Oleh : Novriyani, M.Pd.

(Praktisi Pendidikan)


Penghinaan terhadap Rasulullah saw. yang dilakukan oleh Presiden Perancis membuat geram umat Islam seluruh dunia. Hal ini ditunjukkan dengan memboikot produk-produk Perancis. Seruan boikot produk-produk Perancis kian ramai di media sosial. 

Pemboikotan ini sebagaimana yang telah diserukan oleh sejumlah negara lain, seperti Turki, Qatar, Kuwait, Pakistan, dan Bangladesh. 

Seperti yang disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), selain aksi boikot, MUI juga meminta Presiden Perancis Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam se-Dunia. Selain itu, MUI juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk menekan dan mengeluarkan peringatan keras kepada Perancis dengan cara menarik sementara Duta Besar Republik Indonesia yang ada di Paris. "Mendesak kepala Mahkamah Uni Eropa untuk segera mengambil tindakan dan hukuman kepada Presiden Perancis atas tindakan dan sikap Presiden Emmanuel Macron yang telah menghina dan melecehkan Nabi Besar Muhammad saw." (KOMPAS.com, 31/10/2020)

Kemarahan umat Islam menyeru ke permukaan setelah Presiden Perancis Emanuel Macron mengatakan tak akan menarik karikatur tersebut. Bagi umat muslim potret Nabi adalah hal yang tabu. Karya karikatur Nabi Muhammad dianggap sebagai bentuk penghinaan dan serangan terhadap umat Islam. Perancis yang beraliran sekuler pun mendapat protes keras dari banyak pihak terutama komunitas muslim dan para pemimpinnya. Sekularisme memang tak bisa dipisahkan dari Perancis. 

Melalui akun media sosialnya twitter Presiden Emanuel Macron membela diri dan mengatakan tak akan menyerah dengan berbagai aksi protes tersebut dalam rangka menegakkan nilai-nilai kebebasan berekspresi yang dianut. (CNBC Indonesia, 27/10/2020)

Penghinaan terhadap Rasulullah saw. dan ajaran Islam bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, di tahun 2015 pun pemerintah Perancis telah menghina Rasulullah saw. dengan membuat karikatur Rasulullah saw. Hal ini dikarenakan sistem sekularisme yang dianut oleh Perancis yang memberikan kebebasan rakyatnya untuk berekspresi. 

Sekularisme merupakan akidah dari sistem kapitalisme. Sekularisme adalah paham pemisahan agama dari kehidupan, sehingga melahirkan kebebasan berekspresi (bertingkah laku). Kebebasan berekspresi inilah yang menciptakan kesempatan untuk menghina Islam dan Rasulullah saw. Sekularisme juga yang menjadi akar permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin. Karena sekularisme tidak menginginkan umat Islam bangkit di bawah naungan syariah Rasulullah saw.

Sudah sewajarnya umat Islam merasa marah dan geram atas penghinaan yang dilakukan oleh Presiden Perancis terhadap Rasulullah saw. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan kaum muslimin terhadap penghinaan tersebut. Pertama, kaum muslimin wajib memboikot produk Perancis, dalam hal ini tidak hanya kaum muslimin saja, akan tetapi seluruh elemen pemerintahan pun melakukan kerjasama dalam ekspor-impor barang atau produk-produk dari Perancis. 

Kedua, kaum muslimin wajib memutuskan hubungan diplomatik dengan Perancis, ketiga, kaum muslimin wajib berjuang menyatukan dunia Islam di bawah satu kekuatan politik Islam yaitu sistem politik Islam warisan Rasulullah saw.

Dalam Islam hukuman bagi penghina Rasulullah saw. ialah membunuhnya. Selain itu, Islam akan memberikan pelajaran yang setimpal terhadap penghina Rasulullah saw. Seperti yang pernah dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid yang mengancam akan menyerukan jihad fii sabilillah terhadap Perancis jika mereka tetap membolehkan pertunjukan drama Voltaire yang menghina Rasulullah saw. Seperti yang disampaikan oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya, “Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, maka ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad) 

Dengan demikian, siapapun tidak akan berani untuk menghina  Rasulullah saw. dan ajaran Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top