Oleh : Bani Hawanda

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Melihat kondisi seperti sekarang sungguh sangat miris. Begitu banyak peristiwa yang mendiskriminasikan umat lslam. Mulai dari penganiayaan terhadap ulama, penghinaan terhadap syariat Islam, juga kepada Nabi Muhammad saw.

Seperti apa yang terjadi baru-baru ini penistaan kepada nabi yang dilakukan berulang di Perancis. Bahkan mendapat dukungan penuh dari pemerintahnya, yakni Presiden Emmanuel Macron. Ia telah demikian lancang dan sengaja memasang karikatur penghinaan terhadap Nabi Muhammad di dinding-dinding gedung pemerintahan dan tempat-tempat umum di negara tersebut.

Tak hanya itu, arus islamofobia yang dihembuskan oleh penguasa Perancis tersebut telah menyulut kebencian warganya terhadap kaum muslim.

Hingga pada 18 Oktober 2020 terjadi peristiwa keji berupa penusukan dua orang muslimah di bawah Menara Eifell. Mereka ditikam beberapa kali hingga menembus paru-parunya hanya karena diketahui bahwa mereka muslimah dari jilbabnya. Bahkan pelakunya menyebut muslimah tersebut dengan panggilan "orang Arab kotor". (Republika, 22/10/2020)

Negara Perancis pun pada akhirnya menjadi 'musuh bersama' bagi umat Islam di seluruh dunia. Dan hal itu adalah wajar adanya.

Peristiwa-peristiwa seperti di atas tentunya membuat kaum muslim prihatin. Karena sesuatu yang begitu berharga telah dilecehkan dan dinistakan.

Kaum muslimin amat mencintai dan mengagungkan Rasulullah saw. Karena hal itu adalah salah satu gambaran manisnya iman. Sebagaimana dalam salah satu sabdanya,

"Ada tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman (di  antaranya): Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya ...." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sekalipun beliau telah tiada, bagi umat Islam akan tetap mencintainya, tentu dengan cara mengikuti ajarannya.

Adapun ketika ada di antara manusia yang berani dan lancang menista (istihza) kemuliaan Rasullulah saw., terdapat bukti nyata dari keterangan-keterangan Al-Qur'an dan hadis nabi, bahwasanya tindakan itu adalah haram dan termasuk dosa besar.

Sebagaimana firman-Nya:

"Sungguh  orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan akhirat, serta menyediakan bagi mereka siksaan yang menghinakan." (QS. al-Ahzab [33]: 5)

Konsekuensi hukumannya bagi para penghina nabi demikian tegas. Berupa hukuman mati dan hal ini telah menjadi kesepakatan di kalangan ulama dan para imam ahli fatwa mulai dari generasi sahabat dan seterusnya.

Dalam hukum Islam orang yang menghina nabi wajib dihukum mati dan halal darahnya.

Itu karena Nabi Muhammad saw. adalah subyek suci dalam agama Islam dan merupakan simbol utama Islam. Maka merendahkan kehormatan Nabi Muhammad saw. tentu terkategori penghinaan terhadap umat Islam secara keseluruhan.

Maka dari itu wajarlah di saat umat Islam marah ketika kehormatan nabinya dinista.

Dan penghinaan serta penistaan sampai kapan pun tak akan berhenti, jika umat masih berpegang pada prinsip busuk kebebasan ala demokrasi. Hanya dengan menerapkan syariat Islam kafah-lah kemuliaan Islam dan Nabi-Nya dapat dijunjung tinggi. Dimana tentu dibutuhkan institusi pemerintahan legal yang memberlakukannya. Para penista pun tak akan berani lagi melakukan kelancangan yang sama. 

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top