Oleh : Aminah Darminah

(Muslimah Peduli Generasi)


Kaum muslimin seluruh dunia marah akibat media satir Charli Hebdo di Perancis kembali menghina Rasulullah saw., majalah ini berani mempublikasikan gambar Rasulullah saw. dalam bentuk kartun. 

Sikap Presiden Perancis bukan meminta maaf justru memberi dukungan. Emmanuel Macron tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad. Ia berdalih hal tersebut merupakan bentuk dari kebebasan berekspresi, pernyataan sang presiden memicu kemarahan dunia Arab dan muslim. (Tribunnewsmaker.com, 27/10/2020) 

Dari dalam negeri kaum muslimin Indonesia ikut mengecam pernyataan Presiden Perancis, salah satunya dai kondang Abdul Somad ikut bereaksi atas isu yang menjadi perhatian dunia, melalui akun instagramnya UAS mengunggah keterangan. Dubes Perancis memohon kepada Grand Saikh Al-Azhar Syaikh Ahmad Thayeb agar membantunya untuk menghentikan gelombamg boikot produk-produk Perancis, namun beliau menolak permintaan tersebut. Syaikh Thayib mengatakan, "Kami tidak menerima negosiasi terkait kasus penghinaan terhadap Rasulullah saw. dan Macron harus segera meminta maaf." (Inews.id, 29/10/2020)

Sistem Demokrasi yang diadopsi negara-negara Barat menjamin kebebasan kepada warga negaranya, atas dasar kebebasan berekpresi musuh-musuh Islam menghina Rasulullah dan ajaran Islam. Kejadian ini terus berulang. Mirisnya, kaum muslimin tidak punya kekuatan untuk menghentikan pelecehan terhadap Rasulullah dan ajaran Islam. 

Aksi kaum muslimin hanya mengutuk perbuatan tersebut atau aksi boikot produk dari negara yang menghina Rasulullah. Secara nyata tidak ada kekuatan dari kaum muslimin untuk menghentikan secara total terhadap Penghinaan tersebut. Padahal, kaum muslimin seluruh dunia berjumlah kurang lebih 2,2 milyar, sayang jumlah tersebut bak buih di lautan.

Umat Islam saat ini seperti anak ayam kehilangan induknya, tidak memiliki pelindung, penjaga akibatnya umat ini bercerai berai, mudah difitnah, dipecah belah. Tidak ada yang mampu memberikan tindakan tegas terhadap pelaku penghinaan terhadap Rasulullah dan ajaran Islam, kejadian seperti ini akan terus berulang. Sekalipun secara individu kecintaan kaum muslimin terhadap Rasulullah tidak diragukan lagi, tetapi individu tidak akan mampu menghentikan penghinaan ini.

Sejarah sudah membuktikan betapa besar kecintaan para sahabat terhadap Rasulullah, pada saat perjanjian Hudaibiyah seorang utusan Qurais mengatakan, "Sesungguhnya aku pernah mendatangi kisra (Persia) di kerajaannya, kaisar (Romawi) di kerajaannya, dan Najasy di kerajaannya. Demi Allah, aku sama sekali belum pernah melihat seorang raja dalam satu kaum seperti Muhammad di tengah-tengah para sahabatnya. Sesungguhnya aku telah melihat suatu kaum (kaum muslimin)  yang selamanya tidak akan menyerahkannya (Muhammad) untuk suatu apa pun".

Syariat Islam memiliki mekanisme untuk memberikan hukuman kepada siapapun yang menghina Rasulullah sehingga memberikan efek jera. Pertama, jika penghinaan itu dilakukan oleh non muslim, maka negara akan memberikan saksi takzir berupa hukuman mati. Jika pelakunya muslim maka dihukum mati tanpa diterima pertaubatannya. 

Kedua, jika pelakunya level negara. Maka Islam memerintahkan penguasa kaum muslimin untuk melakukan jihad. 

Pada masa Utsmaniyah yaitu Khalifah Abdul Hamid II, Perancis penah merancang drama teater karya Voltaire yang menghina Nabi Muhammad saw. Pada saat itu Khalifah menyerukan perintah melalui dutanya di Perancis untuk menghentikan drama itu, jika tetap bersikukuh menyelenggarakan acara tersebut, maka kaum muslimin akan melakukan jihad melawan Perancis. Serta merta Perancis menghentikan acara tersebut.

Dari peristiwa ini membuktikan bahwa tindakan tegas sebuah negara untuk menghentikan penghinaan terhadap Rasulullah lebih efektif dibanding boikot, apalagi sekadar mengutuk.

Kecintaan kaum muslimin terhadap Rasulullah perlu dibuktikan secara nyata dengan bersungguh-sungguh mengembalikan institusi kaum muslimin yang runtuh sejak 1924. 

Rasulullah saw. bersabda: Hadis dari sahabat Abdullah bin Hisyam. Umar berkata kepada Nabi saw., "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku, maka Nabi saw. menjawab tidak demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu. Lalu Umar berkata kepada Nabi saw., sungguh sekaranglah saatnya demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku, maka Nabi saw. bersabda sekarang (engkau benar) wahai Umar." 

Demikianlah kecintaan para sahabat Rasulullah, mereka rela mengorbankan nyawa dan diri mereka sendiri untuk membela Rasulullah saw.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top