan, kehinaan melingkupi, jauh dari keberkahan dan kemurkaan Allah timpakan.


Agar  mendapatkan penjagaan dari Allah Swt. secara sempurna, umat Islam harus berjuang untuk mewujudkan penerapan syariat secara kafah dalam institusi khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. 


Wallahu a’lam bi ash-shawab.

 
Top