Penulis : Dian Fitriani

(penggiat dakwah media literasi)


Umumnya manusia belajar dari pengalaman, sehingga kesalahan di masa lalu jangan sampai dilupakan begitu saja atau bahkan terulang. Namun pelajaran dari sejarah ini tidak diambil oleh ormas Islam terbesar di tanah air ini, Nahdatul ulama, atau disingkat dengan NU.

Mungkin kita masih ingat tragedi pembakaran bendera tauhid 2 tahun silam dalam rangka memperingati hari santri yang seharusnya menanamkan memori dengan acara religi dan sejenisnya namun Banser NU lebih memilih menodai simbol agama Islam, ketika seharusnya kita menjadikan hari santri sebagai syiar agama, justru diisi dengan ritual penodaan agama.

Mirisnya, hal itu bukan dilakukan oleh sekelompok orang dari non muslim, akan tetapi hal itu dilakukan oleh oknum Banser yang kita tahu kelompok itu di bawah naungan ormas Islam terbesar di Indonesia.

Tahun berikutnya, seolah tak mau absen dari agenda kontroversi, Ormas Islam yang satu ini lagi-lagi mengulang sejarah buruk, kejadian pembakaran bendera tauhid belum bisa terhapus di memori umat, namun sudah ditambah lagi dengan pembuatan film religi yang berbau pluralisme dan liberalisme, yang lagi-lagi dalam rangka memperingati hari santri.

Siapa yang tidak tahu dengan film "The Santri" disutradarai oleh sutradara yang katanya setingkat sutradara Hollywood tapi lucunya, bikin gempar se-Nusantara. Livi Zheng, nama yang jelas bukan dari pribumi, sudah cukup membuat masyarakat sentimen, ditambah lagi dengan dirinya yang bukan muslim, tentu mengundang tanda tanya umat, mengapa bisa non muslim menyutradarai film religi Islam? Ini bukan untuk menyingung sara, tapi bukankah seharusnya film mengandung pesan Islam maka tentu dari penulis naskah, pemain hingga sutradara pun akan lebih baik jika beragama Islam?

Apakah ini bentuk toleransi yang sebenarnya?

Ataukah hanya definisi toleransi yang dikemukakan dan dikembangkan oleh ormas Islam terbesar ini?

Film ‘The Santri’ karya sutradara kontroversial Livi Zheng kabarnya akan rilis pada Oktober 2019. Namun di tengah perilisan trailernya, sudah mengundang cuitan warganet, baik komentar hingga reaksi para tokoh terhadap cuplikan film tersebut.

Alih-alih terkenal dan sukses menjamah seluruh bioskop di Indonesia, film religi yang disutradarai oleh Livi Zheng ini, justru gagal tayang dan bahkan mendapat kecaman dari berbagai lembaga dan ormas Islam.

Seolah belum cukup, umat dibuat miris, tahun ini tak mau absen, NU membuat film pendek yang lagi-lagi mengundang amarah umat dan riuh cuitan netizen.

Film pendek berjudul "My Flag vs Radikalisme" ini berdurasi 9 menit, diawali dengan adegan para santri yang membagikan bendera ke penduduk, dan belajar bersama Gus Muwwafiq, hingga adegan yang paling kontroversi adalah bentrok antar santri NU dengan santri bercelana cingkrang dan bercadar.

Herannya, yang seharusnya film nasionalis ini memiliki adegan perlawanan terhadap penjajah, negara asing dan semisalnya. Namun NU lebih memilih adegan perlawanan antar santri yang notabenenya masih satu agama dan tentu satu bangsa.

Bukankah ini justru mengundang tanda tanya? Apakah benar mereka para santri bercadar dan bercelana cingkrang adalah musuh sebenarnya negeri ini?

Apakah kita lupa? Bahwa sumber daya alam kita sedikit demi sedikit telah dieksploitasi oleh negara asing.

Apakah kita lupa? Dulu penjajahan  yang terjadi hingga 3 abad lamanya dan yang menjajah Nusantara adalah mereka para serdadu Belanda.

Apakah kita lupa? Bahwa dulu dengan semangat jihad, para santri dan syuhada berjuang membela bangsa hingga dapat kita merasakan kemerdekaan seperti sekarang?

Jika tidak lupa, lantas mengapa berpura-pura lupa dengan sejarah, dan kini umat justru dibentur-benturkan dengan cinta negara?

Apakah ketika kita cinta agama lantas kita tak bisa cinta negara, dan begitupun sebaliknya? 

Maka tentunya Pesan yang terkandung dalam film ini akan sangat membahayakan kesatuan dan keutuhan umat Islam, terlebih di dalamnya ada dialog sang tokoh dengan kalimat yang cukup merusak akidah. Yaitu kalimat yang berbunyi “Sejauh mana kau mencintai negerimu, maka sejauh itu pula imanmu” dalam kalimat ini terkandung bahwa kecintaan kita terhadap negeri di atas segalanya, seolah cinta terhadap negeri adalah hal prioritas yang tentu saja ini bertentangan dengan akidah Islam yang mengajarkan bahwa cinta terhadap Allah dan Rasulnya tentu adalah hal paling utama di atas cinta kepada apa pun apalagi terhadap negara yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keimanan kita.

Dewasa ini, masyarakat lebih sering menelan media penggiring opini guna membangun framing dan stigma buruk terhadap sesuatu, namun belakangan ini, Islam lah yang paling sering menjadi objek terhadap agenda penodaan citra.

Kini di negeri dengan mayoritas muslim terbanyak di dunia, Islam dianggap agama yang tidak mencintai perdamaian, agama intoleran bahkan agama teroris. Namun stigma itu muncul bukan karena ajaran Islam yang demikian melainkan opini yang memang sengaja dibangun baik oleh sekelompok orang yang membenci Islam maupun oleh pemerintah itu sendiri.

Mirisnya agenda deislamisasi ini justru bukan dijalankan oleh orang yang berbeda agama melainkan mereka yang muslim dan bahkan oleh ormas Islam ternama yakni nahdatul ulama. Maka kita sebagai umat muslim harus lebih bijak dalam memilah informasi, dalam Islam kita bahkan mengenal istilah tabayyun, yang berarti kita wajib mengecek informasi terkait kebenaran dan relevan dengan fakta, juga menghindari informasi yang masih “qiila, wa qoola” atau dalam istilah setempat kita kenal dengan “dari mulut ke mulut” yang berarti kita dilarang menelan mentah-mentah informasi yang belum jelas, hanya mendengar dari orang lain tanpa tabayyun terlebih dahulu lantas mengambil kesimpulan, terlebih kini teknologi informasi yang semakin pesat membuat kita mudah mengakses berita, baik yang valid dan sesuai fakta maupun berita bohong (hoax).

Di samping maraknya penodaan citra Islam lewat media, umat kini seperti berada di tengah laut yang dilanda ombak dan terombang-ambing di dalamnya, bagaimana tidak? Umat muslim yang taat syari’at justru dinilai intoleran dan radikal, sedangkan di lain sisi ada sekelompok orang yang memonopoli makna toleransi, mereka bermanis muka dengan non muslim, namun bermasam-pasi dengan sesama muslim, mereka beramah-tamah dengan non muslim namun mereka dengki dan marah dengan sesama muslim. Definisi toleransi yang mereka agung-agungkan, yang mereka teriak-teriakan justru memecah belah umat sesama muslim. Mereka yang mengaku paling toleransi justru tanpa sadar telah memutilasi agamanya sendiri, memotong-motong keimanan dan keyakinan mereka, mereka yang menginginkan kerukunan umat beragama namun dengan cara menindas agamanya sendiri justru membuat kerukunan antar umat beragama semakin jauh bak fatamorgana. Sederhananya, dengan umat sesama muslim, yang memiliki akidah, kitab suci dan Rasul yang sama saja mereka musuhi dan mereka benci lalu bagaimana terhadap mereka yang berbeda keyakinan. 

Allah Swt. berfirman dalam surah al-fath ayat 29 : مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”.

Maka dari ayat di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka para pengikut Rasul serta orang-orang yang membersamai Rasul adalah mereka yang senantiasa berkasih sayang terhadap sesama muslim dan keras terhadap mereka yang kafir, bukan justru sebaliknya. 

Inilah yang lantas menjadi pertanyaan yang membenak dalam diri umat, sebenarnya apa makna toleransi? Apakah mereka yang menganggap semua agama benar adalah mereka yang bertoleransi? Jika iya maka tentu tak ada bedanya toleransi dengan mutilasi agama. Mutilasi agama yakni memisahkan cara beragama dengan beragama, yang tentu akan sangat kontra-produktif dengan agama Islam yang mana telah mengatur segala urusan umatnya baik ruang lingkup individu, masyarakat bahkan bernegara, maka akan sangat tidak mungkin Islam tidak mengajarkan bagaimana hidup beragama serta kerukunan antar umat beragama, justru dengan Islam lah kerukunan dan kedamaian bisa terwujud, bukan malah dibentur-benturkan dengan cinta tanah air dan sebagainya, seolah jika kita menjalani syariat berarti kita tak mencintai negara dan intoleransi. Inilah yang menjadi tugas umat untuk menyamakan definisi toleransi agar tidak memutilasi agama.

Mengutip kata-kata dari Najmah Saidah yang merupakan salah seorang pendakwah muslimah, beliau berkata, “Bagaimana mungkin Islam sebagai din syamilan wa kamilan, yang datang dari Allah Swt. dianggap tidak mengatur bagaimana cara beragama umatnya?”

Semoga kita dapat mewujudkan toleransi yang sesungguhnya lewat edukasi Islam dan penegakan syariat Islam, dan menjadi bagian yang berjuang di dalamnya. Aamiin.

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top