Oleh : Titin Hanggasari

(Muslimah komunitas WCWH)


Sudah ke sekian kali ide pemikiran sistem peradaban sekuler ini, sangat membebani manusia. Peradaban ini hanya menciptakan kemiskinan, peperangan, penyakit mematikan, serta perselisihan antar umat. 

Seperti yang terjadi sekarang ada 57 negara yang berpenduduk muslim mengecam, memboikot produk Perancis. Atas penghinaannya yang kian menjadi, terhadap Rasulullah junjungan dan insan terbaik di muka bumi ini. 

Lalu bagaimana sikap Perancis sendiri? Sikapnya adalah kekeh, yang tak lain dan tak bukan, tetap mempertahankan pemikirannya yang sekuler, yang hanya mengondeli Perancis adalah tempat pencetus paham sekuler liberalisme berasal. Yakni seolah terpanggil menjadi pewaris sejati dari sistem demokrasi sekuler ini. Bahkan dengan arogan, lantang dan menantang Presiden Perancis menyatakan, “Saya tidak takut terhadap kemarahan umat Islam, Perancis tidak akan mundur membela freedom of expression.” Beginilah sesungguhnya wajah asli dari peradaban ini.

Bagaimanakah kiranya sikap umat Islam seharusnya? Menerima tantangan ini terhadap penghinaan kepada Nabi Saw.? Dengan sikap dan kebebasannya yang akan mempengaruhi dunia? Cukupkah dengan boikot produk-produknya?

Sekiranya pemboikotan produk-produk Perancis hanyalah kecil pengaruhnya, ketimbang penghinaan yang kian tak bertepi dan semakin terulang berkali-kali. Bahkan tak akan jera semakin melebarkan sayap menghina dalam kebebasannya, makin terus dilakukan demi mempertahankan karakter nilai-nilai individualnya. 

Berdasarkan sikap Perancis yang tak takut akan kemarahan seluruh umat muslim di dunia ini, begitu kerasnya mereka mempertahankan ideologi demokrasi sekulernya, kebebasan yang kebablasan, maka umat muslim harus bersatu dengan jurus perlawanan yang sama yakni terapkan ideologi Islam, sebagai pengimbang boikot produk ideologi sekulernya. Dimana ideologi harus dilawan dengan ideologi juga. Mereka siang malam tiada henti menggencarkan kebatilan saja merasa jumawa. Mengapa kita tidak bangga memperjuangkan yang haq kebenarannya.

Berarti semangat dan boikot saja tidak cukup. Hal ini bisa terlaksana jika ada negara yang mewadahinya. Institusi ini mempunyai sarana dan kekuatan diplomasi, kekuatan ekonomi dan kekuatan militer sebagai benteng kekuatan penghentian penghinaannya. 

Di sisi lain, sesuai dengan pernyataan Presiden yang sangat menantang, Umat harus mengambil sikap bersama. Seperti dalam sejarah, ketegasan dan sifat pemberani dari Khalifah Sultan Hamid II menggebrak pemerintah Perancis untuk menghentikan drama voltaire, dengan menyeru ke seluruh penjuru umat muslim untuk melakukan jihad, maka saat itu baru berhenti.

Nyatanya, hingga saat ini Perancis belum bisa berhenti melakukan penghinaannya, walau mendapatkan  protes keras dari seluruh dunia. Sayang seribu sayang jika protes ini hanya berlangsung sebagaimana gebyar greget sesaat saja dan kebencian yang tidak solutif. Sebaiknya harus dilanjutkan agar benar-benar berlangsung secara efektif. Apalagi ini menyangkut kemuliaan pribadi Nabi Muhammad saw. Maka seruan ini baru efektif bila benar-benar dijalankan, terlebih Perancis sudah jelas-jelas berani menantang umat Islam dengan ideologi dan kebebasannya.

Maka saatnya boikot produk pemikiran sekulernya menggantikan pemikirannya dengan pemikiran dan sistem Islam. Pemboikotan produk sekulerlah cara yang lebih tepat, serta penerapan hukum Islam yang membuat jera pelakunya, yakni hukuman mati. Sehingga bisa menghentikan pelaku yang ingin mengulangi perbuatannya, penghinaan terhadap Rasul dan menyakiti umat muslim. Kini umat sudah rindu untuk kembali pada habitat kehidupan Islam yang mulia. Di bawah naungan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah ala Minhaj Nubuwwah.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top