Penulis : Sri Indrianti

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Bulan Rabiul awal disambut gegap gempita oleh kaum muslimin. Perayaan Maulid Nabi digelar di berbagai pelosok tanah air. Gema selawat pun membubung tinggi memenuhi jagad raya. 

Perayaan maulid di tengah pandemi memberikan sensasi tersendiri. Rasa rindu akan Rasulullah semakin membuncah. Terlebih dengan kondisi negeri yang semakin karut marut ini. 

Penguasa yang abai dengan kondisi rakyatnya. Bahkan kerap mengibaratkan rakyat sebagai pembeli yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah dan memperkuat kedudukannya di singgasana. Bagaimana tidak, segala celah dicari demi mendapat recehan dari uang rakyat. 

Kondisi ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan penguasa negeri ini pada peringatan Maulid Nabi tingkat Kenegaraan yang digelar secara virtual pada hari Kamis, tanggal 29 Oktober 2020. Beliau mengatakan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah. Salah satunya dengan peduli terhadap lingkungan sekitar. Siapapun yang membantu melepaskan kesulitan orang lain pasti kesulitannya pun akan dilepaskan oleh Allah Swt. (portaljember.com, 29/10/2020)

Ajakan tersebut semestinya menunjuk penguasa sendiri. Selama ini kepedulian kondisi tidak ditampakkan ke masyarakat. Justru di tengah pandemi dengan perekonomian serba sulit, masyarakat masih harus bersusah payah mencari rupiah untuk membayar berbagai biaya yang mencekik. Kenaikan iuran BPJS, tarif listrik yang tak bisa dikompromi, biaya pendidikan yang terus bergulir meski pandemi hanyalah beberapa dari sekian banyak  kebutuhan yang mesti dipenuhi masyarakat. 

Bagaimana bisa mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan sekitar jika yang berucap tak melaksanakannya? Bahkan banyak yang mengeluhkan bantuan sosial yang diberikan pemerintah tidak tepat sasaran atau malah ada yang berlaku curang dengan mengurangi jatah bantuan sosial tersebut. Sedangkan masyarakat tanpa ajakan pun sudah melakukan berbagai tindakan sigap untuk membantu lingkungan sekitar yang kekurangan. 

Betapa menyedihkan kondisi masyarakat di negeri ini. Perayaan Maulid Nabi yang hanya sekadar seremonial tanpa esensi menambah deret panjang problematika yang mendera. Selawat dan ucapan rindu serta meneladani Rasulullah hanya sebatas bibir tanpa meresap ke hati dan perbuatan.

Semestinya momen Maulid Nabi digunakan sebagai ajang bagi penguasa muhasabah diri dalam mengurusi rakyat. Sudahkah secara tuntas tanpa ada pengecualian semua urusan masyarakat diselesaikan? Sudahkah melakukan apa yang dicontohkan Rasulullah dalam menjalankan pemerintahan? 

Meneladani Rasulullah tak bisa dengan hanya melakukan sebagian kecil dan meninggalkan sebagian besar yang lain. Menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan mestinya dengan melaksanakan semua ajaran yang dibawa yakni melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena Islam bukanlah sajian prasmanan yang bisa dipilih sekehendak hati.

Kelak di hari pertanggungjawaban tak ada yang bisa menyelamatkan manusia kecuali syafaat dari Rasulullah. Syafaat yang insyaallah bisa diperoleh bagi umat Nabi Muhammad yang senantiasa taat. 

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31)

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top